<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816</id><updated>2012-01-30T15:51:43.604-08:00</updated><category term='Menulis'/><category term='Ekonomi'/><category term='Pendidikan'/><category term='Buku'/><category term='Sosial'/><category term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Economist</title><subtitle type='html'>Membangun Indonesia Cerdas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>108</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-2125446245223714409</id><published>2012-01-21T19:54:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T19:54:06.999-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Kelas Menengah dan Perilaku Konsumtif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-f1HyUiZum64/Tu9vndbrGEI/AAAAAAAAFAI/owZwMM1f8f4/s1600/seksi_3%255B1%255D.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://3.bp.blogspot.com/-f1HyUiZum64/Tu9vndbrGEI/AAAAAAAAFAI/owZwMM1f8f4/s400/seksi_3%255B1%255D.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mengalami pertumbuhan ekonomi minus 13,13 persen akibat krisis tahun 1998, Indonesia terus mencatat pertumbuhan positif rata-rata 5 persen sejak tahun 2000. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif sejak tahun 2000 melahirkan masyarakat kelas menengah. Geliat ekonomi ini telah memunculkan sekitar 9 juta warga kelas menengah baru setiap tahunnya. Kategori kelas menengah, menurut Bank Dunia, adalah mereka yang membelanjakan uangnya&amp;nbsp; sebesar&amp;nbsp; 2 dolar sampai 20 dolar AS per hari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat kelas menengah ini diharapkan bisa menjadi semacam bemper ekonomi dari terjangan krisis&amp;nbsp; global. Konsumsi mereka yang menyumbang 70 persen dari pertumbuhan ekonomi&amp;nbsp; diharapkan menggerakkan perekonomian Indonesia agar terus bertumbuh.&lt;br /&gt;Laporan Bank Dunia menyebutkan, jumlah kelas menengah di Indonesia saat ini sekitar 56,5 persen dari total jumlah penduduk. Menurut Sensus Penduduk 2010, penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta. Berarti, jumlah kelas menengah dengan pengeluaran per hari 2 dolar&amp;nbsp; AS&amp;nbsp; (sekitar Rp. 18.000,-) sampai dengan&amp;nbsp; 20 dolar AS&amp;nbsp; (sekitar Rp.180.000,-) tidak kurang dari 134 juta orang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berkembangnya jumlah kelas menengah Indonesia secara pesat bukan melulu karena pertumbuhan ekonomi. Gaji pegawai negeri sipil dan swasta yang naik secara gradual juga mendorong tumbuhnya kelas menengah ini. Demikian juga perkembangan pekerjaan pada sektor telekomunikasi, penerbangan,&amp;nbsp; pertambangan, dan perkebunan yang tumbuh cepat ikut mendongkrak bertambahnya kelas menengah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perilaku Konsumtif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari 134 juta orang jumlah&amp;nbsp; kelas menangah, sekitar 14 juta orang masuk ke dalam rata-rata pengeluaran 6 dolar sampai 20 dolar AS per hari. Sebanyak&amp;nbsp; 68 persen atau sekitar 91 juta orang lainnya merupakan kelas menengah bawah, dengan pengeluaran 2-4 dolar AS per hari. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Nafsu kelas menengah untuk berbelanja ternyata sangat besar. Bahkan masyarakat kelas menengah ini memiliki gaya tersendiri dalam berbelanja. Masih menurut Bank Dunia, nilai uang yang dibelanjakan kelas menengah Indonesia sangat&amp;nbsp; fantastis. Belanja pakaian dan alas kaki tahun 2010 mencapai Rp.113,4 triliun. Belanja rumah tangga dan jasa sebesar Rp.194,4 triliun, belanja di luar negeri Rp.50 triliun, dan biaya transportasi Rp. 283,6 triliun. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_mQmHIos67so/SS6WKgS8xzI/AAAAAAAAAeo/AdY_ksWd9b8/s400/credit-card-cutup-main_Full.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="265" src="http://3.bp.blogspot.com/_mQmHIos67so/SS6WKgS8xzI/AAAAAAAAAeo/AdY_ksWd9b8/s400/credit-card-cutup-main_Full.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut, data Bank Indonesia menunjukkan, jumlah transaksi menggunakan kartu kredit dalam periode 2005-2010 naik 2,5 kali lipat sehingga menjadi Rp.161,4 triliun. Ada 6,7 juta orang yang memegang kartu kredit. Kecenderungan peningkatan konsumsi dan transaksi menggunakan kartu kredit ini harus dikendalikan agar tidak kontraproduktif. Jika konsumen terjebak dalam nafsu konsumtif yang berlebihan sehingga&amp;nbsp; terjerat utang, bukan tidak mungkin kelas menengah ini bakal jatuh ke jurang kemiskinan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ekspektasi peningkatan penghasilan pada tahun-tahun mendatang diyakini&amp;nbsp; akan terus mendorong konsumsi. Kini, konsumsi berperan 70 persen atas produk domesti bruto (PDB). Hal ini dibenarkan oleh pengamat ekonomi, Tony Prasetiantono, yang mengatakan bahwa struktur perekonomian Indonesia menunjukkan konsumsi berperan sangat besar, yakni sekitar 70 persen. Disebutkan, menguatnya kelas menengah ini berdampak positif pada peningkatan permintaan tidak saja pada jasa penerbangan dan telekomunikasi, bahkan juga otomotif. Ini memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Potensi pertumbuhan masyarakat kelas menengah masih terbuka di tahun 2012. Pemerintah memprediksi pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sekitar 6,7 persen. Dengan asumsi ekonomi makro, pertumbuhan ekonomi 1 persen akan menciptakan 450.000 lapangan kerja baru. Akan&amp;nbsp; tercipta peluang untuk mendapatkan pekerjaan bagi mereka yang menganggur. Dan,&amp;nbsp; mereka akan&amp;nbsp; sangat potensial menjadi kelas menengah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mesti Terkontrol&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah di Indonesia merupakan sesuatu yang positif. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan relatif membaiknya tingkat pendapatan dan kesejahteraan sebagian masyarakat Indonesia. Akan tetapi, tetap harus diperhatikan bahwa 68 persen dari kelas menengah yang ada atau sebanyak 91 juta yang termasuk kelas menengah di level bawah dengan penghasilan 2-4 dolar AS. Jika perilaku konsumtif mereka menjadi-jadi dan tidak terkontrol, dapat dipastikan mereka akan terlibat utang. Apalagi dibarengi dengan kebiasaan berbelanja dengan kartu kredit yang bisa membuat penggunanya&amp;nbsp; tanpa sadar membelanjakan uangnya hingga&amp;nbsp; terkuras habis. Hukum Engle yang menyebutkan, bahwa elastisitas pendapatan terhadap permintaan nonmakanan lebih besar dari 1. Kenaikan pendapatan per kapita sebesar 1 persen akan meningkatkan permintaan konsumsi nonmakanan lebih dari 1 persen. Perilaku konsumtif&amp;nbsp; terjadi kini seakan membuktikan kebenaran&amp;nbsp; Hukum Engle itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kecenderungan konsumtif akan lebih dipersubur oleh adanya pasar global yang membuka perdagangan antarnegara yang kian masif. Indonesia bakal terus diguyur dengan produk-produk impor melihat besarnya kelas menengah dan sifat konsumtif mereka. Dengan pola hidup konsumtif yang bertemu dengan ketersediaan barang-barang impor, bukan mustahil kelas menengah akan tanpa banyak pikir dalam&amp;nbsp; membelanjakan uangnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mengapa kelas menengah ini cenderung berbelanja tidak terkontrol? Pertama, mungkin lantaran mereka merasa perlu merayakan kebebasan setelah lama terkungkung di dalam penderitaan sebagai orang melarat. Kedua, barangkali karena keinginan untuk unjuk kekayaan dengan membeli barang-barang peralatan rumah tangga, otomotif, telepon seluler terbaru, dan sebagainya. Mereka ingin menunjukkan kepada orang lain bahwa status sosial mereka sudah berubah. Tidak lagi masuk kelas masyarakat miskin, melainkan sudah masuk kelompok berpunya dengan kepemilikan harta-benda itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Peningkatan pendapatan cenderung menggeser pola berbelanja, dari “kebutuhan” ke arah “keinginan”. Mencermati kecenderungan ini, maka kelas menengah&amp;nbsp; mesti hati-hati dan&amp;nbsp; mampu menahan nafsu berbelanja agar tidak mengeluarkan uang sekadar untuk&amp;nbsp; memenuhi keinginan, bukan kebutuhan yang sesungguhnya. Hal ini&amp;nbsp; harus benar-benar dilakukan jika tak ingin kelas menengah ini, terutama yang paling riskan adalah kelas menengah dengan&amp;nbsp; pengeluaran 2-4 dolar per hari, terpelanting dan jatuh miskin karena lebih besar pasak daripada tiang! &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal positif yang bisa dilakukan oleh kelas menengah daripada sekadar memenuhi nafsu komsumtifnya. Pertama, meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat miskin. Pergeseran posisi ekonomi secara vertikal yang dicapai seyogianya juga meningkatkan kepedulian kelas menengah terhadap masyarakat miskin. Jangan hendaknya masyarakat kelas menengah hanya berkutat pada kepentingan sendiri dan menutup mata terhadap kondisi kaum miskin di sekitarnya. Dengan tumbuhnya kepedulian, maka mereka&amp;nbsp; ikut&amp;nbsp; berperan dalam membantu masyarakat miskin terlepas dari keterpurukannya sekaligus mempersempit kesenjangan ekonomi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kelebihan pendapat itu sebaiknya sebagian ditabung. Seperti dinyatakan ekonom Muhammad Chatib Basri, bahwa tabungan yang berlimpah akan membuat biaya investasi turun dan&amp;nbsp; pada gilirannya akan mendorong investasi. Ajakan ini sejalan dengan pesan lirik lagu bernada canda Titiek Puspa tempo dulu:&amp;nbsp; “bang bing bung yuk kita&amp;nbsp; ke bank/ bang bing bung yuk kita nabung/ tang ting tung he, jangan dihitung/tahu-tahunya kita pasti dapat untung.” &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-2125446245223714409?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/2125446245223714409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/kelas-menengah-dan-perilaku-konsumtif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2125446245223714409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2125446245223714409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/kelas-menengah-dan-perilaku-konsumtif.html' title='Kelas Menengah dan Perilaku Konsumtif'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-f1HyUiZum64/Tu9vndbrGEI/AAAAAAAAFAI/owZwMM1f8f4/s72-c/seksi_3%255B1%255D.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7465518844940771788</id><published>2012-01-21T19:48:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T19:48:22.130-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Empat Sifat Utama Manusia Kreatif</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_j7L5xnwSzTI/Si9bNV7M2XI/AAAAAAAAAJU/U3CrO-h4Fu8/s320/2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="381" src="http://3.bp.blogspot.com/_j7L5xnwSzTI/Si9bNV7M2XI/AAAAAAAAAJU/U3CrO-h4Fu8/s400/2.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah sudah mengidentifikasi lingkup industri&amp;nbsp; kreatif yang mencakup 14 sektor, yakni permainan interaktif, piranti lunak (software), periklanan, riset&amp;nbsp; dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Usaha memajukan sektor ekonomi kreatif Indonesia memerlukan insan-insan yang kreatif. Unsur kreativitas inilah yang menjadi modal utama bagi terlahirnya produk-produk kreatif sebagai hasil daya cipta dan karsa manusia. Tanpa kreativitas, maka hasil karya akan monoton, bahkan mungkin tak laku lagi di pasaran. Kreativitas menjadi unsur penentu bagi keberlanjutan hidup industri-industri kreatif untuk menyokong tumbuhnya ekonomi kreatif di negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Joseph G. Mason (1999) mengatakan&amp;nbsp; bahwa semua penelitian mengenai apa yang menyebabkan seseorang menjadi kreatif menunjukkan empat sifat utama. Beberapa eksperimen memperlihatkan bahwa keempat sifat ini bisa diperoleh atau dikembangkan ke suatu tingkat pada setiap individu.&amp;nbsp; Keempat sifat utama manusia kreatif sebagaimana disebut Joseph G. Mason meliputi: kepekaan terhadap masalah, membuka aliran gagasan, menemukan orisinalitas/keaslian, dan memegang fleksibilitas kreatif. &lt;br /&gt;Kepekaan terhadap masalah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Setiap apapun yang dikerjakan dan dihasilkan manusia, tak pernah mencapai kesempurnaan. Selalu saja ada kekurangan, selalu saja ada cacat-celanya. Pada setiap produk, senantiasa bisa dilihat mengenai “apa yang bisa diperbaiki”. Dengan landasan pemikiran seperti ini, maka akan dapat diselidiki ‘apa masalah’ yang masih ada pada suatu produk. Kalau produk itu berupa patung, misalnya, maka pertanyaannya yang muncul diantaranya: bagian detail mana yang bisa disempurnakan sehingga hasilnya akan lebih baik lagi ke depan? Kalau itu produk fotografi: bagaimana memanfaatkan teknik yang lebih baik agar foto yang dihasilkan pun lebih bagus? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Menurut Joseph G. Mason, cara termudah untuk memperbaiki kepekaan terhadap masalah sebenarnya sederhana saja, yaitu dengan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang sudah dikerjakan&amp;nbsp; dengan sempurna. Setiap artikel yang dibuat manusia, setiap operasi bisnis, setiap teknik hubungan manusia, selalu bisa diperbaiki dan pada suatu hari akan berubah menjadi lebih baik. Jika orang dapat mengenali masalah-masalah ini sebagai suatu tantangan bagi upaya kreatifnya, ia akan berada di separuh jalan untuk menemukan pemecahan kreatif. &lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;Membuka Aliran Gagasan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang sejatinya dapat mengumpulkan sejumlah besar alternatif pemecahan terhadap suatu masalah tertentu dalam kurun waktu tertentu. Semakin banyak gagasan yang dimiliki, semakin besar kesempatan untuk menemukan pemecahan terbaik yang dapat digunakan. Di samping itu, akan kian terbentang peluang untuk menghindari cara-cara lama dalam mengerjakan segala sesuatu. Hal-hal yang bisa dilakukan untuk kelancaran aliran gagasan, yaitu: pertama, membuat catatan.&amp;nbsp; Membuat catatan sudah jamak diketahui dan dipraktikan. Jenis catatan yang harus dibuat adalah yang menangkap setiap gagasan liar. Catatlah segera, tuliskanlah di selembar kertas atau buku yang tersedia. Catat pula pendapat kita terhadap semua masalah yang kita&amp;nbsp;&amp;nbsp; pikirkan.&amp;nbsp; Termasuk mencatat segala sesuatu yang diperkirakan berguna di masa depan, betapapun tampak kecilnya kemungkinan itu.&amp;nbsp; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tes psikologi tentang kemampuan mengingat sesuatu, menyebutkan: kecepatan lupa adalah 25 persen dalam 24 jam pertama, 85 persen dalam satu minggu. Karena itu, membuat cacatan untuk membantu mengingat menjadi sangat masuk akal. Sistem apapun yang dibuat, sasarannya adalah untuk dapat dengan cepat mengumpulkan dan menemukan kembali segala sesuatu yang telah kita lihat, baca, dengar, atau alami sebelumnya. &lt;br /&gt;Kedua, menemukan waktu kreatif. Setiap orang memiliki jumlah waktu yang sama, yakni 24 jam dalam sehari. Dalam siklus waktu itu, ada saat-saat di mana seseorang menemukan puncak-puncak kreativitasnya, entah pagi, siang, sore, ataupun malam hari. Pada saat-saat itulah dia menjadi begitu kreatif dalam berpikir. Banyak ide-ide lahir pada waktu-waktu tertentu. Itulah saat yang disebut dengan puncak kreatif seseorang. Inilah karunia Tuhan yang tiada duanya, yang pantas dimanfaakan untuk melahirkan gagasan kreatif. Sia-sialah kalau seseorang yang dikaruniai waktu-waktu kreatif tetapi tidak memanfaatkannya dengan baik, malahan memilih berleha-leha. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Siklus kreativitas setiap orang berbeda-beda dan harus diketemukannya sendiri. Setelah menemukan puncak waktu kreatif itu, lalu manfaatkan untuk memikirkan pemecahan masalah dengan tujuan mendapatkan gagasan. Jika dipandang perlu,&amp;nbsp; gunakan lokasi atau ruang yang&amp;nbsp; khusus dan sama&amp;nbsp; dalam setiap waktu kreatif ini. Suasana lingkungan yang mendukung bisa membantu pendakian ke puncak kreativitas dus menghasilkan gagasan-gagasan berharga . &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ketiga, menentukan batas waktu. &lt;/b&gt;Menjadi sifat manusia untuk menunda-nunda penyelesaian masalah. Kalau&amp;nbsp; bisa dikerjakan besok, mengapa harus sekarang? Begitulah pertanyaan retoris yang cenderung menghasilkan penundaan pemecahan masalah. Kita memang harus bersungguh-sungguh melibatkan diri secara emosional dalam memenuhi batas waktu yang kita tetapkan. Misalnya, dalam sehari kita berencana menemukan 10 alternatif pemecahan sebuah masalah. Dengan kata lain, pada hari itu, kita wajib mendapatkan 10 gagasan, dan berjuang untuk menepati dan memenuhinya. Hal ini akan menjadi suatu dorongan yang sangat baik. &lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_ESOBOM8FJKw/SHNRYnramNI/AAAAAAAAABs/v5mC-4Bnh88/s400/patung.JPG" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_ESOBOM8FJKw/SHNRYnramNI/AAAAAAAAABs/v5mC-4Bnh88/s320/patung.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Berikanlah kuota untuk diri sendiri. Tujuan mengembangkan aliran gagasan adalah untuk membangun kapasitas atau kemampuan kita&amp;nbsp; untuk menghasilkan gagasan. Usahakan kuotanya lebih banyak dari gagasan yang sebenarnya kita butuhkan. Bonus tambahan yang bakal diperoleh: kita mungkin akan menemukan bahwa kualitas gagasan tersebut akan bertambah baik sejalan dengan kuantitasnya. Jika kita memiliki satu cara pemecahan masalah, dan ternyata gagal, maka masalah tak terpecahkan. Jika kita&amp;nbsp; punya satu masalah, tetapi mempersiapkan alternatif 10 gagasan sebagai jalan keluar, maka peluang penuntasan masalah menjadi sangat besar. Modal&amp;nbsp; kekayaan gagasan ini pun bisa menjadi investasi berharga bagi upaya pemecahan masalah lainnya yang sejenis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menemukan Orisinalitas/Keaslian &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Salah satu sifat manusia kreatif adalah keingintahuannya yang tinggi. Dengan bekal keingintahuan (curiosity) yang tinggi, maka peluang untuk menemukan gagasan-gagasan baru sangat besar. Orang-orang seperti ini selalu bertanya kepada diri sendiri dan orang lain: Mengapa hal itu dibuat dengan&amp;nbsp; cara seperti itu?&amp;nbsp; Mengapa harus&amp;nbsp; mengikuti prosedur ini? Bagaimana kita dapat memperbaiki&amp;nbsp; cara kita melakukan hal ini? Adakah cara lain yang lebih baik? Bisakah kita menggunakan pendekatan teknologi dalam hal ini? Charles Kettering menyebut cara ini dengan istilah “menantang hal yang pasti secara sistematis”. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya kreatif adalah karya yang menunjukkan unsur kebaruan, orisinalitas. Tak harus seratus persen, memang. Sebagian saja mengandung orisinalitas sudah cukup. Yang terpenting selalu ada unsur kebaruannya setiap kali suatu produk dihasilkan. Tidaklah gampang menemukan kebaruan hingga seratus persen. Jika menunggu kebaruan sebesar itu, maka hasil karya kita tak akan pernah selesai. Hakekatnya, terhadap setiap karya yang dihasilkan, selalu ada peluang untuk perbaikan, penyempurnaan, atau pembaharuan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memegang Fleksibilitas Kreatif &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Fleksibilitas kreatif diwujudkan ke dalam bentuk kesediaan untuk mempertimbangkan beragam pendekatan terhadap suatu masalah. Sebagian besar merupakan masalah sikap. Mentalitas yang menghambat biasanya datang dari diri sendiri. Bentuknya mungkin sifat alamiah manusia yang enggan berubah. Dengan berubah, mungkin rasa aman bakal hilang. Zona nyaman (comfort zone) yang telah dinikmati dikhawatirkan bisa terkoyak. Tak ada keberanian untuk berubah, mungkin karena alasan takut salah, dan sebagainya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Daripada dihantui keengganan berubah dengan bersikeras berpegang pada suatu cara atau gagasan tertentu, orang yang fleksibel&amp;nbsp; mulai dengan prinsip bahwa apabila satu pemecahan tidak bekerja, dia selalu mendekati masalah tersebut dari sudut lain. Hal ini oleh Joseph G. Mason disebut sebagai “harapan kreatif” Maksudnya, orang kreatif selalu berharap bisa memecahkan masalah betapa pun banyak kegagalan yang dialami yang menunda pemecahannya untuk sementara waktu. &lt;br /&gt;Demikianlah, industri kreatif Indonesia sangat membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif. Usaha menumbuhkembangkannya merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan. Semoga di negeri ini kian banyak insan-insan kreatif yang berkarya demi kemajuan bersama. &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7465518844940771788?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7465518844940771788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/empat-sifat-utama-manusia-kreatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7465518844940771788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7465518844940771788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/empat-sifat-utama-manusia-kreatif.html' title='Empat Sifat Utama Manusia Kreatif'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_j7L5xnwSzTI/Si9bNV7M2XI/AAAAAAAAAJU/U3CrO-h4Fu8/s72-c/2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7303233579844868498</id><published>2012-01-21T19:42:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T19:42:23.401-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Djenar Maesa Ayu : Inspirasi Tidak Bisa Dicari!</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-Og__vNbbLaE/Ta7ATG_0e1I/AAAAAAAAAU0/qE71Ujni7CE/s400/DJENAR+MASAYU.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/-Og__vNbbLaE/Ta7ATG_0e1I/AAAAAAAAAU0/qE71Ujni7CE/s400/DJENAR+MASAYU.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Djenar Mahesa Ayu&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Aku duduk di sofa ruang tamu setelah usai mengerjakan pekerjaan terkait studiku. Aku ngobrol bersama istri sambil nyeruput secangkir kopi. Kopi hangat yang ditemani&amp;nbsp; dua potong kue basah menjadi begitu nikmat disantap saat&amp;nbsp; udara dingin seperti saat ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Hujan masih mengguyur bumi . Satu jam berlalu, tapi belum juga reda. Tetesan-tetesan&amp;nbsp; airnya yang ditiup angin&amp;nbsp; membasahi teras rumah. &lt;br /&gt;Tiba-tiba petugas pengantar koran datang. Seperti biasa, ia membunyikan bel sepeda motornya. Aku bergegas menuju pintu pagar rumah untuk mengambil koran Kompas yang kami langgani sejak 7 bulan terakhir. &lt;br /&gt;“Hujan-hujan Pak. Nggak tunggu reda dulu?” sapaku kepada pengantar koran itu.&lt;br /&gt;“Ya, gimana lagi, harus diantar, biar nggak kesiangan Pak,” sahutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Ia pun dengan cepat mengeluarkan koran dari bawah jas hujan dan menyerahkannya kepadaku. Kuterima koran itu dan melindunginya dari basah dengan memasukkan di balik baju yang kupakai. Tak lupa kusampaikan terima kasih kepada pengantar koran yang berdedikasi itu. Kuberlari masuk kembali ke rumah.&lt;br /&gt;“Mandilah dulu,” kata istriku tiba-tiba. &lt;br /&gt;“Sebentar saja,” sahutku seraya mulai membuka koran itu halaman demi halaman. &lt;br /&gt;“Pa, sebaiknya mandi dulu, nanti setelah mandi, baru baca koran,” saran istriku yang hafal dengan kebiasaaku kalau sudah membaca koran atau buku, acap&amp;nbsp; lupa segalanya, he he he.&lt;br /&gt;“Ya, iya, lihat judul-judulnya saja dulu,” kataku sekenanya. &lt;br /&gt;Eh, ada yang menarik perhatianku.&amp;nbsp; Pada halaman 32, Kompas edisi Sabtu, 14 januari 2012, tertera judul Djenar Maesa Ayu Ketagihan Menulis.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biasalah, kalau artikel atau pembicaraan tentang tulis-menulis&amp;nbsp; so pasti selalu menarik perhatianku. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Novelis&amp;nbsp; ngetop, Djenar Maesa Ayu, bakal meluncurkan antologi cerpen T(w)ITIT!-nya tepat di-ultah-nya yang ke-39, 14 Januari. Hebatnya, ia bisa menyelesaikan 10 dari 11 cerpen dalam antologinya itu hanya dalam 10 hari. Berarti, satu hari satu cerpen! Pantaslah kalau ia bilang bahwa inspirasi itu tidak bisa dicari. Sebaliknya, inspirasilah yang mendatangi seseorang. Saat dibalut inspirasi, Maesa Ayu bekerja seperti orang kesetanan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Bagi para penulis fiksi, proses kreatif itu sangat personal sifatnya. Bisa berbeda bahkan terbalik dengan pendapat orang pada umumnya. Persis seperti pendapat Djenar Maesa Ayu tentang inspirasi di atas.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7303233579844868498?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7303233579844868498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/djenar-maesa-ayu-inspirasi-tidak-bisa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7303233579844868498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7303233579844868498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/djenar-maesa-ayu-inspirasi-tidak-bisa.html' title='Djenar Maesa Ayu : Inspirasi Tidak Bisa Dicari!'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Og__vNbbLaE/Ta7ATG_0e1I/AAAAAAAAAU0/qE71Ujni7CE/s72-c/DJENAR+MASAYU.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-733043109978488378</id><published>2012-01-21T19:35:00.000-08:00</published><updated>2012-01-21T19:36:59.299-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Dewi “Dee” Lestari : Hadiah Terbesar untuk Sang Penulis</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://gadogadomusik.com/wp-content/uploads/2011/07/Dewi-Lestari-Dee-2.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://gadogadomusik.com/wp-content/uploads/2011/07/Dewi-Lestari-Dee-2.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dewi 'Dee' Lestari&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk menjadi penulis yang berhasil tentu dibutuhkan perjuangan panjang. Di dalamnya ada kerja keras dan kerja cerdas. Waktu, tenaga, uang, dan&amp;nbsp; terutama pemikiran,&amp;nbsp; banyak disedot&amp;nbsp; untuk pencapaiannya. Tidak ada jalan instant agar seseorang&amp;nbsp; bisa menjadi penulis sukses. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjuangan panjang itu tentu pantas mendapatkan hadiah, hadiah dari kehidupan. Lalu, apa saja hadiah-hadiah yang didapatkan para penulis yang berhasil dalam kariernya? Apa pula hadiah terbesarnya? Inilah dia.Pertama-tama, sebuah hadiah yang menyenangkan, yakni&amp;nbsp; dimuatnya tulisan di koran/majalah. Keberhasilan menembus koran/majalah merupakan salah satu tahapan penting sebagai wujud keberhasilan bagi seorang penulis yang tengah memantapkan karier kepenulisannya. Kalau sebuah artikel dikirim ke sebuah media massa dan kemudian berhasil dimuat, duh alangkah gembira rasahanya hati. Hal ini bisa menjadi penyemangat yang luar biasa untuk meraih kesuksesan berikutnya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadiah kedua, berupa honorarium yang datang belakangan. Mungkin jumlahnya tidak seberapa, tapi tetap menyenangkan. Honor itu menjadi begitu berharga karena diperoleh dengan usaha keras. Ada kegembiraan kalau pada suatu ketika Pak Pos datang dan berujar: “Pak/Bu, ini ada wesel dari koran/majalah.” &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu, hadiah ketiga, berupa sms atau telepon dari seorang teman. Dari seberang, seorang sahabat berkata: “Hei, kawan, saya sudah baca tulisanmu di koran/majalah hari ini. Bagus. Selamat ya, sukses.” Mendapatkan ucapan selamat dan dukungan seperti itu, siapa juga tidak senang. Atensi semacam ini bisa menjadi penyemangat untuk meraih keberhasilan-keberhasilan berikutnya. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hadiah keempat? Ini mungkin terbilang hadiah terbesar untuk penulis sekaligus bagi kemuliaan hidup manusia. Novelis Dewi Lestari yang lebih dikenal dengan nama ngetop, Dee, punya pendapat tentang hadiah terbesar ini. Ia bilang, bahwa hadiah terbesar sebagai&amp;nbsp; penulis adalah ketika karyanya dapat menyentuh, bahkan mengubah hidup pembacanya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk menyentuh pembaca, apalagi mengubah hidup pembaca, bukanlah perkara gampang. Tetapi, itulah hadiah terbesar bagi&amp;nbsp; seorang penulis yang pantas&amp;nbsp; diperjuangkan. Siapa mau melangkah mendapatkannya? &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-733043109978488378?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/733043109978488378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/dewi-dee-lestari-hadiah-terbesar-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/733043109978488378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/733043109978488378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/dewi-dee-lestari-hadiah-terbesar-untuk.html' title='Dewi “Dee” Lestari : Hadiah Terbesar untuk Sang Penulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7515898102027363205</id><published>2012-01-02T02:40:00.004-08:00</published><updated>2012-01-02T02:55:20.634-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Tata Cara Mengirim Artikel ke Koran</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i234.photobucket.com/albums/ee172/sukandar_ag/Pics4illustrations/Beras-dunia-makin-mahal-koran.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="251" src="http://i234.photobucket.com/albums/ee172/sukandar_ag/Pics4illustrations/Beras-dunia-makin-mahal-koran.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketika memposting tulisan berjudul “Menulis Artikel untuk Koran, Yuk!”&amp;nbsp; di lapak ini, sahabat kita, &lt;b&gt;Mas Chris Suryo&lt;/b&gt;, meminta saya menulis lebih detail lagi tentang tata cara pengiriman naskah ke koran. “Bermanfaat sekali Pak Ketut. Lebih teknis lagi dong. Bentuk huruf, spasi, dll. Terus masalah disket, email…,” komentarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Sebenarnya, hal ini sudah pernah saya tulis sebelumnya di kompasiana, di samping saya tulis juga secara lebih rinci di dalam buku &lt;b&gt;&lt;i&gt;Subconscious Mind Writing: Memanfaatkan Kemampuan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar dalam Penulisan,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; diterbitkan Udayana University Press, tahun 2011. (Buku ini sudah beredar di TB Gramedia dan Togamas, harga Rp.45.000,-) &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Akan tetapi, agar Mas Chris dan sahabat yang memerlukan tidak penasaran dan dapat terpenuhi keinginannya yang sangat baik itu, di sini saya kemukakan kembali tentang tata cara pengiriman naskah ke koran dan hal-hal lain yang berkaitan, sbb.:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketik naskah Anda dengan rapi dan cermat;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pergunakan &lt;i&gt;font&lt;/i&gt; Times New Roman, 12, 1,5 spasi, 3-5 halaman kertas A4;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Lengkapi dengan Kata Pengantar &amp;nbsp;tulisan yang ditujukan ke alamat Redaksi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;4.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Lengkapi pula dengan identitas diri yang terkait dengan kompetensi;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;5.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kirim naskah Anda melalui pos atau melalui email;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;6.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Untuk pengiriman via pos, sertai dengan amplop dan prangko pengembalian;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;7.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Tunggu kira-kira dua minggu (untuk koran harian) sejak saat pengiriman untuk meyakini naskah itu ditolak atau diterima;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;8.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pada umumnya tidak ada pemberitahuan dari Redaksi sebuah naskah akan dimuat atau ditolak;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;9.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Anda sebagai penulislah yang mesti rajin memonitor untuk mengetahui naskah Anda dimuat atau tidak (bisa dilihat di situs web koran tersebut atau dengan mendapatkan cetakannya);&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;10.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Jika tidak dimuat, Anda boleh memilih untuk membuat naskah baru atau merevisi naskah tadi dan mengirimkannya ke koran lain;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Itulah ikhwal pengiriman artikel ke koran yang umumnya berlaku sesuai dengan pengalaman penulis. Ayo, segeralah menulis dan kirim ke koran. Jangan ragu-ragu, jangan malu-malu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kalau naskah Anda dimuat, nikmatilah kepuasan batin yang luar biasa. Nikmati&amp;nbsp; ekstase intelektual yang tiada duanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7515898102027363205?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7515898102027363205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/tata-cara-mengirim-artikel-ke-koran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7515898102027363205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7515898102027363205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/tata-cara-mengirim-artikel-ke-koran.html' title='Tata Cara Mengirim Artikel ke Koran'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://i234.photobucket.com/albums/ee172/sukandar_ag/Pics4illustrations/th_Beras-dunia-makin-mahal-koran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5872494969931917458</id><published>2012-01-02T02:40:00.003-08:00</published><updated>2012-01-02T02:55:04.417-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Enam Langkah  Jitu  Mengedit Artikel</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_C9gKeX5BY_k/TLKV7z-7J7I/AAAAAAAAA80/MsFHGbK0YoU/s400/edit.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_C9gKeX5BY_k/TLKV7z-7J7I/AAAAAAAAA80/MsFHGbK0YoU/s320/edit.jpg" width="250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Beberapa kali saya menulis di lapak ini tentang pentingnya &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt; sebelum sebuah artikel dikirim ke media massa. Akan tetapi, pembicaraan tentang pentingnya &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt; saja belum cukup. Diperlukan bagaimana cara mengedit tulisan sehingga hasilnya memuaskan. Di bawah ini penulis menyampaikan cara mengedit tulisan yang biasa penulis praktikkan sebelum menuntaskan dan mengirimkan sebuah artikel ke media yang diharapkan memuatnya. Inilah langkah jitu mengedit artikel dimaksud.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pertama, &lt;b&gt;edit isi artikelnya.&lt;/b&gt; Hal pokok yang hendak dikomunikasikan oleh penulis kepada pembaca adalah konten tulisan. Terkait dengan pengeditan isi, kita dapat memeriksa apakah ide-ide yang hendak kita sampaikan sudah tertuang dengan pasti dan jelas dalam artikel kita? Jangan sampai, maksud menyampaian sejumlah ide dalam sebuah artikel, tapi yang tertulis hanya sebagian saja. Jadi, substansi artikel mesti mencerminkan isi yang dimaksudkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kedua, edit &lt;b&gt;ejaan dan tata bahasanya&lt;/b&gt;. Untuk hal ini, kita bisa mempedomani EYD dan tata bahasa yang sedang diberlakukan. Sebisanya para penulis bergerak dalam kaidah bahasa yang ditetapkan. Sekadar contoh, penulisan kata depan dan awalan paling sering dicampuradukkan. Mestinya, “di” sebagai awalan menyatu dengan kata kerja yang mengikutinya, sehingga yang benar bukan “di makan” melainkan “dimakan.” Selanjutnya, kata depan “di” sebagai penunjuk tempat semestinya lepas dari kata yang mengikutinya, sehingga yang betul bukan “dirumah” melainkan “di rumah.” &amp;nbsp;Kuncinya: &amp;nbsp;kalau di belakang “di” terdapat kata keterangan tempat, maka “di” harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Hal ini tampak sangat sepele, tapi acapkali dilupakan atau kurang mendapat perhatian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketiga, &lt;b&gt;edit sistematika dan logikanya.&lt;/b&gt; Sistematisasi tulisan adalah hal wajib pada setiap artikel, makalah, dan tulisan lain apa pun jenisnya. Tulisan yang tak sistematis bisa membingungkan pembaca. Maka, sejak awal membuat kerangka tulisan mesti sudah ditetapkan mana ide yang akan ditempatkan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Sistematika ini berkait erat dengan logika. Jika sistematika tidak baik, dapat dipastikan logikanya pun nggak jalan. Bisa jadi melompat-lompat atau tersendat-sendat. Dengan sistematika dan logika yang baik, para pembaca akan merasa bagai berenang mengikuti air mengalir, mudah memahami konten tulisan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Keempat, &lt;b&gt;edit kosa katanya.&lt;/b&gt; Setiap kali menulis, pertanyaan yang muncul adalah: sudahkah kosa kata artikel yang ditulis cukup kaya? Kekayaan perbendaharaan kata dapat dilihat dari variasi kata-kata yang dipakai dalam mengekspresikan pikiran ke dalam bahasa tulis. Kurangi pengulangan-pengulangan kata tertentu yang membuat tulisan monoton dan menjemukan. Kian beragam kosa kata yang digunakan, maka kian segar pula sebuah artikel. Variasi kata menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Bagai gadis cantik, tulisan yang kosa katanya bervariasi, cenderung menarik pembaca untuk “mencumbui”-nya. Jangan pernah ragu menggunakan bahasa lain sebagai variasi, seperti bahasa Inggris dan bahasa daerah. Tak perlu terpaku memakai bahasa Indonesia dan alergi menyelipkan bahasa lain. Ingatlah, bahasa Indonesia pun terbentuk dari berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa daerah dan bahasa Inggris. Hanya saja, hendaknya tidak &amp;nbsp;berlebihan. Pakailah seperlunya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kelima, &lt;b&gt;edit teknik penyampaiannya.&lt;/b&gt; Setiap penulis tentu berharap agar tulisannya enak dibaca. Untuk mencapai itu, pilih kata-kata yang &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;familier &lt;/i&gt;dengan pembaca&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Hindari penulisan yang&lt;i&gt; zakelik&lt;/i&gt;, sehingga artikel kita terasa &amp;nbsp;kaku dan membosankan. Usahakan tulisan kita bergaya populer. Akan tetapi, jangan pula hanya gara-gara ingin &lt;i&gt;ngepop,&lt;/i&gt; lalu jadi berlebihan sehingga terkesan ceriwis dan main-main. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ringkasnya, yang perlu kita edit sebelum menuntaskan sebuah artikel meliputi isi, ejaan dan tata bahasa, sistematika, logika, kosa kata, dan teknik penyampaiannya. Kalau kelima hal itu dilakukan, maka yakinlah tulisan kita akan berpeluang besar untuk dimuat di media seperti koran atau majalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;"&gt;Beberapa kali saya menulis di lapak ini tentang pentingnya &lt;/span&gt;&lt;i style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;"&gt;editing&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;"&gt; sebelum sebuah artikel dikirim ke media massa. Akan tetapi, pembicaraan tentang pentingnya &lt;/span&gt;&lt;i style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;"&gt;editing&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-indent: 1cm;"&gt; saja belum cukup. Diperlukan bagaimana cara mengedit tulisan sehingga hasilnya memuaskan. Di bawah ini penulis menyampaikan cara mengedit tulisan yang biasa penulis praktikkan sebelum menuntaskan dan mengirimkan sebuah artikel ke media yang diharapkan memuatnya. Inilah langkah jitu mengedit artikel dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Pertama, &lt;b&gt;edit isi artikelnya.&lt;/b&gt; Hal pokok yang hendak dikomunikasikan oleh penulis kepada pembaca adalah konten tulisan. Terkait dengan pengeditan isi, kita dapat memeriksa apakah ide-ide yang hendak kita sampaikan sudah tertuang dengan pasti dan jelas dalam artikel kita? Jangan sampai, maksud menyampaian sejumlah ide dalam sebuah artikel, tapi yang tertulis hanya sebagian saja. Jadi, substansi artikel mesti mencerminkan isi yang dimaksudkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kedua, edit &lt;b&gt;ejaan dan tata bahasanya&lt;/b&gt;. Untuk hal ini, kita bisa mempedomani EYD dan tata bahasa yang sedang diberlakukan. Sebisanya para penulis bergerak dalam kaidah bahasa yang ditetapkan. Sekadar contoh, penulisan kata depan dan awalan paling sering dicampuradukkan. Mestinya, “di” sebagai awalan menyatu dengan kata kerja yang mengikutinya, sehingga yang benar bukan “di makan” melainkan “dimakan.” Selanjutnya, kata depan “di” sebagai penunjuk tempat semestinya lepas dari kata yang mengikutinya, sehingga yang betul bukan “dirumah” melainkan “di rumah.” &amp;nbsp;Kuncinya: &amp;nbsp;kalau di belakang “di” terdapat kata keterangan tempat, maka “di” harus dipisah dari kata yang mengikutinya. Hal ini tampak sangat sepele, tapi acapkali dilupakan atau kurang mendapat perhatian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ketiga, &lt;b&gt;edit sistematika dan logikanya.&lt;/b&gt; Sistematisasi tulisan adalah hal wajib pada setiap artikel, makalah, dan tulisan lain apa pun jenisnya. Tulisan yang tak sistematis bisa membingungkan pembaca. Maka, sejak awal membuat kerangka tulisan mesti sudah ditetapkan mana ide yang akan ditempatkan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Sistematika ini berkait erat dengan logika. Jika sistematika tidak baik, dapat dipastikan logikanya pun nggak jalan. Bisa jadi melompat-lompat atau tersendat-sendat. Dengan sistematika dan logika yang baik, para pembaca akan merasa bagai berenang mengikuti air mengalir, mudah memahami konten tulisan kita. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Keempat, &lt;b&gt;edit kosa katanya.&lt;/b&gt; Setiap kali menulis, pertanyaan yang muncul adalah: sudahkah kosa kata artikel yang ditulis cukup kaya? Kekayaan perbendaharaan kata dapat dilihat dari variasi kata-kata yang dipakai dalam mengekspresikan pikiran ke dalam bahasa tulis. Kurangi pengulangan-pengulangan kata tertentu yang membuat tulisan monoton dan menjemukan. Kian beragam kosa kata yang digunakan, maka kian segar pula sebuah artikel. Variasi kata menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Bagai gadis cantik, tulisan yang kosa katanya bervariasi, cenderung menarik pembaca untuk “mencumbui”-nya. Jangan pernah ragu menggunakan bahasa lain sebagai variasi, seperti bahasa Inggris dan bahasa daerah. Tak perlu terpaku memakai bahasa Indonesia dan alergi menyelipkan bahasa lain. Ingatlah, bahasa Indonesia pun terbentuk dari berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa daerah dan bahasa Inggris. Hanya saja, hendaknya tidak &amp;nbsp;berlebihan. Pakailah seperlunya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Kelima, &lt;b&gt;edit teknik penyampaiannya.&lt;/b&gt; Setiap penulis tentu berharap agar tulisannya enak dibaca. Untuk mencapai itu, pilih kata-kata yang &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;familier &lt;/i&gt;dengan pembaca&lt;i&gt;.&lt;/i&gt; Hindari penulisan yang&lt;i&gt; zakelik&lt;/i&gt;, sehingga artikel kita terasa &amp;nbsp;kaku dan membosankan. Usahakan tulisan kita bergaya populer. Akan tetapi, jangan pula hanya gara-gara ingin &lt;i&gt;ngepop,&lt;/i&gt; lalu jadi berlebihan sehingga terkesan ceriwis dan main-main. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ringkasnya, yang perlu kita edit sebelum menuntaskan sebuah artikel meliputi isi, ejaan dan tata bahasa, sistematika, logika, kosa kata, dan teknik penyampaiannya. Kalau kelima hal itu dilakukan, maka yakinlah tulisan kita akan berpeluang besar untuk dimuat di media seperti koran atau majalah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5872494969931917458?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5872494969931917458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/enam-langkah-jitu-mengedit-artikel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5872494969931917458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5872494969931917458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/enam-langkah-jitu-mengedit-artikel.html' title='Enam Langkah  Jitu  Mengedit Artikel'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_C9gKeX5BY_k/TLKV7z-7J7I/AAAAAAAAA80/MsFHGbK0YoU/s72-c/edit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-9011009723672524594</id><published>2012-01-02T02:40:00.002-08:00</published><updated>2012-01-02T02:54:46.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Bunga Wijaya Kusuma Itu Sebentar Lagi Mekar</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/12/13249845002028848322_300x225.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em; text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="13249845002028848322" border="0" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/12/13249845002028848322_300x225.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah &amp;nbsp;lebih dari empat kali Wijaya Kusuma yang tumbuh di halaman rumahku berbunga. Saat mekar untuk pertama kalinya, kami sekeluarga bahkan menungguinya hingga tengah malam untuk mengetahui proses kembangnya. Seperti menunggu orang yang tengah melahirkan, kami duduk bersama-sama, dekat dengan kuncup bunga itu. Kira-kira pukul 19.00 proses pemekaran itu mulai kami perhatikan. Kami sampai melepaskan semua pekerjaan lain hanya untuk menonton bunga misterius ini mekar secara perlahan. Bunga itu mekar sedikit demi sedikit, proses yang amat lambat sehingga sulit dideteksi pergerakannya. “Ada nggak ya kamera yang bisa merekam proses itu?” demikian bisik anak pertama saya seperti berbicara kepada dirinya sendiri. &amp;nbsp;Tepat pukul 24.00 bunga itu mekar sempurna. Baunya harum mewangi menyebar ke sekeliling. Tampilannya indah dan sangat memesona di antara bunga dan dedaunan di sekitarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itulah pengalaman pertama kami melihat proses mekarnya bunga ini. Ketika berbunga beberapa kali belakangan, kami kurang memerhatikannya. Kalah oleh rasa kantuk, he he he.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Tanaman bunga Wijaya Kusuma yang hanya tumbuh sebatang di halaman rumahku, kini, lagi-lagi, &amp;nbsp;menumbuhkan kuncup bunga dari helai-helai daunnya. Tak hanya satu, ada empat kuncup sudah menggelayut dengan manisnya di empat &amp;nbsp;lembar&amp;nbsp; daunnya yang pipih dan tebal. Sebelum ini, paling banyak muncul dua atau tiga bunga. Kali ini agak istimewa, ada empat kuncup bunga. Tak lama lagi kami akan menyaksikan kembali proses mekarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Bunga ini sungguh unik. Untuk mekar sempurna hanya butuh waktu beberapa jam dan kemudian layu. Puncak mekarnya pun pukul 12 malam dan segera akan layu setelah itu. Pagi keesokan harinya bunga itu sudah benar-benar layu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Konon, bunga Wijaya Kusuma berarti bunga kemenangan. Wijaya artinya “kemenangan”, dan kusuma artinya “bunga”.&amp;nbsp; Konon lagi, di zaman kerajaan &amp;nbsp;dulu ada keyakinan bahwa apabila bunga ini mekar di istana saat sang istri raja sedang hamil, berarti bakal lahir seorang kandidat raja yang akan duduk di singgasana kerajaan. Kelak, saat memerintah, nama raja itu akan harum karena dicintai&amp;nbsp; rakyatnya. Percaya atau tidak, silakan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Sahabat yang dulu memberikan tanaman bunga itu kepada saya pernah mengatakan, bahwa bunga Wijaya Kusuma bisa menjadi tolok ukur kedamaian keluarga. “Tanaman ini hanya akan berbunga dan mekar apabila dia tumbuh di halaman rumah yang penghuninya hidup tenang dan damai. Dia tak akan mau berbunga di sebuah rumah yang penuh dengan kekacauan atau pertengkaran,” jelasnya. Percaya atau tidak, silakan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Itulah mitos yang mengelilingi bunga cantik ini. Yang pasti, tanaman ini berjenis kaktus. Karena itu, ia tak suka banyak air, batangnya bisa busuk jika kebanyakan air. Apakah di rumah Anda juga tengah tumbuh Wijaya Kusuma yang kini tengah berbunga?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;Sampai di sini, saya jadi teringat dengan Omjay, kompasianer ngetop yang bernama asli Wijaya Kusumah. Beda sedikit dengan nama untuk bunga itu, karena ada huruf &amp;nbsp;‘h’ di belakang nama beliau. Hello Omjay, maaf nama Omjay saya sebut-sebut di sini.&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;img alt="1324984574453333854" class="alignleft size-medium wp-image-159460" height="225" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/12/1324984574453333854_300x225.jpg" style="border-color: initial; border-style: initial; display: inline; float: left; margin-bottom: 2px; margin-left: 6px; margin-right: 6px; margin-top: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; text-align: justify;" title="1324984574453333854" width="300" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 14px; line-height: 18px;"&gt;&lt;img alt="1324984601924477491" class="alignleft size-medium wp-image-159461" height="225" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/12/1324984601924477491_300x225.jpg" style="border-color: initial; border-style: initial; display: inline; float: left; margin-bottom: 2px; margin-left: 6px; margin-right: 6px; margin-top: 0px; padding-bottom: 4px; padding-left: 4px; padding-right: 4px; padding-top: 4px; text-align: justify;" title="1324984601924477491" width="300" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Gambar : Wijaya Kusuma mulai mekar dan mekar penuh&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-9011009723672524594?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/9011009723672524594/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/bunga-wijaya-kusuma-itu-sebentar-lagi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/9011009723672524594'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/9011009723672524594'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/bunga-wijaya-kusuma-itu-sebentar-lagi.html' title='Bunga Wijaya Kusuma Itu Sebentar Lagi Mekar'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-830695757090866597</id><published>2012-01-02T02:40:00.001-08:00</published><updated>2012-01-02T02:54:41.452-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Penutup Artikel Bergaya Menggugah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.semuabisnis.com/content_images/evolusi4.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.semuabisnis.com/content_images/evolusi4.jpg" width="260" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Seperti halnya kalimat-kalimat pembuka atau &lt;/span&gt;&lt;i style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;lead&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;, penutup atau &lt;/span&gt;&lt;i style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;ending&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt; sebuah artikel pun seyogianya memiliki gaya menggugah. Kalau paragraf pertama diharapkan mendorong pembaca agar tertarik dan lanjut membaca tulisan itu, maka paragraf penutup dimaksudkan agar pembaca terkesan. Lantas bagaimana paragraf&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;penutup sebuah artikel yang memiliki daya gugah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%; text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;Mari kita perhatikan tiga contoh paragraf penutup berikut ini:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;1.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Mahasiswa tak perlu dipandang sebagai juru selamat atau ratu adil yang kedatangannya perlu dinantikan. Mahasiswa juga tidak perlu dipandang eksklusif sehingga harus selalu berjuang sendirian. Mari berkolaborasi untuk Indonesia yang lebih baik” ( Okki Sutanto, &lt;i&gt;Mahasiswa dan Kolaborasi&lt;/i&gt;, Kompas, Selasa, 27 Desember 2011, hal. 7).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;2.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Ijinkan penulis mengakhiri tulisan ini dengan puisi Cesaire yang dikutip Frantz Fanon (2000:65): Namaku sakit hati/nama baptisku pengkhianat/statusku pemberontak/usiaku seusia batu/rasku ras manusia/agamaku persaudaraan”. (Fajar Riza Ul Haq&lt;i&gt;, Bakar Diri dalam Demokrasi SBY&lt;/i&gt;, Kompas, Selasa, 20 Desember 2011, hal. 6).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;3.&lt;span style="font: normal normal normal 7pt/normal 'Times New Roman';"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;“Sebagai penutup, marilah kita renungkan apa yang sebenarnya kita dapatkan dari hidup ini. Bukankah kita datang ke dunia dalam kondisi telanjang? Bukankah kita meninggalkan dunia ini hanya dengan membawa selembar kain putih? Jadi, hanya itukah keuntungan yang kita peroleh sepanjang hidup di dunia?” (Arvan Pradiansyah, &lt;i&gt;Untuk Selembar Kain Putih&lt;/i&gt;, Majalah Swasembada, Edisi 1-14 Februari 2007, hal. 126).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Paragraf penutup pada intinya merupakan&amp;nbsp; kesimpulan dari keseluruhan uraian yang dipaparkan sebelumnya. Kalimatnya menggugah dan benar-benar pilihan. Acapkali ditambahkan dengan kata-kata mutiara, ajakan, pertanyaan, saran, renungan, atau harapan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Nah, bagaimana dengan penutup artikel yang Anda ciptakan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-830695757090866597?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/830695757090866597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/penutup-artikel-bergaya-menggugah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/830695757090866597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/830695757090866597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/penutup-artikel-bergaya-menggugah.html' title='Penutup Artikel Bergaya Menggugah'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-493430015340590764</id><published>2012-01-02T02:40:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T02:54:35.676-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Komitmen  Menulis, Adakah Kita Miliki?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://www.indianruminations.com/wp-content/uploads/2011/08/10288writing_a_letter.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://www.indianruminations.com/wp-content/uploads/2011/08/10288writing_a_letter.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengapa ada orang yang mampu menelorkan&amp;nbsp; artikel hampir setiap hari?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mengapa pula ada yang &amp;nbsp;menghasilkan &amp;nbsp;tulisan sesekali dan &amp;nbsp;setelah itu berhenti?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mengapa pula ada orang yang rajin memelihara&amp;nbsp; keinginan menulisnya tapi tak satu pun karya dihasilkannya?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Apa sesungguhnya rahasia yang membedakan di antara mereka?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Rahasia &amp;nbsp;utamanya&amp;nbsp; &amp;nbsp;ada pada komitmen.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Adakah komitmen di dalam diri kita untuk menulis?&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Komitmen itu ada dan kuat &amp;nbsp;jika kita memandang :&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah aktivitas yang penting ;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah pilihan hidup;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah petualangan imajiner yang menarik ,menantang, dan seru;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah tugas yang diletakkan pada &amp;nbsp;prioritas pertama;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah aktivitas yang tak bisa “boleh ada boleh tidak”;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah pendorong untuk menjadi manusia pembelajar;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah pembabat rasa malas dan beban batin;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah cara unik dan spesial dalam mengekspresikan diri;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah cara untuk mengamalkan ilmu;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Manulis adalah cara bersyukur kepada Tuhan;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah cara berkontribusi bagi sesama;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah perjuangan dan pilihan hidup;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah sumber kebanggaan;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah sumber kegembiraan;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah sumber kegairahan hidup;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah sumber kebahagiaan;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Menulis adalah cara membuat warisan sebelum maut menjemput;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Selamat menulis.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-493430015340590764?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/493430015340590764/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/komitmen-menulis-adakah-kita-miliki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/493430015340590764'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/493430015340590764'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2012/01/komitmen-menulis-adakah-kita-miliki.html' title='Komitmen  Menulis, Adakah Kita Miliki?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8890580494656733122</id><published>2011-12-14T05:06:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T05:06:09.366-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Isi Tulisan Adalah “Raja”</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 11.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i.istockimg.com/file_thumbview_approve/13551072/2/stock-illustration-13551072-king-card.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://i.istockimg.com/file_thumbview_approve/13551072/2/stock-illustration-13551072-king-card.jpg" width="267" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;Di antara sekian hal penting dalam sebuah karya tulis, menurut Anda bagian manakah yang paling penting? &amp;nbsp;Ada pendapat, isinya-lah yang paling penting dalam sebuah tulisan. Bisa saja sebuah tulisan yang dikreasi sedemikian rupa agar tampak menarik, tapi kalau isinya terdiri atas hal-hal sudah diketahui umum, maka nilainya hampir tak berarti. Harus ada sesuatu yang laku &amp;nbsp;“dijual” pada sebuah karya. &amp;nbsp;Orang menyebut tulisan tanpa isi sama saja&amp;nbsp; dengan &lt;b&gt;tulang tak berdaging.&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Jadi, &amp;nbsp;isi &lt;i&gt;(content)&lt;/i&gt; demikian penting. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;Ada pula pendapat bahwa cara menuliskannya-lah yang terpenting.&amp;nbsp; Mengapa? Karena, kendati sebuah tulisan yang sesungguhnya mengandung hal-hal &amp;nbsp;berguna bagi pembaca namun jika tidak ditulis dengan baik, maka akan menjadi percuma. Tulisan yang tak disusun dengan baik -- tidak menggunakan sistematika yang seharusnya, melupakan EYD, sama sekali tidak menghiraukan penalaran -- seperti apa kira-kira jadinya? Kacau-balau, bukan? Orang&amp;nbsp; pasti &amp;nbsp;&lt;i&gt;emoh &lt;/i&gt;membaca artikel semacam itu. Kalaupun, misalnya, ada yang &amp;nbsp;bersedia membaca, tak ada sesuatu&amp;nbsp; yang bisa&amp;nbsp; dipetik &amp;nbsp;dari sebuah tulisan yang telah “berhasil” membingungkan pembaca. Jadi, cara/teknik mengungkapkan pikiran melalui bahasa tulis &amp;nbsp;juga sangat penting. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;Akhirnya, mungkin kita sepakat bahwa bukan hanya “apa”-nya yang penting, bahkan juga “bagaimana”-nya pun urgen. Jadi, isi tulisan dan cara membahasakannya sama-sama penting, tak ada salah satu yang lebih penting di antara keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;“Content is the king. Language is the queen,”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ujar&amp;nbsp; Jakob Oetama sebagaimana ditulis St. Sularto dalam buku &amp;nbsp;“Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama”(Penerbit Buku Kompas, 2011: 265). &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;Selamat menulis sahabatku. Salam hangat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-8890580494656733122?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/8890580494656733122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/isi-tulisan-adalah-raja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8890580494656733122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8890580494656733122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/isi-tulisan-adalah-raja.html' title='Isi Tulisan Adalah “Raja”'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7827136776003661968</id><published>2011-12-14T05:05:00.002-08:00</published><updated>2011-12-14T05:05:30.560-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Lima Alasan untuk Tidak Menulis</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: Calibri; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bikerrider.files.wordpress.com/2011/07/ide-menulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://bikerrider.files.wordpress.com/2011/07/ide-menulis.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Menulis atau mengarang bagi sebagian orang merupakan pekerjaan yang pantas dihindari. Mengapa? Ada beragam dalih yang jitu untuk tidak menulis. Mari kita lihat lima di antara sejumlah dalih yang acap kita dengar. Inilah dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;1.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Takut dicemooh.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt; Ada orang yang ingin memiliki kemampuan sempurna terlebih dahulu, baru bersedia menuliskan ide-idenya. Ia harus pintar dulu, baru menulis. Ia ingin agar pembaca yang menyimak tulisannya tidak mencemooh, bahkan sebaliknya, terkagum-kagum terhadap kualitas tulisan yang ditampilkan. Padahal, kesempuranaan itu bukan milik kita umat manusia. Lalu, kapan kesempurnaan itu ada untuk berani menulis? Oleh karena itu, mari menulis saja, jangan tunggu menjadi manusia pintar dan sempurna terlebih dahulu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;2.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Takut ditolak.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt; Ketakutan tulisan ditolak sama saja dengan orang yang kalah sebelum berperang. Pejuang sejati harus berani maju ke medan perang dan mengupayakan penyerangan dan pembelaan diri. Begitu pula kalau takut ditolak tulisannya, ya, susah mau jadi penulis &lt;i&gt;beneran.&lt;/i&gt; Penolakan redaksi sebuah koran atau majalah, bagi para penulis sudah menjadi hal biasa. Jadi, jangan takut tulisan kita ditolak. Tulis saja, kirim saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;3.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Tidak punya ide.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt; Ini alasan klasik. Ada banyak orang yang kesulitan menemukan ide untuk ditulis. Solusinya adalah : &lt;b&gt;rajin membaca, cermat mendengar, aktif berdiskusi, dan aktif mencatat.&lt;/b&gt; Keempat hal itu akan sangat membantu kita mendapatkan ide-ide cemerlang dan merangsang inspirasi datang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;4.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Tidak ada waktu.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt; Ini juga alasan klasik. Salah satu dalih yang paling jitu untuk tidak menulis adalah dengan mengatakan tidak punya waktu. ‘Saya sibuk sekali’ mungkin begitu alasan yang diberikan. Untuk mengatasi hal ini, kiranya perlu kebijakan dalam mengelola waktu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="mso-list: l0 level1 lfo1; text-align: justify; text-indent: -18.0pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;5.&lt;span style="font: 7.0pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Tidak tahu bagaimana menuliskan ide.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt; Nah, kalau ini persoalan teknis semata. Ada cukup banyak ide, tapi tak sanggup menuliskan dan memulainya dari mana. Untuk mengatasinya tentu yang bersangkutan harus belajar teknik menulis. Permasalahan semacam ini bisa diatasi dengan penyusunan kerangka karangan atau &lt;i&gt;outline&lt;/i&gt;. Berdasarkan outline itulah, tulisan dikembangkan secara sistematis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; mso-bidi-font-family: Calibri;"&gt;Kalau seseorang mempunyai komitmen untuk menulis atau menjadi penulis, maka segala rintangan akan dihadapi dengan gagah berani. Maju terus, serang terus. Andakah itu orangnya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7827136776003661968?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7827136776003661968/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/lima-alasan-untuk-tidak-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7827136776003661968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7827136776003661968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/lima-alasan-untuk-tidak-menulis.html' title='Lima Alasan untuk Tidak Menulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1505354905274679896</id><published>2011-12-14T05:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T05:02:45.546-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Musim Hujan Sudah Tiba</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-yaWSuSeB2Pg/Tei74tjqASI/AAAAAAAAAno/3kYFzKsrtDU/s1600/hujan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://2.bp.blogspot.com/-yaWSuSeB2Pg/Tei74tjqASI/AAAAAAAAAno/3kYFzKsrtDU/s320/hujan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa bulan ke depan, kita akan menghadapi musim hujan.&amp;nbsp; Menjelang pertengahan bulan November ini saatnya kita bersiap-siap memasuki &amp;nbsp;awal musim hujan. Berbagai upaya antisipasi dibutuhkan. Upaya antisipasi &amp;nbsp;ini penting, sebab berkaca pada bencana yang diakibatkan oleh hujan yang berlebihan pada tahun-tahun sebelumnya, memang semestinya membuat kita tak boleh &amp;nbsp;lengah. Tahun ini pun sudah mulai&amp;nbsp; daerah-daerah di Indonesia yang terkena bencana, baik karena cuaca yang kadang-kadang ekstrem, disebabkan hujan yang mengguyur demikian derasnya. Apalagi baru-baru ini, sejumlah kawasan di Denpasar terendam air dengan satu korban hilang. Air Tukad Badung meluap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa hal perlu diperhatikan, diantaranya saluran air. Perlu diperiksa kembali saluran-saluran air yang ada, seperti got, kali, sungai. Mungkin di situ terdapat tumpukan sampah yang dipastikan bakal menjadi penyumbat air sehingga air bisa meluap. Got yang dipenuhi &amp;nbsp;sampah hendaknya dibersihkan. Got, kali, dan sungai yang kadang-kadang oleh sebagian masyarakat yang tak mengerti, dijadikan “tempat pembuangan (sampah) akhir ” (TPA) seyogianya dibersihkan sekaligus dihentikan kebiasaan menjadikan saluran air itu sebagai TPA. Di samping dibersihkan dari sampah, bila perlu dilakukan pengerukan seperti dilakukan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kab. Buleleng terhadap sungai yang bermuara di Pelabuhan Buleleng.&amp;nbsp; Pembersihan saluran air&amp;nbsp; menjadi sangat penting, bahkan mendesak dilakukan untuk mengurangi kemungkinan luapan air yang berakibat banjir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Resiko lain dari datangnya musim hujan adalah kemungkinan terjadinya longsor. Jalan-jalan utama, juga jalan-jalan pedesaan &amp;nbsp;yang terletak di lereng-lereng perbukitan seperti jalur Singaraja-Denpasar perlu mendapatkan perhatian lebih serius. Titik-titik yang rawan longsor ini &amp;nbsp;seharusnya mendapatkan perhatian lebih. Kesiapan peralatan dan tenaga, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,&amp;nbsp; menjadi sangat vital untuk mengantisipasi apabila sewaktu-waktu diperlukan bisa segera&amp;nbsp; bergerak cepat. Peralatan berat untuk membersihkan longsoran, gergaji listrik, dan sebagainya mesti dalam keadaan siap pakai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Hal lain yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah pepohonan besar dan tinggi yang tumbuh di pinggir jalan. Di atas pepohonan itu biasanya terbentang kabel listrik yang telanjang.&amp;nbsp; Untuk menghindari bahaya gangguan listrik, sebaiknya bagian pepohonan yang hampir menyentuh kabel listrik itu dipotong. Pepohonan bisa menjadi pengantar listrik yang membahayakan nyawa manusia di sekitarnya. Belum lagi akibat negatif lain, seperti kebakaran karena gesekan kabel dan pepohonan karena tiupan angin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Yang penting juga, tapi kadang dipandang sepele, adalah kesiapan para pengendara mobil dan motor. Kecepatan kendaraan sebaiknya dikurangi karena di musim hujan jalan-jalan cenderung licin. &lt;i&gt;Wiper&lt;/i&gt; pembersih air pada &amp;nbsp;kaca mobil diperiksa kembali agar dapat berfungsi dengan baik. Para pengendara sepeda motor pun &amp;nbsp;perlu ekstra hati-hati di jalan dan melengkapi diri dengan perlengkapan berkendaraan di saat hujan. &amp;nbsp;Jangan sampai hal-hal yang tampaknya kecil dan remeh ini mengakibatkan kelancaran perjalanan menjadi terganggu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 150%;"&gt;Langkah-langkah antisipasi sangatlah penting. Jangan sampai lengah menghadapi musim penghujan ini. Sebab, jika lengah, antisipasi yang kita persiapkan tidak ada, resiko yang ditanggung pun semakin besar. Sambil berdoa kepada Tuhan Yang Masaesa untuk mohon keselamatan, mari kita songsong musim penghujan ini dengan penuh syukur seraya mempersiapkan upaya antisipasi sebagai bentuk kesiagaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1505354905274679896?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1505354905274679896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/musim-hujan-sudah-tiba.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1505354905274679896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1505354905274679896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/musim-hujan-sudah-tiba.html' title='Musim Hujan Sudah Tiba'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-yaWSuSeB2Pg/Tei74tjqASI/AAAAAAAAAno/3kYFzKsrtDU/s72-c/hujan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-2261012575276883077</id><published>2011-12-14T05:00:00.000-08:00</published><updated>2011-12-14T05:00:17.700-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Penulis Itu Pembaca dengan Metode “Triple Track”</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: left; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://klosetide.files.wordpress.com/2011/07/membaca-memperkaya-imajinasi.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://klosetide.files.wordpress.com/2011/07/membaca-memperkaya-imajinasi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Penulis itu adalah seorang pembaca, ya pastilah. Tanpa membaca, seseorang tak akan menjadi penulis yang berhasil. Akan tetapi, apa yang dimaksud dengan pembaca dengan metode &lt;i&gt;“triple track?”&lt;/i&gt; Mari kita mulai menjawabnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Pertama, &lt;b&gt;seorang penulis pastilah seorang pembaca karya orang lain&lt;/b&gt;.&amp;nbsp; Entah yang dibaca itu buku, majalah, koran atau media online/internet. Dari berbagai media tersebut, si penulis akan mendapatkan pengetahuan. Pengetahuan itu dicerap sedemikian rupa ke dalam batin. Dengan referensi yang luas, maka pada suatu saat ia pun akan mengalami “kehamilan” dan melahirkan karya-karyanya sendiri.&amp;nbsp; Semakin luas bacaannya,&amp;nbsp; kian berbobot karya yang dihasilkan sang penulis. Membaca itu wajib baginya, bahkan sudah menjadi menu harian.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Kedua, &lt;b&gt;seorang penulis adalah pembaca yang “membaca” kebutuhan pembaca&lt;/b&gt;. Membaca kebutuhan pembaca berarti mengamati dengan seksama perkembangan yang terjadi di bidangnya. Juga,&amp;nbsp; membaca dinamika kehidupan yang dialaminya&amp;nbsp; dan kehidupan di sekitarnya. Jika ingin tulisannya “laku dijual” dalam arti dibutuhkan pembaca, maka dia mesti mengikuti tema yang menarik dan bermanfaat bagi pembaca.&amp;nbsp; Bahkan, idealnya, sang penulis mampu membawa pembaca ke arah pencerahan batin dan kemuliaan hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Ketiga, &lt;b&gt;seorang penulis adalah pembaca tulisannya sendiri.&lt;/b&gt; Pada saat &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt;, dia harus mengoreksi tulisannya dengan cermat, bahkan sampai berkali-kali, sebelum dipublikasikan melalui media online seperti kompasiana, majalah, koran, atau buku. Tanpa mengoreksi terlebih dahulu&amp;nbsp; dengan cermat, karyanya tak mungkin bebas dari kesalahan. Walau sudah dikoreksi berkali-kali pun, kadangkala masih saja ada kesalahan, seperti kesalahan ketik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Jadi, ada tiga tahap/jalan &lt;i&gt;(triple track) &lt;/i&gt;yang dilakukan penulis dalam posisi sebagai pembaca, yakni membaca karya orang lain, membaca kebutuhan pembaca selaras dengan perkembangan yang tengah berlangsung, dan membaca tulisannya sendiri untuk tujuan &lt;i&gt;editing&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt; line-height: 115%;"&gt;Selamat menulis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-2261012575276883077?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/2261012575276883077/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/penulis-itu-pembaca-dengan-metode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2261012575276883077'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2261012575276883077'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/penulis-itu-pembaca-dengan-metode.html' title='Penulis Itu Pembaca dengan Metode “Triple Track”'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-613984762409437853</id><published>2011-12-07T01:25:00.000-08:00</published><updated>2011-12-07T01:34:07.681-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Catatan Kecil dari Festival Topeng Internasional</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-su-U5bzOS_k/Tt8vyQa2cUI/AAAAAAAAADQ/Gmkgmu5dgPg/s1600/DSC00125.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-su-U5bzOS_k/Tt8vyQa2cUI/AAAAAAAAADQ/Gmkgmu5dgPg/s320/DSC00125.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: inherit; line-height: 115%;"&gt;Sejak 30 November sampai dengan 3 Desember 2011, di &amp;nbsp;Pelabuhan Buleleng, Singaraja, Bali Utara, diselenggarakan Festival Topeng Internasional. Festival ini diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Buleleng dengan &lt;i&gt;International Mask Art and Culture Organization&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; (IMACO). Kegiatan ini diikuti oleh 33 negara yang terdiri dari 28 negara anggota IMACO, delegasi dari seniman Asia, dan dari UNESCO.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: inherit; line-height: 115%;"&gt;Kegiatan ini diisi dengan simposium yang diselenggarakan di Hotel Melka Lovina dan berbagai atraksi seni topeng di panggung terbuka Pelabuhan Buleleng, diantaranya seni kreasi Topeng Ni, Topeng Kang Cing Wi, dan Topeng Pemaculan.&amp;nbsp; Selain pementasan dan simposium, digelar juga pameran topeng yang diikuti negara-negara anggota IMACO dan perajin topeng dari Buleleng dan Gianyar. Ratusan topeng yang memenuhi dua gedung itu sangat menarik perhatian pengunjung. Bentuknya unik, ekspresinya menarik. Ada pula pameran lukisan dan hasil kerajinan kreatif masyarakat Bali yang terbuat dari kayu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;Berikut adalah hasil bidikan kamera penulis terhadap pameran topeng tersebut. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-G1IN1B5pxYA/Tt8vwhRGNBI/AAAAAAAAADI/7NbDjcvLUYU/s1600/DSC00118.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-G1IN1B5pxYA/Tt8vwhRGNBI/AAAAAAAAADI/7NbDjcvLUYU/s320/DSC00118.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Toprng Korea&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-sdrUVsx3V84/Tt8vzuXIU4I/AAAAAAAAADY/J3CM3bW1Pg4/s1600/DSC00140.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-sdrUVsx3V84/Tt8vzuXIU4I/AAAAAAAAADY/J3CM3bW1Pg4/s320/DSC00140.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Topeng Tejakula, Buleleng, Bali&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-jvle1nR5qmI/Tt8v0zoi9AI/AAAAAAAAADg/lJsbBTSmWnA/s1600/DSC00143.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-jvle1nR5qmI/Tt8v0zoi9AI/AAAAAAAAADg/lJsbBTSmWnA/s320/DSC00143.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Topeng Jawa&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-t99RSM52prA/Tt8upg8ymKI/AAAAAAAAAC4/rBykxUYdk6Q/s1600/DSC00117.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-t99RSM52prA/Tt8upg8ymKI/AAAAAAAAAC4/rBykxUYdk6Q/s320/DSC00117.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Topeng Indonesia&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-etkCp_Zww0Y/Tt8wdAWarQI/AAAAAAAAADw/JmZ4ba53vic/s1600/DSC00163.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://1.bp.blogspot.com/-etkCp_Zww0Y/Tt8wdAWarQI/AAAAAAAAADw/JmZ4ba53vic/s320/DSC00163.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Lukisan Gianyar, Bali&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-atDW-O2VYOs/Tt8v2Hq3HUI/AAAAAAAAADo/w_qX-xzipK8/s1600/DSC00154.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-atDW-O2VYOs/Tt8v2Hq3HUI/AAAAAAAAADo/w_qX-xzipK8/s320/DSC00154.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Kerajinan Rakyat&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px; line-height: 18px;"&gt;(&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b style="font-size: 16px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 16px; line-height: 18px; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;, 7 Desember 2011).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-613984762409437853?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/613984762409437853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/catatan-kecil-dari-festival-topeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/613984762409437853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/613984762409437853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/catatan-kecil-dari-festival-topeng.html' title='Catatan Kecil dari Festival Topeng Internasional'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-su-U5bzOS_k/Tt8vyQa2cUI/AAAAAAAAADQ/Gmkgmu5dgPg/s72-c/DSC00125.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7226462020831966739</id><published>2011-12-06T03:48:00.001-08:00</published><updated>2011-12-06T04:28:07.390-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Menulis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Editing, Seberapa Penting?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-CSDRBIHBPJU/Td5qD4ErT4I/AAAAAAAAAHA/RuLNuFzivTE/s1600/copy+editing.JPG" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://3.bp.blogspot.com/-CSDRBIHBPJU/Td5qD4ErT4I/AAAAAAAAAHA/RuLNuFzivTE/s320/copy+editing.JPG" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Para penulis senior selalu mengingatkan betapa pentingnya &amp;nbsp;editing atau pengeditan naskah. Sebelum sebuah tulisan dikirim ke redaksi koran/majalah atau ke media &lt;i&gt;online&lt;/i&gt;, pengeditan tak boleh ditinggalkan. Jika tak dilakukan, maka kemungkinan besar naskah yang terkirim masih banyak kesalahannya. Pengeditan merupakan &lt;i&gt;finishing process&lt;/i&gt; dalam mengerjakan sebuah karya tulis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Pengeditan pada umumnya dipilah menjadi dua, yakni pengeditan pada&lt;b&gt; &amp;nbsp;aspek kebahasaan&lt;/b&gt; dan pengeditan &lt;b&gt;aspek logika&lt;/b&gt;. Aspek kebahasaan dimaksudkan adalah yang terkait dengan pemakaian bahasa tulis, seperti tanda baca, diksi, ejaan, dan sebagainya. Selanjutnya, aspek logika meliputi penalaran, koherensi (keterkaitan/keterpaduan), sistematika isi, termasuk memperbaiki kesalahan pada data, nama, dan alamat. Sebuah karya tulis yang baik, bukan hanya bahasanya yang harus baik dan benar, bahkan isinyapun mesti &amp;nbsp;logis, runut, dan mengandung kejujuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Setelah selesai diketik untuk pertama kalinya sebuah naskah akan melalui proses editing sebagaimana disebutkan di atas. Usai pengeditan tahap pertama, sebaiknya naskah dibiarkan dulu beberapa waktu. Kita bisa beralih mengerjakan tugas lain yang tak ada hubungannya dengan naskah tersebut. Ini dimaksudkan agar pikiran kita segar kembali. &amp;nbsp;Ketika melihat naskah itu kemudian, kita bisa mengoreksi dengan lebih cermat kesalahan-kesalahan yang mungkin masih ada. Untuk naskah ke media cetak atau koran bahkan sangat dianjurkan untuk &lt;b&gt;menyimpannya minimal selama sehari&lt;/b&gt; sebelum diperiksa sekali lagi menjelang dikirim. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Bertautan dengan ini, saya mempunyai kebiasaan meminta bantuan anak untuk membaca naskah saya secara cermat sebelum &amp;nbsp;mengirim ke media cetak. Anak saya yang kelas XII SMA akan membacanya dari awal hingga akhir. Yang diperiksanya terutama yang berkaitan dengan kesalahan ketik, irama tulisan, dan kemudahan dalam memahami isi. Kalau dia mengatakan “sudah cukup” atau “sudah bagus”, maka saya segera mempublikasikannya. Kalau dalam pengeditan itu, dia masih belum mengerti dengan apa yang dimaksudkan dalam teks, maka saya mesti memperbaiki naskah tadi. Itu bisa berarti ada kata-kata sulit yang mesti dicarikan padanannya dalam bahasa yang lebih sederhana. Jadilah anak saya adalah editor naskah-naskah saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Untuk tujuan publikasi di koran/majalah, saya membayangkan pembaca naskah itu rata-rata &lt;b&gt;berpendidikan SMA.&lt;/b&gt; Jadi bahasa dan logika yang dipakai sesuai dengan tingkatan pendidikan calon pembaca. Kalau anak saya yang siswa SMA sudah bisa paham, maka pembaca pun&amp;nbsp; saya yakin akan mengerti.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7226462020831966739?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7226462020831966739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/editing-seberapa-penting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7226462020831966739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7226462020831966739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/editing-seberapa-penting.html' title='Editing, Seberapa Penting?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-CSDRBIHBPJU/Td5qD4ErT4I/AAAAAAAAAHA/RuLNuFzivTE/s72-c/copy+editing.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-2582758608159957840</id><published>2011-12-06T03:47:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T03:53:04.270-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kebijaksanaan Seorang Steve Jobs</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_1nK2V6DkruM/TEIhJtUE55I/AAAAAAAAAF8/eYnCpo8wuFc/s1600/SteveJobs.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://2.bp.blogspot.com/_1nK2V6DkruM/TEIhJtUE55I/AAAAAAAAAF8/eYnCpo8wuFc/s320/SteveJobs.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Dunia sempat dikejutkan oleh berita meninggalnya Steve Jobs. Tokoh teknologi komunikasi dan informasi dan salah seorang pendiri perusahaan raksasa Apple ini meninggal pada tanggal 5 Oktober 2011 akibat komplikasi kanker pankreas yang dideritanya. Tentang kematiannya, perusahaaan Apple mengumumkan, bahwa mereka sangat berduka telah kehilangan Steve Jobs. “Kecerdasan, semangat, dan energi Steve Jobs sumber inovasi berharga yang memperkaya dan memperbaiki hidup kami semua. Dunia menjadi lebih baik karena Jobs. Cinta terbesarnya adalah untuk istrinya, Laurence dan keluarganya. Kami berduka untuk mereka dan semua orang yang tersentuh oleh perjuangannya yang luar biasa,” demikian dilansir oleh sejumlah media.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Sekilas Masa Kecil dan Karier Jobs&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Steve Jobs lahir di San Francisco, California, 24 Februari 1955 dari orang tua kandung Abdulfattah Jandali dan Joanne Schieble. Orang tua biologisnya itu adalah sepasang&amp;nbsp; kekasih yang masih berstatus mahasiswa saat Jobs dilahirkan. Mereka lalu menyerahkan Jobs untuk diadopsi pasangan Paul dan Clara Jobs dari Mountain View, California. Mereka tinggal dan membesarkan Jobs di Lembah Silikon, sebuah kawasan industri terbesar di Amerika Serikat.&amp;nbsp; Selang beberapa bulan setelah Jobs diadopsi, Joanne Schieble&amp;nbsp; dan Jandali menikah secara resmi dan memperoleh keturunan, yaitu seorang&amp;nbsp; anak perempuan bernama Mona Simpson. Mona tidak pernah tahu dan tak kenal kakak kandungnya hingga dewasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Walaupun masa kecilnya tidak menggembirakan, Jobs bisa membuktikan dirinya sebagai orang yang sangat kreatif, visioner, dan inovatif.&amp;nbsp; Ia biasa menghabiskan masa liburan SMA dengan magang di perusahaan Hewlett Packard di Palo Alto. Saat itulah dia bertemu dengan Steven Wozniak, seorang perancang desain komputer. Bahkan kemudian, mereka bekerjasama dan berhasil membangun sebuah mesin komputer yang dinamai Apple I.&amp;nbsp; Usahanya ini berhasil mendapatkan keuntungan, dan mereka pun membangun Apple II, yang kembali sukses dijual di pameran komputer California tahun 1977. Keduanya lalu mendirikan perusahaan bernama Apple, yang pada awalnya dimulai dari garasi di sebuah rumah. Perusahaan itu didirikan, setelah Jobs berhasil meyakinkan seorang pengusaha lokal, Mike Markulla, untuk memberikan bantuan dana sebesar 250.000 dollar AS.&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Anehnya, Steve sempat dipecat&amp;nbsp; pada tahun 1985 dari perusahaan Apple yang didirikannya karena dipandang bahwa ia ‘tak dapat dikontrol.’ Tapi, Steve mengaku karena adanya perbedaan dalam visi mengenai masa depan dan sulit disatukan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; Namun,&amp;nbsp; pada tahun 1996 dia ditarik&amp;nbsp; kembali ke Apple setelah di luar dia menunjukkan kehebatannya dengan&amp;nbsp; mendirikan NeXt, sebuah perusahaan pengembangan &lt;i&gt;platform&lt;/i&gt; komputer. Perusahaan ini dibeli senilai $429 juta oleh Apple,&amp;nbsp; dan Jobs pun kembali ‘pulang’. Setahun berselang, Jobs menjadi CEO perusahaan raksasa Apple. Pasca kembalinya Jobs, Apple maju pesat. Produk-produk revolusioner dan laku seperti iPod, iPhone, iPad, dan Macbook Air yang supertipis pun lahir dari Apple Inc. (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, 7/10/2011).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Kebijaksanaan Hidup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Sepeninggal Jobs, banyak orang memburu produk-produk Apple, sebagai bentuk kecintaannya kepada Jobs dan Apple. Sementara itu, banyak pula kalangan yang khawatir dengan nasib perusahaan raksasa itu. Pertanyaan yang muncul di antaranya, apakah Apple masih akan sanggup melahirkan produk-produk inovatif sebagaimana ketika Jobs masih ada? Di tengah keraguan dan kian ramainya pencinta produk Apple berburu berbagai varian yang dikeluarkan Apple, ada hal yang sangat positif yang diwariskan Jobs untuk masyarakat dunia, yakni kebijaksanaan&amp;nbsp; hidup. Inilah diantaranya. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Steve Jobs dikenal sebagai &lt;b&gt;manusia yang fokus.&lt;/b&gt; Ia berkonsentrasi dengan penuh antusias terhadap pekerjaannya untuk mencapai hasil terbaik. Ia mengembangkan produk terbaik dari Apple Inc untuk dinikmati oleh konsumen, bahkan hingga mengguncang dunia. Keuntungan materi bukan menjadi tujuan utama Jobs. Salah satu nilai dasar yang ia tanamkan di Apple Inc adalah membuat sesuatu yang benar-benar memberi kontribusi besar bagi masyarakat.&amp;nbsp; “Buatlah sesuatu yang memberikan kontribusi besar bagi masyarakat, sesuatu yang bisa membuat lekukan di alam semesta. Saat itu tercapai, keuntungan materi akan mengikuti dengan sendirinya,”&amp;nbsp; ujarnya pada sebuah pidato dalam&amp;nbsp; acara wisuda Stanford University. Steve Jobs juga betul-betul &amp;nbsp;fokus dalam menentukan apa yang hendak dibangun. Ia tidak mudah tergoda oleh arus pasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Jobs juga dikenal sebagai manusia yang &lt;b&gt;mendengarkan kata hati dan intuisi&lt;/b&gt;. Dalam pidatonya yang berdurasi 15 menit itu, Jobs mengatakan: “Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apapun lainnya. Pendekatan ini efektif&amp;nbsp; dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya,” ujarnya. Pada bagian lain pidatonya itu, ia berkata: “Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak terdengar kata hati Anda. Dan, yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan.”&amp;nbsp; Kata hati dan intuisi adalah patokan Jobs dalam bekerja dan melakoni hidup. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Satu lagi kebijaksanaan berharga dari Steve Jobs, yakni &lt;b&gt;pentingnya&amp;nbsp; memilih pekerjaan yang benar-benar disukai.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Ia meyakini, bahwa yang membuatnya betah bekerja adalah karena dia menyukai pekerjaan itu. “Saya yakin, bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaaan maupun pasangan hidup. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan, Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai.” ujarnya dalam pidato itu. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Selanjutnya dikatakan:&amp;nbsp; “Bila Anda belum menemukan, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.”&amp;nbsp; Rupanya petuah terakhirnya ini tak hanya relevan untuk menemukan karier dan melangkah menjalaninya hingga ke puncak, bahkan juga relevan dengan usaha menemukan pasangan hidup. &lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Yang terakhir yang tak kalah pentingnya yang dapat dipetik dari pidato Jobs adalah &lt;b&gt;tentang kematian.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; “Kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya, maka yang tua menyingkir untuk diganti yang muda,” tandasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Demikianlah Steve Jobs. Ia tercatat sebagai tokoh teknologi informasi dan komunikasi berkelas dunia. Jobs bahkan dianggap sejajar dengan Thomas Edison dan Henry Ford pada masanya.&amp;nbsp; &lt;b&gt;Kebijaksanaan hidup yang diwariskan Jobs kepada masyarakat, antara lain perlunya fokus, mengikuti kata hati dan intuisi dalam bekerja, serta pentingnya memilih dan melakukan pekerjaan yang disukai. Dan, kematian menurutnya merupakan buah terbaik dari kehidupan yang membuat hidup berputar. &lt;/b&gt;&amp;nbsp;Steve Jobs meninggal pada tanggal 5 Oktober 2011 dalam usia 56 tahun.&amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-2582758608159957840?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/2582758608159957840/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/kebijaksanaan-seorang-steve-jobs.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2582758608159957840'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2582758608159957840'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/kebijaksanaan-seorang-steve-jobs.html' title='Kebijaksanaan Seorang Steve Jobs'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_1nK2V6DkruM/TEIhJtUE55I/AAAAAAAAAF8/eYnCpo8wuFc/s72-c/SteveJobs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-217817747351004067</id><published>2011-12-06T03:45:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T03:52:19.634-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Sastrawan Sunaryono Basuki: Saya Ini Tukang Ketik!</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_LYhddyeW-w4/SLgEdxWQgNI/AAAAAAAAAFM/80R41w2ZLf0/s200/sunaryono+basuki-2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/_LYhddyeW-w4/SLgEdxWQgNI/AAAAAAAAAFM/80R41w2ZLf0/s200/sunaryono+basuki-2.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Anda mengenal nama Sunaryono Basuki Koesnosoebroto? Atau, bahkan Anda pernah menjadi muridnya? Sunaryono Basuki Ks adalah salah seorang begawan sastra yang dimiliki Indonesia. Pak Bas, demikian biasanya murid dan sahabatnya memanggil, lahir 9 Oktober 1941 di Kepanjen, Malang, dan sudah lama menetap di Singaraja, Bali. Ia pensiunan guru besar IKIP Negeri Singaraja (kini Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja). Kiprahnya dalam dunia sastra sudah tak terbilang lagi. Ratusan karya sastra lahir &amp;nbsp;dari tangannya, seperti novel, cerpen, puisi, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris yang sebagian besar sudah dipublikasika di koran, majalah, dan dalam bentuk buku. &amp;nbsp;Belum lagi buku-buku teks yang diperuntukkan bagi para mahasiswa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Sastrawan sepuh yang beristrikan I&amp;nbsp; Gusti Ayu Darmika dan dikaruniai tiga orang anak (anak pertama almarhum) dan tiga orang cucu ini, masih tetap produktif menulis. Dia juga menerjemahkan karya-karya sastra dunia dari bahasa Inggris&amp;nbsp; ke dalam bahasa Indonesia. Maklum saja, bahasa Inggris adalah keahlian utamanya di samping sastra. Saat masih mengajar dulu ia memang mengajar di jurusan bahasa Inggris. Demikianlah, limpahan karyanya tak pernah surut. Kian berumur, kian banyak saja karya tulis yang terlahir dari tangannya. Ia sangat produktif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Bedah Kumpulan Cerpen&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Tanggal&amp;nbsp; 9 Oktober 2011 Pak Bas genap berusia 70 tahun. Untuk memperingati ultah ini, maka pada hari Minggu, 16 Oktober 2011 diselenggarakan acara pembedahan sekaligus peluncuran buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Antara Jimbaran dan Lovina”. Bedah buku itu diselenggarakan di Danes Art Gallery, Jl. Hayam Wuruk 159 Denpasar. Hadir sebagai pembedah/pembahas buku tersebut, yakni Dr. Fabiola Kurnia, Dr. Jean Couteau, dan Drs. I Nyoman Tingkat, M.Hum. Puluhan penulis dan sastrawan hadir pada forum itu untuk memberi apresiasi terhadap buku Pak Bas, sekaligus menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-70 untuknya. Suasana bedah buku itu menjadi semakin meriah dengan pembacaan puisi oleh para penyair/sastrawan usia muda dan alunan suara merdu Ayu Laksmi yang bertema nyanyian semesta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Para pembedah buku kumpulan cerpen ini melihat, Pak Bas sudah banyak berkarya dengan menghadirkan adat dan budaya Bali. Walaupun, sebagaimana dikatakan oleh Jean Couteau dan I Nyoman Tingkat, budaya Bali diletakkan hanya sebagai latar&lt;i&gt; &lt;/i&gt;cerita, sama sekali tidak secara khusus memberi penilaian atau protes terhadap budaya tersebut. Tak ada sikap frontal atau konfrontif &amp;nbsp;di situ. Pak Bas memilih &amp;nbsp;memainkan pena &amp;nbsp;secara halus dan tersamar, tanpa kritik yang eksplisit. &amp;nbsp;Hal ini terlihat dari bagaimana seorang Sunaryono Basuki mengemas cerita dalam kumpulan cerpen itu seperti “Dadong Dauh”, dan “Cok.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&amp;nbsp;Sementara itu, Fabiola Kurnia, menyebut Pak Bas sebagai seorang pendekar pena yang menjadi &lt;i&gt;transformer&lt;/i&gt;, yakni orang yang mentransformasikan dunia imajinasi dan fakta ke dalam balutan cerita yang utuh untuk dipersembahkan kepada pembaca. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Sudah Ada di Langit&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Pada bagian “Tentang Penulis” dalam buku itu, antara lain Sunaryono Basuki Ks menyebut diri hanya sebagai tukang ketik. Ketika saya (penulis) yang turut hadir pada kesempatan tersebut menanyakan lebih jauh tentang hal ini, Pak Bas menjawab bahwa memang dia benar-benar merasa sebagai tukang ketik, tidak lebih, tidak kurang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;“Semuanya sudah ada di langit.&amp;nbsp; Tugas saya hanya mengambil saja, itu pun kalau diberi kesempatan. Apa yang saya pikirkan dan tuliskan, sudah ada di situ. Sudah pernah saya coba membuat penokohan sesuai dengan keinginan saya. Tapi, nyatanya tokoh-tokoh yang saya persiapkan dengan perannya masing-masing, semuanya berontak. Yang jahat tak mau jadi orang jahat, malah jadi tokoh yang baik. Sebaliknya, yang saya siapkan jadi tokoh yang baik, eh malah jadi jahat. Jadi, saya menyadari bahwa apa yang saya tulis itu sebelumnya sudah tertulis di langit. Saya tinggal mengambilnya. Dari sini saya belajar, bahwa hanya Tuhanlah Sang Pencita, bukan manusia. Ini menghindarkan diri dari kesombongan,” ujarnya di depan forum yang dihadiri oleh para satrawan dan penulis itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Selamat ulang tahun ke-70. Semoga Tuhan melimpahkan kesehatan kepada Pak Bas, sehingga bisa tetap &amp;nbsp;berkarya. Karya-karya Pak Bas akan menjadi warisan yang sangat berharga bagi &amp;nbsp;generasi penerus negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-217817747351004067?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/217817747351004067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/sastrawan-sunaryono-basuki-saya-ini.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/217817747351004067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/217817747351004067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/sastrawan-sunaryono-basuki-saya-ini.html' title='Sastrawan Sunaryono Basuki: Saya Ini Tukang Ketik!'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_LYhddyeW-w4/SLgEdxWQgNI/AAAAAAAAAFM/80R41w2ZLf0/s72-c/sunaryono+basuki-2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7826100013530766037</id><published>2011-12-06T03:44:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T03:51:13.472-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; line-height: 115%;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1263451802/industri-kreatif-02.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://v-images2.antarafoto.com/gpr/1263451802/industri-kreatif-02.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Melacak perkembangan ekonomi kreatif, tak bisa lepas dari kemunculannya untuk &amp;nbsp;pertama kali di Inggris. Saat itu, &amp;nbsp;John Howkins (2001) menulis buku &lt;i&gt;Creative Economy, How People Make Money from Ideas.&lt;/i&gt; John Howkins adalah seorang yang berkebangsaan Inggris yang memiliki multiprofesi. Di samping sebagai pembuat film, ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintahan Inggris. Dia banyak terlibat dalam berbagi diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif di kalangan pemerintahan negara-negara Eropa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;John Howkins mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai ekonomi yang menjadikan kreativitas, budaya, warisan budaya, dan lingkungan sebagai tumpuan masa depan. Konsep ekonomi kreatif itu kemudian dikembangkan oleh ekonom Richard Florida (2001) dari Amerika Serikat. Dalam buku &lt;i&gt;The Rise of Creative Class dan Cities and Creative Class&lt;/i&gt;, Florida mengulas tentang industri kreatif di masyarakat. Menurutnya, manusia pada dasarnya adalah kreatif, apakah ia seorang pekerja di pabrik kacamata atau seorang remaja di gang senggol yang sedang membuat musik hip-hop. Namun perbedaannya ada pada statusnya, karena ada individu-individu yang secara khusus bergelut di bidang kreatif dan mendapatkan kemanfaatan ekonomi secara langsung dari aktivitas yang digeluti. (Moelyono, 2010). &amp;nbsp;Negara, wilayah, atau daerah yang mampu menciptakan produk-produk baru yang inovatif tercepat akan menjadi pemenang persaingan di era ekonomi global ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berawal dari Inggris, ekonomi kreatif kini banyak diadopsi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dengan komposisi jumlah penduduk usia muda sekitar 43 persen atau sekitar 103 juta orang, Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang cukup besar bagi keberhasilan pembangunan ekonomi kreatif. Belum lagi potensi lainnya, seperti kepulauan Indonesia yang luas, terdiri atas 17.504 pulau dengan keragaman flora dan fauna serta kekayaan budaya bangsa dengan 1.068 suku bangsa, dan berkomunikasi dengan 665 bahasa daerah di seluruh Indonesia. Kekayaan ini adalah potensi besar dalam mendukung tumbuhnya industri kreatif Indonesia yang saat ini memberikan kontribusi kepada pendapatan domestik bruto (PDB) senilai Rp.104,6 triliun. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Data menyebutkan, rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB nasional. Nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp.81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. Industri kreatif menduduki peringkat ke-7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia. PDB industri kreatif didominasi oleh kelompok busana (fashion), kerajinan, periklanan, dan desain. Jika dikelola dengan baik, kontribusinya terhadap PDB akan terus naik secara signifikan. Kontribusi ekonomi yang sangat signifikan inilah yang menjadi alasan mengapa industri kreatif Indonesia perlu terus dikembangkan. Selain itu, industri kreatif juga menciptakan iklim bisnis yang positif, membangun kebanggaan dan &amp;nbsp;identitas bangsa Indonesia. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pemerintah telah mengidentififikasi lingkup industri kreatif mencakup 14 subsektor, yakni permainan interaktif, peranti lunak &lt;i&gt;(software),&lt;/i&gt; periklanan, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kesungguhan Pemerintah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Perombakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan angin segar bagi para pelaku ekonomi kreatif. Lebih-lebih lagi, &amp;nbsp;ada dua kementerian lainnya yang terlibat langsung dengan pengembangan ekonomi kreatif ini, yakni Kementerian Pedagangan dan Kementerian Perindustrian. Koordinatornya adalah Menko Kesra RI. Hal ini menunjukan kesungguhan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif melalui indutri kreatif yang sudah dan akan terus dikembangkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Sinergi antarkementerian ini mesti diperkuat, juga harus jelas siapa mengerjakan apa, agar tak terjadi tumpang tindih kapling tugas. Sinergitas seharusnya menghasilkan jauh lebih tinggi dibandingkan jika masing-masing kementerian bekerja sendiri-sendiri. Untuk menciptakan sinergi yang benar-benar solid, &amp;nbsp;Menko Kesra dapat bertindak sebagai koordinator aktif yang menyatupadukan konsep dan gerak langkap pengembangan ekonomi kreatif ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpFirst" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Berbasis Budaya Lokal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Menumbuhkembangkan ekonomi kreatif tak bisa lepas dari budaya setempat. Budaya harus menjadi basis pengembangannya. Dalam kebudayaan lokal ada yang disebut dengan kearifan local &lt;i&gt;(local genius)&lt;/i&gt; yang menjadi nilai-nilai bermakna,&amp;nbsp; antara lain,&amp;nbsp; diterjemahkan ke dalam bentuk fisik berupa produk kreatif daerah setempat. Revrisond Baswir, ekonom Universitas Gadjah Mada mengatakan bahwa ekonomi kreatif tidak bisa dilihat dalam konteks ekonomi saja,&amp;nbsp; tetapi juga dimensi budaya. Ide-ide kreatif yang muncul adalah produk budaya. Karenanya, strategi kebudayaan sangat menentukan arah perkembangan ekonomi kreatif &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpMiddle" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Setiap daerah/wilayah pada umumnya memiliki potensi produk yang bisa diangkat dan dikembangkan. Keunikan atau kekhasan produk lokal itulah yang mesti menjadi intinya lalu ditambah unsur kreativitas dengan sentuhan teknologi. Silakan saja satu daerah dan daerah lain memiliki produk yang sejenis, namun setiap daerah mesti mempertahankan ciri khasnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoListParagraphCxSpLast" style="line-height: 150%; margin-left: 0cm; mso-add-space: auto; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Dalam hal ini mesti dihindari penyeragaman antardaerah/wilayah. Jika ini dilakukan juga, maka nilai keunikan dan kekhasan &amp;nbsp;akan hilang. Berikan berkembang apa yang ada di daerah setempat, dan inilah yang dipadukan dengan kemampuan manusia yang inovasi-kreatif. Hanya dengan demikian keunggulan komparatif bisa terjaga dan &amp;nbsp;daya saing produk bisa dipertahankan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 20.25pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Akhirnya, kta menaruh harapan semoga ekonomi kreatif melalui industri-industri kreatif bisa berkembang dengan baik di negeri ini. Jika ini berkembang, maka tak hanya produk domestik bruto (PDB) yang meningkat, lapangan kerja juga kian terbuka sehingga pengangguran dan kemiskinan dapat diatasi secara bertahap.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7826100013530766037?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7826100013530766037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/ekonomi-kreatif-berbasis-budaya-lokal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7826100013530766037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7826100013530766037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/ekonomi-kreatif-berbasis-budaya-lokal.html' title='Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya Lokal'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-4106631781057688360</id><published>2011-12-06T03:41:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T03:50:21.949-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Ketinggian Bangunan atau Pemerataan Pembangunan?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 14pt; line-height: 21px;"&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://rentalmobilbali.com/wp-content/uploads/2009/01/sewa-mobil-bali-murah-peta-bali.gif" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="209" src="http://rentalmobilbali.com/wp-content/uploads/2009/01/sewa-mobil-bali-murah-peta-bali.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Belakangan ini muncul wacana di media massa tentang usulan penyempurnaan &amp;nbsp;Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Bali. Dalam RTRW yang masih berlaku sekarang, ketinggian bangunan di Bali maksimum 15 meter. Jika lebih, bakal terkena sangsi. Rupanya setelah diberlakukan sekian lama, ketinggian sebesar itu tidak lagi mencukupi. Dipandang perlu lebih dari itu pada zona tertentu. Wacana tersebut, tak pelak, memunculkan perdebatan yang tak berkesudahan dengan argumen masing-masing.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Secara garis besar terdapat dua arus utama pemikiran yang saling berseberangan. Di satu pihak adalah pemikiran menghendaki bangunan di Bali diperbolehkan lebih dari 15 meter sehingga diperlukan perubahan RTRW Bali. Di lain pihak adalah pemikiran yang menginginkan ketinggian maksimal bangunan ditetapkan 15 meter sesuai dengan RTRW yang sudah ada.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Silang Pendapat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Alasan pihak yang menghendaki bangunan dibolehkan lebih dari 15 meter pada intinya adalah karena keterbatasan lahan yang tersedia. Jika dibiarkan perkembangan pemukiman berlangsung bersamaan dengan bertambahnya penduduk Bali, maka lahan pertanian dan lahan kosong lainnya akan habis. Tak ada lagi lahan pertanian dan perkebunan yang hijau seperti yang kita nikmati sekarang. Menurut pendapat ini, tak ada pilihan lain untuk mengatasi masalah pemenuhan akan kebutuhan pemukiman selain membuat bangunan dan pemukiman yang bertingkat ke atas (vertikal) pada zona tertentu, sehingga mengatasi penggunaan lahan di sekitarnya. Paling tidak, upaya ini dapat memperlambat laju pengalihan fungsi lahan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Alasan pihak kedua yang menghendaki ketinggian bangunan ditetapkan tak lebih dari 15 meter adalah jika bangunan-bangunan pemukiman, hotel, jenis bangunan lainnya pada zona tertentu di Bali diberikan membangun lebih dari 15 meter, maka Bali tak ada bedanya dengan beberapa wilayah/kota lain di Indonesia. Keindahan alam Bali akan tersapu oleh bangunan-bangunan bertingkat yang memenuhi kawasan. Pandangan mata akan berbenturan dengan beton-beton menjulang tinggi di kiri-kanan jalan. Bali tak lagi menjadi Bali.&amp;nbsp; Hal ini dipandang menjauh dari folosofi dasar manusia Bali yang berbasis spiritual Hindu: tri hita karana.&amp;nbsp; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Beberapa Pertimbangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Pertama, dalam kaitannya dengan pembangunan Bali ke depan, seyogianya falsafah dan kearifan leluhur yang adiluhung hendaknya senantiasa menjadi pegangan utama. Betapapun, &amp;nbsp;kearifan itu akan mampu mempedomani generasi demi generasi agar dapat hidup dalam keseimbangan sekaligus menghindari perasaan keterasingan di daerah sendiri. Oleh karena itu, kiranya filosofi tri hita karana, salah satunya, &amp;nbsp;hendaklah tetap menjadi pegangan dalam kehidupan manusia Bali.&amp;nbsp; Karena, dengan konsep warisan leluhur ini, manusia Bali bisa hidup cukup harmonis hingga sekarang, dan sampai nantipun diharapkan demikian bahkan lebih baik lagi. Betapa eloknya bisa tetap hidup selaras dengan alam, dengan sesama manusia, dan Tuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Kedua, persoalan yang ada bukanlah terletak pada perlu-tidaknya perubahan ketinggian bangunan dari 15 meter menjadi boleh lebih dari itu. Itu hanyalah keinginan yang muncul sebagai efek dari kepadatan penduduk yang melebihi kapasitas tampung suatu wilayah. Jadi, persoalan mendasarnya ada pada masalah kepadatan penduduk di kota Denpasar dan Badung sebagai akibat dari ketidakmerataan persebaran pembangunan di&amp;nbsp; wilayah Bali. Kepadatan ini terjadi sebagian besar karena kehadiran para pendatang dari luar wilayah itu, baik dari Bali maupun luar Bali. Yang membuat mereka datang dan bermukim di kedua wilayah tersebut tentu karena di situ ada sumber penghasilan/penghidupan: pekerjaan. Kebutuhan akan pekerjaan itulah yang mendorong mereka datang ke Badung dan Denpasar. Sementara, di daerah asal, mereka tidak mendapatkan penghasilan yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kebutuhan untuk mengembangkan diri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Di Badung dan Denpasar ada ratusan&amp;nbsp; jenis pekerjaan, mulai dari bisnis jasa hingga bisnis yang menghasilkan produk tertentu. Industri, pendidikan, pariwisata, &lt;i&gt;numplek bleg &lt;/i&gt;di situ. Yang paling menonjol adalah bisnis pariwisata yang membutuhkan tenaga kerja yang besar. Daripada harus bolak-balik ke desa asal, mereka akhirnya memilih tinggal di wilayah dekat tempat mereka bekerja, baik dengan menyewa ataupun dengan membangun pemukiman sendiri. Alhasil, Denpasar dan Badung menjadi padat penduduk, padat lalu lintas, padat pula tuntutan akan lahan pemukiman. Salah satu solusi alternatif yang ditawarkan adalah membuat aturan bangunan boleh lebih dari 15 meter. Maksudnya, antara lain &amp;nbsp;agar masalah kebutuhan tempat hunian, dll. dapat diselesaikan, sementara pengalihan fungsi lahan dapat diperlambat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Ketiga, penulis melihat bahwa merevisi aturan ketinggian bangunan pada RTRW Bali bukanlah alternatif terbaik. Dengan penyesuaian aturan yang membolehkan ketinggian bangunan lebih dari 15 meter, untuk sementara, &amp;nbsp;mungkin akan dapat menanggulangi masalah kebutuhan pemukiman. Solusi ini tidak akan menyelesaikan persoalan jika migrasi penduduk terus terjadi dari desa-desa di Bali atau di luar Bali ke Badung dan Denpasar. Lima sampai sepuluh tahun lagi, persoalan yang sama akan muncul lagi. Akankah RTRW diubah lagi sehingga pada akhirnya berapun ketinggian bangunan akan diperbolehkan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Tanpa data statistikpun kita bisa melihat betapa pembangunan di Bali sama sekali belum merata. Ada wilayah/kota yang berkembang sangat pesat seperti &amp;nbsp;kedua wilayah yang disebutkan di atas, sementara ada bagian lain dari wilayah Bali jauh lebih lambat. Di mana ada kesempatan berkembang, ke situlah orang akan datang mengais rejeki. Analoginya, di mana ada gula ke situlah semut beramai-ramai &amp;nbsp;&lt;i&gt;nglurug.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Keempat, berkaitan dengan point ketiga di atas, Bali sesungguhnya membutuhkan &lt;i&gt;grand desain&lt;/i&gt; pembangunan wilayah yang bisa mendorong pusat-pusat pertumbuhan bisa tersebar secara seimbang di seluruh wilayah kabupaten/kota. Memang ini sulit. Tapi, jika tak dilakukan/diusahakan secara sungguh-sungguh, maka Bali akan menangis dalam 10-20 tahun lagi. Kesenjangan akan kian menganga. Kini pun kedua wilayah itu sudah jenuh oleh kepadatan penduduk. Kemacetan lalu-lintas sehari-hari adalah contoh kecil di permukaan yang bisa kita lihat dan rasakan kini. Denpasar dan Badung benar-benar akan mengalami &lt;i&gt;total traffic-jam.&lt;/i&gt; Dalam konsep membangun Bali, seyogianya pusat-pusat pertumbuhan itu bisa tersebar merata dan seimbang di seluruh wilayah. Tak hanya di Bali Selatan, juga di Bali Timur, Barat, dan Utara.&amp;nbsp; Dengan persebaran ini, maka tenaga kerja tak lagi terkonsentrasi di kedua wilayah tadi, melainkan tersebar di seluruh wilayah Bali. Alhasil, kesenjangan pendapatan dapat dikurangi, dan keseimbangan tingkat kepadatan dan persebaran &amp;nbsp;&amp;nbsp;penduduk pun dapat dijaga. &amp;nbsp;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 20.25pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; line-height: 150%;"&gt;Uraian di atas hendak menjelaskan masalah yang dihadapi Bali adalah persoalan kebutuhan persebaran penduduk yang belum merata karena pembangunan yang kurang seimbang antara Bali Selatan dengan Bali Timur, Utara, dan Barat.&amp;nbsp; Meninggikan bangunan kiranya bukanlah jawaban terbaik. Itu hanya solusi jangka pendek tetapi tak menyelesaikan masalah dalam jangka menengah dan &amp;nbsp;panjang. Bali memang benar-benar mesti dijaga agar tidak kehilangan “kebalian”-nya dalam dinamika dan gemuruh pembangunan. Bisakah?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 20.25pt;"&gt;&lt;b style="line-height: normal; text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 14pt; line-height: 21px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: -webkit-auto; text-indent: 0px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 19px; line-height: 21px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-4106631781057688360?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/4106631781057688360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/ketinggian-bangunan-atau-pemerataan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4106631781057688360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4106631781057688360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/12/ketinggian-bangunan-atau-pemerataan.html' title='Ketinggian Bangunan atau Pemerataan Pembangunan?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-440123919760834199</id><published>2011-11-23T00:54:00.001-08:00</published><updated>2011-12-03T16:36:25.377-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Tiga Kiat Memperkuat Motivasi Menulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://kangarul.com/wp-content/uploads/2010/05/menulis20.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="200" src="http://kangarul.com/wp-content/uploads/2010/05/menulis20.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;Untuk menjadi penulis tentu  dibutuhkan keseriusan, kesungguhan. Kalau keinginan menjadi penulis kecil saja, atau sekadar hobi, tentu saja kita tak akan pernah menjadi penulis yang berhasil. Jika di antara kita masih merasa membutuhkan dorongan atau motivasi untuk menjadi penulis, maka bacalah kiat berikut ini. Kiat ini dimaksudkan untuk memperteguh niat untuk rajin menulis dus menjadi penulis, lahir batin. Mari kita mulai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, jadikan menulis sebagai  bentuk ibadah. Menulis sebagai ibadah identik dengan menulis sebagai wujud bakti  kepada Tuhan. Bakti kepada Tuhan tak melulu berbentuk pemujaan atau sembahyang, bahkan juga dengan berbuat baik terhadap sesama. &lt;br /&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbuat baik kepada sesama dengan cara beramal pengetahuan melalui karya tulis adalah wujud dari ibadah atau sujud bakti kepada Tuhan. Dengan menjadikan ativitas menulis sebagai ibadah, maka kita akan merasa dan meyakini bahwa menulis adalah cara kita melaksanakan perintah Tuhan. Kita pun bisa menulis dengan tulus dan jujur.Kita pun bisa menulis dengan ringan, tanpa beban, bahkan dapat menjalani aktivitas ini dengan penuh cinta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, jadikan menulis sebagai alat perjuangan. Penulis dalam menulis harus mempunyai visi yang jelas. Apa goal penulisan kita?  Dalam hubungan ini, kembali ke pertanyaan awal: apakah kita benar-benar ingin menjadi penulis? Jika jawabannya ‘ya’, maka ada kewajiban lanjutnya, yakni komitmen. Komitmen untuk terus dan terus menulis secara kontinu. Dengan terus-menerus menulis, niscaya kemampuan menulis kita akan  kian baik, ide-ide yang disampaikan akan dapat dengan mudah diwujudkan ke dalam bahasa tulis. Tak jadi masalah lagi bagaimana cara menuliskan ide/gagasan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Baru setelah itu, kita dapat menjadikan menulis sebagai alat perjuangan. Alat perjuangan apa? Misalnya, alat perjuangan untuk turut membangun kecerdasan bangsa. Ini ide besarnya. Lebih spesifik lagi, alat perjuangan untuk ikut serta memajukan dunia kesehatan. Lebih mikro lagi: untuk memajukan kesehatan ibu dan anak. Atau, untuk memajukan dunia pendidikan. Lebih mikronya: pendidikan dasar sembilan tahun. Begitulah misalnya. Masing-masing dari kita bisa menentukan untuk apa sejatinya kita menulis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, jadikan menulis sebagai pilihan hidup. Sebagai sebuah pilihan hidup, menulis tak lagi menjadi sekadar hobi yang dilakukan sesekali saja itu pun kalau ada mood. Kalau tak ada mood atau gairah menulis, ya sudahlah, nggak usah menulis. Sebagai pilihan hidup, maka menulis menjadi bagian dari tugas dan kewajiban keseharian yang mesti dilakoni. Menulis dipandang sebagai pekerjaan atau profesi yang memikat dan bersedia dengan ikhlas bertekun di dalamnya, mengikuti proses, dan pada akhirnya mendapatkan hasil dari kerja penulisan. Sebagai pilihan hidup, menulis akan mendatangkan hasil-hasil nyata: artikel dan buku yang terpublikasi, dan perlbagai bentuk naskah lainnya yang tak ternilai harganya.  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jelaslah bahwa untuk memperkuat motivasi menulis, kita dapat memandang menulis sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, sebagai alat perjuangan mewujudkan visi, dan pilihan hidup. Nah, bagaimana dengan kita? Adakah motivasi menulis itu demikian kuatnya dalam diri kita? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salam menulis.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-440123919760834199?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/440123919760834199/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/tiga-kiat-memperkuat-motivasi-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/440123919760834199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/440123919760834199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/tiga-kiat-memperkuat-motivasi-menulis.html' title='Tiga Kiat Memperkuat Motivasi Menulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3541244758195685981</id><published>2011-11-23T00:52:00.000-08:00</published><updated>2011-12-06T04:31:08.542-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Upaya Mengatasi Problem Ekonomi Kreatif</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.pdk.or.id/wp-content/uploads/2011/11/Ekonomi-Kreatif.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="189" src="http://www.pdk.or.id/wp-content/uploads/2011/11/Ekonomi-Kreatif.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Berawal dari Inggris, ekonomi kreatif kini banyak diadopsi negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dengan komposisi jumlah penduduk usia muda sekitar 43 persen atau sekitar 103 juta orang, Indonesia memiliki sumberdaya manusia yang cukup besar bagi keberhasilan pembangunan ekonomi kreatif. Belum lagi potensi lainnya, seperti kepulauan Indonesia yang luas, terdiri atas 17.504 pulau dengan keragaman flora dan fauna serta kekayaan budaya bangsa dengan 1.068 suku bangsa, dan berkomunikasi dengan 665 bahasa daerah di seluruh Indonesia. Kekayaan ini adalah potensi besar dalam mendukung tumbuhnya industri kreatif Indonesia yang saat ini memberikan kontribusi kepada pendapatan domestik bruto (PDB) senilai Rp.104,6 triliun. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Data menyebutkan, rata-rata kontribusi PDB industri kreatif Indonesia tahun 2002-2006 sebesar 6,3 persen dari total PDB nasional. Nilai ekspor industri kreatif mencapai Rp.81,4 triliun dan berkontribusi sebesar 9,13 persen terhadap total ekspor nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 5,4 juta orang. Industri kreatif menduduki peringkat ke-7 dari 10 lapangan usaha utama yang ada di Indonesia. PDB industri kreatif didominasi oleh kelompok busana (fashion), kerajinan, periklanan, dan desain. Jika dikelola dengan baik, kontribusinya terhadap PDB akan terus naik secara signifikan. Kontribusi ekonomi yang sangat signifikan inilah yang menjadi alasan mengapa industri kreatif Indonesia perlu terus dikembangkan. Selain itu, industri kreatif juga menciptakan iklim bisnis yang positif. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pemerintah telah mengidentififikasi lingkup industri kreatif mencakup 14 subsektor, yakni permainan interaktif, peranti lunak (software), periklanan, riset dan pengembangan, seni pertunjukan, televisi dan radio, film, video dan fotografi, kerajinan, arsitektur, busana (fashion), desain, musik, pasar dan barang seni, serta penerbitan dan percetakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesungguhan Pemerintah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perombakan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merupakan angin segar bagi para pelaku ekonomi kreatif. Lebih-lebih lagi,  ada dua kementerian lainnya yang terlibat langsung dengan pengembangan ekonomi kreatif ini, yakni Kementerian Pedagangan dan Kementerian Perindustrian. Koordinatornya adalah Menko Kesra RI. Hal ini menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam mengembangkan ekonomi kreatif melalui indutri kreatif yang sudah dan akan terus dikembangkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sinergi antarkementerian ini mesti diperkuat, juga harus jelas siapa mengerjakan apa, agar tak terjadi tumpang tindih kapling tugas. Sinergitas seharusnya menghasilkan output jauh lebih baik dibandingkan jika masing-masing kementerian bekerja sendiri-sendiri. Untuk menciptakan sinergi yang benar-benar solid,  Menko Kesra dapat bertindak sebagai koordinator aktif yang menyatupadukan konsep dan gerak langkap pengembangan ekonomi kreatif ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa faktor yang disebutkan menjadi problematika pengembangan ekonomi kreatif melalui industri-industri kreatif, yakni: 1). kurangnya jumlah dan kualitas SDM kreatif; 2). rendahnya penghargaan terhadap para pelaku industri kreatif; 3). lambatnya upaya mengakselerasi tumbuhnya teknologi informasi dan komunikasi dengan pengembangan akses pasar dan inovasi industri kreatif; 4). keterbatasan akses pada bahan baku; 5). kesulitan permodalan; 6). perlindungan hak cipta; dan 7). ketersediaan ruang public. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Upaya Mengatasi Problem&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Problem ekonomi kreatif diharapkan akan dapat ditangani secara bertahap dan terencana dengan baik. Hendaknya, dalam persiapan program aksi, dilibatkan pemerintah daerah setempat. Sebab, pemerintah di tingkat lokal-lah yang memahami industri-industri kreeatif yang berpotensi untuk dikembangkan. Pemerintah di tingkat lokal pun mesti menerima masukan dari para pelaku induttri kreatif untuk mendapatkan masukan dengan lebih akurat apa masalah yang dihadapi dan harapan ke depan yang ingin dicapai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, tentang kurangnya jumlah dan kualitas SDM kreatif. Disebutkan bahwa, secara kuantitas dan kualitas, SDM kreatif belum memadai. Penulis meyakini,  kreativitas anak negeri ini tak bisa diragukan. Apalagi seperti diteorikan oleh Florida, setiap orang pada dasarnya kreatif. Potensi kreatif ini, hanya perlu ditumbuhkembangkan. Dalam hubungan ini, diperlukan pendidikan dan pelatihan yang mengedepankan inovasi dan kreativitas produk. Perguruan-perguruan tinggi bisa turut berperan dalam hal ini. Bukan melulu menghadirkan ilmu kewirausahaan yang memang penting dan dibutuhkan, bahkan juga bagaimana membangun  manusia kreatif dan inovatif. Dalam industri kreatif, kemampuan menciptakan ide-ide kreatiflah yang terpenting. Modalnya adala “isi kepala” yang terletak di antara dua telinga manusia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua, rendahnya penghargaan terhadap industri kreatif. Kalau penghargaan itu dimaksud berasal dari masyarakat, tentu karena masyarakat melihat indutri kreatif masih belum bisa berkembang dengan baik. Kepercayaan terhadap ini baru akan tumbuh apabila, misalnya, ada industri kreatif yang telah berhasil mendatangkan kesejahteran bagi pelaku dan masyarakat sekitarnya. Jika penghargaan itu belum muncul dari pemerintah, maka pemerintah seharusnya segera mempersiapkan dan memberikan penghargaan kepada siapapun anggota masyarakat yang berhasil menciptakan suatu karya kreatif dan inovatif yang dapat dibanggakan dan dikembangkan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketiga, lambatnya akselerasi teknologi. Diakui bahwa peran teknologi sangat vital dalam pengembangan indutri kreatif. Bukan hanya dalam hal mengakses  informasi pasar dan penemuan-penemuaan terbaru, bahkan juga dalam hal penggunaan peralatan berteknologi canggih dalam proses industri. Kini, akses informasi sudah jauh lebih maju daripada beberapa dekade sebelumnya. Tidaklah sulit bagi siapapun untuk mengakses perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan kemajuan teknologi yang berlangsung di seantero dunia. Namun, yang perlu ditangani adalah penguasaan teknologi yang berkaitan dengan proses penciptaan produk kreatif itu. Di sini, lagi-lagi perlu pembelajaran atas inisiatif pelaku industri dengan  bantuan lembaga swasta dan pemerintah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keempat, keterbatasan akses terhadap bahan baku. Ada dua kemungkinan yang terjadi dalam hubungan ini. Ada kemungkinan, bahan baku yang tersedia terbatas adanya sehingga akan sulit mendapatkannya dalam jangka panjang. Penanggulangannya, tentu harus disinkronkan dengan penghasil bahan baku itu sehingga pelaku industri kreatif tak kekurangan bahan baku.  Ada pula terjadi kemungkinan lainnya, bahan baku tersedia, tetapi tidak diketahui di mana keberadaannya. Tentu saja, lagi-lagi diperlukan akses informasi melalui media yang ada, terutama media online. Setiap produsen perlu didorong untuk mempublikasikan bahan baku yang dihasilkan sehingga dengan cepat dapat diakses bahkan dipesan oleh pelaku industri kreatif di tempat lain yang jauh jaraknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kelima, kesulitan permodalan. Diakui bahwa pihak perbankan pada umumnya masih belum berani memberikan bantuan permodalan kepada indutri kreatif. Ini terutama karena industri ini lebih bersifat intangible, tidak fisikal. Diperlukan pendekatan dan kerjasama pada  tingkat pemerintah untuk  menciptakan kemudahan bagi para pelaku indutri kreatif agar mendapatkan modal. Kalau dibiarkan sendiri para pelaku ini berhubungan dengan pihak perbankan, mungkin akan tetap saja  sulit mendapatkan modal. Tetapi, kalau difasilitasi oleh pemerintah dengan perbankan di tingkatan pengambil kebijakan, tentu persoalannya tak lagi rumit. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keenam, masalah perlindungan hak cipta. Banyak dikeluhkan, bahwa untuk mendapatkan hak cipta hasil penelitian, misalnya, dibutuhkan waktu bertahun-tahun. Dalam era ekonomi kreatif, isu penting yang harus diatasi adalah pembajakan. Buku, musik, atau perangkat lunak sulit untuk dibuat, tetapi dengan mudah digandakan, apalagi dengan kehadiran internet. Padahal, pencurian hak cipta intelektual sangat mematikan inovasi dan kreativitas. Inilah problem yang membuat orang kadang-kadang enggan mengurus hak cipta. Apalagi di dalam masyarakat kita belum terlalu mempedulikan hak cipta ini. Hasil kreasinya dipandang sebagai milik bersama yang boleh ditiru tanpa merasa perlu komplain. Bahkan, dalam masyarakat masih terdapat pandangan, kalau produk kreatif yang dihasilkan ditiru oleh orang lain, malah jadi kebanggaan. Peningkatan pemahaman akan hak cipta dan penanggulangan pembajakan karya cipta memang harus terus diupayakan. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketujuh, ketersediaan ruang publik yang terbatas. Untuk mempromosikan produk industri kreatif ada banyak pilihan. Promosi melalui media online/internet dengan membuat website/situs, bisa pula promosi melalui ruang-ruang publik yang tersedia. Penulis pikir, hal ini tak terlalu masalah, sebab di daerah-daerah terserak ruang publik yang bisa dipakai sebagai ajang pameran indutri kreatif. Gedung-gedung milik pemerintah daerah bisa dimanfaatkan untuk kepentingan ini. Ada juga galeri-galeri dan  areal-areal pameran yang dikelola swasta yang bisa dimanfaatkan melalui kerjasama yang saling menguntungkan. Bila dianggap belum cukup, bisa dibangun ruang-ruang publik yang secara kontinu bisa menjadi tempat mempromosikan produk kreatif hasil masyarakat di sekitarnya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhirnya, semoga ekonomi kreatif Indonesia melalui industri-industri kreatifnya dapat berkembang menjadi identitas dan kebanggaan bangsa, sekaligus sebagai sumber kesejahteraan masyarakat yang dapat diandalkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3541244758195685981?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3541244758195685981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/upaya-mengatasi-problem-ekonomi-kreatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3541244758195685981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3541244758195685981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/upaya-mengatasi-problem-ekonomi-kreatif.html' title='Upaya Mengatasi Problem Ekonomi Kreatif'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3996685719714323803</id><published>2011-11-23T00:50:00.000-08:00</published><updated>2011-12-03T17:55:50.225-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Sembilan belas Kata “Jangan Lupa” untuk Penulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://cantikamalam.files.wordpress.com/2011/08/menulis-cerpen.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://cantikamalam.files.wordpress.com/2011/08/menulis-cerpen.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kali ini saya hadir dengan sembilan belas kata “jangan lupa.” Kata-kata ini khusus dialamatkan kepada para penulis yang juga adalah sahabat-sahabat saya sesama kompasianer. Sebagian besar mungkin kedengarannya klise. Tapi, di tingkat implementasi kadangkala terlupakan. Anggap saja ini sebagai pengingat bagi yang lupa dan sebagai penyemangat bagi yang kendor, he he he. Inilah kesembilan belas kata “jangan lupa” itu:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Jangan lupa membaca buku yang sesuai dengan passion;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Jangan lupa menulis sesuai dengan bidang/minat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Jangan lupa mengedit tulisan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Jangan lupa mengamati sekitar;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;5. Jangan lupa berdiskusi;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;6. Jangan lupa mencari pengetahuan dan pengalaman baru;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;7. Jangan lupa melibatkan diri dalam kelompok tulis-menulis;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;8. Jangan lupa berguru kepada penulis yang telah sukses;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;9. Jangan lupa mengasah kemampuan menulis;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;10. Jangan lupa meng-upload tulisan di media online;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;11. Jangan lupa menulis juga untuk media cetak seperti koran dan majalah (bagi yang belum);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;12. Jangan lupa berjuang menulis buku demi buku (bagi yang belum);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;13. Jangan lupa membaca karya sastra;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;14. Jangan lupa membaca karya jurnalistik;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;15. Jangan lupa membaca teknik menulis artikel (opini, sastra, atau lainnya);&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;16. Jangan lupa mendokumentasikan  tulisan sendiri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;17. Jangan lupa berolah raga;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;18. Jangan lupa beristirahat;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;19. Jangan lupa tertawa, ha ha ha ha ha. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada lagi? Silakan tambahkan. Selamat pagi dan selamat menulis,  sahabatku. Salam hangat untuk semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3996685719714323803?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3996685719714323803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/sembilan-belas-kata-jangan-lupa-untuk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3996685719714323803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3996685719714323803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/11/sembilan-belas-kata-jangan-lupa-untuk.html' title='Sembilan belas Kata “Jangan Lupa” untuk Penulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-2809235767501518970</id><published>2011-07-08T05:37:00.000-07:00</published><updated>2011-12-06T04:25:20.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Buku Baru : Sukses Menulis dengan Memanfaatkan Pikiran Bawah Sadar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309493269898872204.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/07/1309493269898872204.jpg" width="300" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Judul : &lt;/span&gt;&lt;b style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Subconscious Mind Writing: Memanfaatkan&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Kecerdasan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Penulis : &lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Penerbit : Udayana University Press, 2011&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Halaman : xiv + 182 halaman&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;ISBN&amp;nbsp; : 978-602-9042-23-8.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;"&gt;Buku&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Subconscious Mind Writing&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;berbicara banyak hal tentang dunia tulis-menulis. Diantaranya, tentang bagaimana mendapatkan ide untuk penulisan, menyusun artikel dan mempublikasikannya, serta bagaimana menyikapi artikel yang ditolak. Yang menjadi fokus utama buku ini adalah tentang pemanfaatan kemampuan pikiran bawah sadar dalam menggali ide untuk penulisan, teristimewa ide-ide orisinal.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;"&gt;Banyak penulis yang pada awalnya merasa tidak punya ide untuk ditulis, namun ketika mereka praktik menulis, ternyata ide-ide itu mengalir deras ke luar dari pikiran dan terekam ke dalam bentuk tulisan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;"&gt;Bagaimana semua itu bisa terjadi? Bagaimana masuk ke dalam suasana itu, yang oleh beberapa kalangan disebut dengan proses&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;trance&lt;/i&gt;, meditatif, atau proses kreatif? Jawabannya ada di dalam buku ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0.0001pt; margin-left: 0cm; margin-right: 0cm; margin-top: 0cm; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif; font-size: 11pt;"&gt;Di samping menyinggung tentang berbagai hal mengenai seluk-beluk dunia tulis-menulis, termasuk di dalamnya tentang menggali ide dari pikiran bawah sadar dan dari kecerdasan semesta, buku ini juga berisi dorongan menulis untuk para penulis pemula dan calon penulis. Buku yang ber-&lt;i&gt;cover&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;dasar biru ini cocok dibaca oleh para siswa, mahasiswa, guru, dan siapa saja yang tertarik untuk mengetahui dan menekuni dunia penulisan artikel untuk media massa.&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;“Membaca buku ini bukan hanya menemukan hal baru dalam proses penulisan, tetapi juga kiat-kiat untuk dapat menghasilkan karya tulis yang bermutu,&lt;/b&gt;” tulis wartawan senior, Widminarko, dalam&lt;span class="apple-converted-space"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;endorsement&lt;/i&gt;-nya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-2809235767501518970?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/2809235767501518970/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/buku-baru-sukses-menulis-dengan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2809235767501518970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2809235767501518970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/buku-baru-sukses-menulis-dengan.html' title='Buku Baru : Sukses Menulis dengan Memanfaatkan Pikiran Bawah Sadar'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-6132207689001958807</id><published>2011-07-08T05:34:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T16:47:39.553-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Apa Alasan Kita Ada di Bumi?</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya masih teringat ketika dulu menjadi pengunjung tetap sebuah perpustakaan. Seperti biasa, setiap dua minggu sekali saya berkunjung ke perpustakaan itu untuk menukar buku yang saya pinjam sebelumnya dengan buku lain. Dua buku dalam dua minggu menjadi bacaan wajib saya, apa pun jenis buku itu. Yang terpenting saya berminat membacanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Suatu hari saya ngobrol dengan seorang karyawan setempat. Kami bersalaman, terlibat obrolan singkat, sebelum memulai mencari-cari buku yang menarik perhatian saya. Inilah petikannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Pak Suweca kan sudah selesai kuliah, kok masih meminjam buku?,” tanya karyawan itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Memangnya kenapa kalau masih meminjam buku?,” saya tanya balik.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Nggak apa-apa sih, tapi Pak kan sudah tak kuliah lagi, kok masih suka meminjam buku?,” katanya memberi alasan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="margin-left: 1cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;“Ya, saya pinjam buku karena nggak bisa beli, he he. Lagi pula saya senang baca-baca untuk mengisi waktu luang,” jawab saya sekenanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Mungkin seperti karyawan itulah pandangan masyarakat kita pada umumnya, bahwa kalau sudah tidak bersekolah lagi, maka seseorang tak lagi pantas melahap isi buku. Sayangnya, yang bertanya itu seorang pegawai perpustakaan! Tapi, tak apalah, karena dia tak tahu kalau saya suka menulis yang selalu memerlukan bacaan. Tak apalah, karena dengan begitu, saya jadi dapat ide untuk memberi ilustrasi pada artikel pendek ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Membaca hanya untuk mereka yang sedang menempuh pendidikan formal. Kalau sudah tidak kuliah/bersekolah lagi, tak perlu membaca buku! Tentu saja kita tidak sependapat dengan pandangan di atas. &lt;b&gt;Membaca adalah salah satu cara pengembangan diri melalui penambahan pengetahuan. Pengembangan diri menjadi sesuatu yang penting manakala kita ingin mencapai kemajuan bersamaan dengan bergulirnya waktu.&lt;/b&gt; Dengan alasan pengembangan diri inilah mengapa orang mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan. Dengan alasan ini pula mengapa orang yang sudah berumur lanjut memutuskan untuk kembali ke kampus. Mungkin dengan alasan ini pula mengapa kita saling berbagi di kompasiana, saling menimba pengetahuan dan pengalaman. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Penulis Gail Sheehy, seperti dikutip John C. Maxwell, mengatakan bahwa &lt;b&gt;“Jika tidak berubah, kita tidak akan pernah bertumbuh. Jika tidak bertumbuh, kita tidak akan hidup.”&lt;/b&gt; Atau, &amp;nbsp;seperti dikatakan penyair Robert Browning: &lt;b&gt;“Apa alasan kita ada di bumi selain untuk bertumbuh?”&lt;/b&gt; Jadi, pengembangan diri penting dan perlu, sehingga seharusnya menjadi pilihan kita. &amp;nbsp;&lt;b&gt;Jika kita masih berpikir bahwa dengan diam saja kita masih bisa berhasil, maka kita salah besar!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Selamat menjalani pengembangan diri. Salam hangat. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-6132207689001958807?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/6132207689001958807/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/apa-alasan-kita-ada-di-bumi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6132207689001958807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6132207689001958807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/apa-alasan-kita-ada-di-bumi.html' title='Apa Alasan Kita Ada di Bumi?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7914682328238101315</id><published>2011-07-08T05:30:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T16:51:52.199-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Sudah Duduk, Lupa Berdiri</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Judul artikel ini saya ambil dari pepatah lama yang menunjuk pada orang yang &lt;i&gt;emoh&lt;/i&gt; meninggalkan kekuasaannya walau waktu &lt;i&gt;lengser&lt;/i&gt;-nya sudah tiba. Ketidaksediaan melepaskan kekuasaan itu disebabkan enaknya duduk di kursi empuk kekuasaan. Ketika waktunya ia harus turun tahta, bukan main sulitnya. Secara mentalitas, orang seperti ini biasanya sudah sangat lama dan sangat betah berada pada wilayah atau area nyaman &lt;i&gt;(comfort zone),&lt;/i&gt; sehingga enggan keluar dari situ. Penguasa yang telah mendapatkan banyak fasilitas dengan segala hak istimewa di dalamnya membutuhkan kearifan untuk bisa&lt;i&gt; legowo&lt;/i&gt; meninggalkan kursi empuk kekuasaan secara suka rela. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Tentu saja, ungkapan ‘sudah duduk, lupa berdiri’ tidak hanya relevan dengan kekuasaan. Dalam hal-hal lain pun ungkapan itu dapat berlaku. Dalam dunia kewirausahaan, misalnya, seorang wirausahawan yang kini tengah menikmati hasil dari kemajuan usahanya tak boleh cepat merasa puas.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ia mesti segera melakukan perubahan-perubahan menuju ke perbaikan atau peningkatan sekaligus mengcegah kemandekan. Dia tak boleh berlama-lama berada dalam zone nyaman, melainkan harus melakukan perubahan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Orang yang sedang meniti karier pun seyogianya demikian. Kendati pun kini dia berhasil meraih posisi tinggi dalam perusahaan/institusi dan mendapatkan gaji yang sudah relatif besar bagi ukurannya, ia tak bisa berhenti berubah. Dia mesti selalu memperkuat kompetensinya sehingga menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Ia&amp;nbsp; sama sekali tak boleh berhenti belajar jika tak ingin ‘ketinggalan kereta’ di era informasi ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Bagaimana dengan para penulis? Penulis yang berhasil dalam karier penulisannya sangat berbahaya kalau sampai lupa belajar, lupa men-&lt;i&gt;charge&lt;/i&gt; dirinya &lt;i&gt;saking &lt;/i&gt;nyamannya posisi dan kondisi yang diperolehnya kini. Penulis yang baik adalah dia yang selalu belajar dengan memperluas wawasannya tanpa pernah berhenti. Ia benar-benar menyadari bahwa dia adalah &lt;b&gt;orang yang tahu bahwa sesungguhnya ia tidak&lt;/b&gt; &lt;b&gt;tahu&lt;/b&gt; sehingga dia bersedia belajar. Ia menyadari betapa luas dan dalamnya samudra ilmu yang belum&amp;nbsp; diselami. Kerendahan hatinya pun senantiasa terjaga. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Jadi, apa pun pekerjaan seseorang, tak terkecuali sebagai penulis,&amp;nbsp; dia harus berani keluar dari zone nyaman dengan melakukan perubahan. Ia mesti bersiap-siap untuk perang, sebelum perang sesungguhnya terjadi. Laksana komandan militer, ia membangun ‘angkatan perang’-nya di masa damai, bukan baru mulai melakukan itu di masa perang. Itu harus dilakukannya &amp;nbsp;jika ingin mencapai kemajuan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Demikian sapaan saya siang ini. Salam hangat untuk semua.. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7914682328238101315?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7914682328238101315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/sudah-duduk-lupa-berdiri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7914682328238101315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7914682328238101315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/sudah-duduk-lupa-berdiri.html' title='Sudah Duduk, Lupa Berdiri'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1832227763354489555</id><published>2011-07-08T05:27:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T16:51:25.415-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Belajar dari Koran Kompas</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Saya tidak berlangganan Kompas. Hanya membelinya secara eceran. Ada pedagang koran di pinggir jalan yang mangkal dengan lapak kecilnya setiap pagi, menjadi langganan saya. Kemarin saya berburu koran ini di tempat pengecer itu. Tapi, koran yang saya cari&amp;nbsp; sudah habis. Di sebelah pengecer langganan saya itu, ada lagi tiga pedagang lain. Saya tanya, apakah Kompas masih ada. Jawaban mereka sama: “sudah habis.” Salah seorang dari mereka berucap: “Tadi diborong oleh seorang pembeli. Tersisa empat, dibeli semua,” ujar salah satu dari pedagang koran itu. Apa akal? Saya pun meneruskan perburuan. Kali ini saya langsung ke agen. Syukur, saya dapatkan koran itu. Saya beli satu eksemplar untuk mengobati rasa rindu saya yang tiada pernah habisnya terhadap koran nasional yang satu ini. Bahkan dalam hati saya beryukur ada koran bagus di negeri ini yang konsisten mempertahankan kualitas dan keberagaman isi. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Ada sejumlah manfaat yang bisa saya dapatkan dari membaca Kompas, terutama terkait dengan usaha pembelajaran diri. Pertama, dengan membaca Kompas dipastikan saya akan dapat &lt;b&gt;menambah pengetahuan dan informasi baru di berbagai bidang&lt;/b&gt;: teknologi, ekonomi, pendidikan, budaya, dll. &amp;nbsp;Yang paling saya gandrungi adalah tulisan &lt;i&gt;Opini&lt;/i&gt; pada halaman 6 dan 7. Saya banyak belajar dari para pakar di kolom itu, seperti Yudi Latif dan Airlangga Pribadi. &amp;nbsp;Lalu, khusus hari Minggu, saya tertarik membaca menikmati rubrik &lt;i&gt;Cerpen&lt;/i&gt;-nya yang selalu bagus, &lt;i&gt;Persona&lt;/i&gt;, serta tulisan ringan yang selalu menggelitik dari Samuel Mulia dalam rubrik &lt;i&gt;Parodi.&lt;/i&gt; Oh ya, saya juga suka sekali dengan laporan hasil riset Kompas yang saya yakini sangat akurat dan bermanfaat untuk menambah referensi pembaca. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Kedua, saya juga &lt;b&gt;banyak &amp;nbsp;belajar menulis&lt;/b&gt; dari koran Kompas. Beragam tulisan yang dimuat di media tersebut tentu sudah melewati proses seleksi yang ketat. Hanya tulisan yang memenuhi syarat saja yang bisa masuk di situ, ya bobotnya, ya tata tulisnya. Gaya penulisan Kompas, menurut saya, layak dipedomani, sebelum pembaca (yang penulis) menemukan sendiri gaya penulisannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: large;"&gt;Ini baru dua hal yang secara langsung dapat saya petik dari membaca &amp;nbsp;Kompas. Tentu masih banyak lagi manfaat yang dapat diperoleh dari koran nasional ini. Oh ya, Kompas mendapatkan penghargaan lho! Nama penghargaan itu &lt;b&gt;&lt;i&gt;THE BEST NATIONAL NEWSPAPER (GOLD&lt;/i&gt;)&lt;/b&gt; yang merupakan &lt;b&gt;Penghargaan Indonesia Print Media Award (IPMA 2011)&lt;/b&gt; dari Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS). &lt;b&gt;SELAMAT KEPADA SEGENAP JAJARAN KOMPAS.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; &lt;i&gt;Keep your quality.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1832227763354489555?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1832227763354489555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/belajar-dari-koran-kompas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1832227763354489555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1832227763354489555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/belajar-dari-koran-kompas.html' title='Belajar dari Koran Kompas'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-6287377325431576080</id><published>2011-07-08T05:22:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T16:51:15.818-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menulis dengan Tiga Pisau Bedah!</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Lucida Handwriting&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Proses &lt;i&gt;editing &lt;/i&gt;(pengeditan) merupakan langkah yang tidak boleh ditinggalkan oleh penulis yang baik. Dengan editing ini, diharapkan tulisan yang dihasilkan menjadi &amp;nbsp;jauh lebih baik dibanding konsep awalnya. Sebuah tulisan yang baru selesai dikerjakan pada tahap konsep awal biasanya cukup banyak kesalahannya. Itulah sebabnya seorang penulis melakukan pengeditan sebelum dikirim ke media, baik media &lt;i&gt;online &lt;/i&gt;maupun cetak. Perbaikan itu bukan hanya dilakukan satu atau dua kali, bahkan mungkin berkali-kali, sampai &amp;nbsp;dia&amp;nbsp; benar-benar merasa mantap sebelum mempublikasikan hasil karyanya. Ia menyadari bahwa &lt;b&gt;sebuah tulisan merupakan representasi diri penulisnya.&lt;/b&gt; Tulisan yang dibuat secara cermat mencerminkan sang empunya yang teliti/saksama dalam berkarya; suatu sifat yang diperlukan dalam karier penulisan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Saya berpendapat, paling tidak ada 3(tiga) pisau bedah yang bisa dipakai dalam mengedit &amp;nbsp;sebuah konsep tulisan. Dengan ‘senjata’ tiga pisau bedah itu kita dapat &amp;nbsp;membongkar,, menemukan, dan mengeluarkan semua benih-benih ‘penyakit’ pada tubuh sebuah karya. Tentu saja pisau bedahnya sendiri mesti tajam, sehingga proses ‘operasi’ dapat berjalan dengan sukses. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Pertama, &lt;b&gt;pisau bedah kata.&lt;/b&gt; Kata-kata adalah kekayaan yang menjadi modal utama bagi seorang penulis. Dengan kata-kata, penulis menyampaikan gagasannya. Sebuah tulisan menjadi kering dan tidak enak dibaca bila tidak dirajut dengan kata-kata yang sesuai. Ada beberapa hal yang perlu dibedah dalam kaitannya dengan kata, di antaranya dengan mengajukan pertanyaan : apakah kata-kata atau ungkapan yang membentuk kalimat dalam tulisan itu sudah menerapkan &lt;b&gt;ekonomisasi kata&lt;/b&gt;? Dengan kata lain, tidakkah ada kata-kata yang mubazir yang masih termuat di dalamnya? Selanjutnya, apakah kata-kata yang dipilih sudah benar-benar mewakili pikiran dan perasaan penulisnya sehingga terhindar dari pemahaman yang bias pada pembaca? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Kedua, &lt;b&gt;pisau bedah logika.&lt;/b&gt; Dalam setiap tulisan ada sejumlah ide yang dikemukakan. Ide-ide itu diurai sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh pembaca. Berkenaan dengan hal ini, pertanyaan yang dapat diajukan adalah: sudahkah logika penulisan benar-benar diterapkan?&amp;nbsp; Artinya, sudahkan tulisan itu didasarkan pada penalaran yang benar (induktif atau deduktif)? Tidakkah ada bagian-bagian yang kontradiktif antarpernyataan yang membentuk tulisan itu? Hendaknya logika pembentuk tulisan mengalir &amp;nbsp;lancar menuju muara pengertian yang tepat sesuai dengan maksud si penulis. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;Ketiga, &lt;b&gt;pisau bedah orisinalitas&lt;/b&gt;. Karya tulis yang bernilai tinggi adalah karya yang menyajikan orisinalitas, yakni sesuatu yang baru, yang merupakan pandangan penulisnya sendiri. Mengkompilasi pendapat banyak orang bukanlah hal tabu, tetapi kalau di dalamnya dilengkapi dengan pemikiran orisinal si penulis, tentu tulisan itu menjadi lebih berbobot. Jadi, &amp;nbsp;menulis bukan sekadar menulis, melainkan hanya kalau ada hal baru atau sudut pandang baru terhadap suatu peristiwa/pendapat orang lain yang hendak dikemukakan, sesederhana atau sekecil &amp;nbsp;apa pun itu. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;“Tulisan yang bagus”&lt;/b&gt;, ungkap Malcom Gladwell dalam pengantar buku &lt;i&gt;What the Dog Saw&lt;/i&gt;, &lt;b&gt;“dinilai berhasil bukan dari kekuatannya meyakinkan. Tulisan yang baik dinilai berhasil jika tulisan tersebut mampu membuat Anda terlibat, berpikir, memberi Anda kilasan pikiran seseorang.”&lt;/b&gt; &amp;nbsp;Semoga tiga pisau bedah itu dapat membantu kita dalam menghasilkan karya terbaik. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-6287377325431576080?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/6287377325431576080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/menulis-dengan-tiga-pisau-bedah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6287377325431576080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6287377325431576080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/menulis-dengan-tiga-pisau-bedah.html' title='Menulis dengan Tiga Pisau Bedah!'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5686079958522467188</id><published>2011-07-08T05:18:00.001-07:00</published><updated>2011-12-06T04:30:13.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Yudi Latif dengan Negara Paripurna</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: inherit;"&gt;I Ketut Suweca &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Informasi tentang buku karya Yudi Latif yang berjudul lengkap &lt;b&gt;&lt;i&gt;Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; saya dapatkan dari harian Kompas. Beberapa artikel di media nasional itu mengutip pendapat Yudi Latif dalam buku ini. Saya pun penasaran, ingin mengetahui seperti apa wujud dan isi buku tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Sore hari, usai sembahyang di sejumlah pura saat Hari Raya Galungan, saya dan keluarga singgah ke Toko Buku Gramedia Matahari, Denpasar. Maksud hati memang mencari buku itu dan buku Rosihan Anwar yang berjudul &lt;b&gt;&lt;i&gt;Belahan Jiwa.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Menyusuri lapak-lapak buku baru, saya belum juga menemukan buku tersebut. Lalu, saya putuskan bertanya kepada karyawan setempat, dan dia membantu menunjukkan buku yang saya maksud. Eh ternyata, kedua buku baru itu diletakkan berdampingan. Saya sangat ingin membeli kedua-duanya sekaligus, tapi dengan pertimbangan dana, saya putuskan hanya membeli karya Yudi Latif. Buku karya Rosihan Anwar akan saya beli kemudian. Buku Yudi Latif, saya pikir, dapat menjadi sumber referensi penulisan praproposal yang sedang saya susun, sehingga buku karya doktor sosiologi-politik itulah yang saya prioritaskan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Begitu sampai di rumah, dengan tidak sabar saya membuka buku berharga Rp.195.000,- tersebut. Buku itu berketebalan xxvii + 667 halaman. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, tahun 2011. Isinya? Buku ini mengandung&lt;i&gt; &lt;/i&gt;sejarah Pancasila, sebuah sejarah panjang yang terbentang di belakang kelahirannya. Inilah yang dimaksudkan Yudi Latif dengan historiositas. Keberadaan Pancasila dengan sejarah panjangnya itu secara rasional memang merupakan kehendak bangsa, pilihan terbaik untuk menyatukan keberagaman etnik yang ada di bumi Nusantara. Pancasila adalah jawaban bagi pluralitas bangsa ini. Inilah yang dimaksud oleh si penulis dengan rasionalitas. Dalam buku ini, Yudi Latif berupaya mengkontekstualkan kelima nilai luhur Pancasila dengan kebutuhan kekinian. Inilah rupanya yang dimaksudkan penulisnya dengan aktualitas. Dengan begitu, anak bangsa ini tidak hanya dituntut untuk kembali kepada Pancasila, bahkan juga menjaga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dengan cara mengaktualisasikan ke dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Gagasan-gagasan brilian dalam buku ini disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan enak dibaca tanpa menghilangkan kadar keilmiahannya. Oleh karena itu, karya berharga ini pantas dibaca oleh siapapun yang mengaku sebagai warga negara Indonesia. “… semoga buku ini sedikit banyak&amp;nbsp; menjadi sumbangan buat dimulainya pencerahan bangsa kita atau &lt;i&gt;aufklarung&lt;/i&gt; sebagai titik balik menuju &lt;i&gt;renaissance&lt;/i&gt; atau kebangkitan kembali bangsa kita,” tulis ekonom Kwik Kian Gie, dalam&lt;i&gt; endorsement&lt;/i&gt;-nya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Calibri, sans-serif;"&gt;Saya membaca buku ini dengan gaya seperti tupai, melompat-lompat, agar segera mengetahui isinya secara sepintas sehingga dapat mengabarkannya di sini. Saya masih harus terus membaca buku ini sampai tuntas, he he. &amp;nbsp;Selamat sore dan selamat beraktivitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5686079958522467188?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5686079958522467188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/yudi-latif-dengan-negara-paripurna_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5686079958522467188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5686079958522467188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/07/yudi-latif-dengan-negara-paripurna_08.html' title='Yudi Latif dengan Negara Paripurna'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5873989351506796376</id><published>2011-05-22T04:27:00.000-07:00</published><updated>2011-12-03T16:51:02.206-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Serial I Love Writing di Penerbit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://rlv.zcache.com/i_love_writing_heart_custom_personalized_mug-p1688065111326087682otmb_400.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://rlv.zcache.com/i_love_writing_heart_custom_personalized_mug-p1688065111326087682otmb_400.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Masih ingatkah sahabat tentang serial I Love Writing kita yang belum lama ini berakhir? Serial tersebut tuntas hingga episode &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;35. Sejak awal diposting, naskah berseri itu  memang direncanakan untuk diterbitkan menjadi buku, termasuk di dalamnya komentar-komentar para sahabat (selektif). &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guna merealisasikan niat itu, baru saja saya membawa draft naskah lengkap serial tersebut ke penerbit Udayana University Press. Direktur penerbitan itu sudah menyatakan kesediaan beliau menerbitkan buku dimaksud. Tetapi, waktu yang dibutuhkan untuk bisa terbit cukup lama, 4 sampai 5 bulan. Mengapa lama? Karena, ada sejumlah naskah lain yang lebih dulu masuk sehingga mesti dikerjakan lebih dulu. Jadi, harus rela ngantre. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Judul buku itu nanti bukan I Love Writing, melainkan Menulis dengan Modal Nekat. Mengapa judul itu dipakai?  Sebagaimana diketahui, salah satu satu artikel dalam serial itu berjudul  I Love Writing (29) : Menulis dengan Modal Nekat, Bisakah? Postingan itu ternyata paling ramai dikunjungi dan dikomentari oleh para sahabat. Mungkin judul itu terasa ngepop dan mengikuti trend dan ditampilkan cukup lama di halaman depan kompasiana. Akhirnya, judul itulah yang dipakai sebagai judul buku. &lt;br /&gt;Ada tiga orang sahabat yang saya mohonkan endorsement/rekomendasi. Endorsement itu akan dimuat di kulit belakang-luar buku. Beliau adalah Bapak Johan Wahyudi, Bapak Wijaya Kusumah (Omjay), dan Bapak Joko Martono. Terkait dengan hal ini, saya menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada beliau bertiga yang sudah meluangkan waktu menulis endorsement dan mengirimkannya kepada saya melalui e-mail belum lama ini. Terima kasih juga kepada semua sahabat yang telah berkontribusi melalui komentar-komentar yang bermanfaat sehingga membuat buku itu menjadi lebih lengkap, komprehensif, dan semarak. &lt;br /&gt;Kini draft buku itu sudah di penerbit. Mari kita tunggu dengan sabar hasil terbitannya. Sampai jumpa, sahabat. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5873989351506796376?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5873989351506796376/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/serial-i-love-writing-di-penerbit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5873989351506796376'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5873989351506796376'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/serial-i-love-writing-di-penerbit.html' title='Serial I Love Writing di Penerbit'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-2167253024166443861</id><published>2011-05-22T04:23:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T04:23:07.751-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Ide, Penulis,  dan Pembaca</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://damtara.files.wordpress.com/2011/02/menulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://damtara.files.wordpress.com/2011/02/menulis.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Keluhan tentang sulitnya mendapatkan ide untuk dijadikan bahan tulisan sudah kerap kita dengar dan baca. Para penulis pemula yang paling banyak mengeluhkan hal ini. Benar, bahwa menulis itu memerlukan bahan mentah untuk ditulis. Kalau kita miskin ide atau gagasan, apa yang mau ditulis? Kalau pun dipaksa menulis, maka hasilnya tidak seperti kita harapkan, jauh dari berkualitas. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adakah cara manjur mengatasi kekeringan ide? Sesungguhnya,  kekeringan ide itu terjadi karena tidak ada upaya untuk mengatasinya. Mungkin lantaran tidak tahu caranya atau tidak mau melakukannya. Kalau upaya itu ada, kekeringan ide tidak akan pernah muncul. Lalu, bagaimana mengatasi kekeringan ide itu? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulailah menulis dari apa yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, apa yang kita rasakan, apa yang kita alami, apa yang kita baca.  Indera-indera kita setiap waktu mampu menangkap berbagai fenomena yang terjadi di luar diri dan merefleksikannya ke dalam pikiran dan hati. Apa yang kita lihat di luar sana? Apa yang kita rasakan dan alami? Tulis saja itu sebagai langkah awal. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak cukup hanya dengan menangkap dan merefleksikan fenomena yang ada. Itu adalah langkah pertama sebelum masuk ke langkah berikutnya, yakni mencari bahan/referensi tulisan itu. Referensi itu perlu untuk menambah bobot pada karya kita. Dalam kaitan ini, mungkin yang diperlukan adalah data pendukung, kata/ucapan para tokoh, sedikit humor, atau lainnya. Masukkan saja itu ke dalam tulisan kita sepanjang perlu.&lt;br /&gt;Jangan pernah dilupakan opini atau pandangan kita sendiri. Jangan hanya mengkompilasi pendapat atau informasi yang diperoleh. Tulisan seperti itu kurang berharga. Yang membuatnya berharga justru karena di dalamnya ada opini orisinal sang penulisnya. Apa pendapat penulis tentang suatu peristiwa? Apa pendapat penulis  tentang pandangan orang lain? Apa pula pendapat penulis tentang fenomena yang terjadi? Orang  harus punya pendapat sendiri dalam tulisan. Tidaklah baik sebuah tulisan yang hanya kumpulan hasil copypaste sejumlah pendapat yang diurut begitu rupa. Dari sisi kebaruannya, ini benar-benar tidak tercermin. Apakah kita tidak memiliki pendapat? Mustahil bukan? Karena setiap orang, apalagi  yang berpredikat sebagai penulis punya pendapat -- karena ini modal dasarnya --  maka kemukakan saja ke dalam tulisan. &lt;br /&gt;Mengikat Ide yang Berkeliaran&lt;br /&gt;Saya acapkali merasakan hadirnya berbagai ide ke dalam pikiran. Ia singgah sebentar, lalu pergi. Tak diundang ia datang, tak diusir dia pergi. Ide-ide itu datang dan pergi sekehendak hati. Dan, saya hanya sebagai penonton permainannya. Entah berapa banyak ide-ide baru yang terlewatkan begitu saja. Sesekali saya merasa kecewa karena kehilangan ide-ide itu. Saya pun terkadang berusaha  mengundangnya untuk kembali, tapi gagal. Ide yang hilang tetap hilang, emoh kembali. Begitulah yang pernah terjadi, dulu, ketika ide-ide itu datang dan pergi begitu saja tanpa saya berbuat sesuatu apa pun terhadapnya. &lt;br /&gt;Ide adalah sebuah karunia Tuhan yang tiada taranya, yang kalau dikelola dengan baik, akan sangat berguna. Perhatikanlah di sekitar, bagaimana sebuah ide awal yang tampaknya sepele menjadi sesuatu yang berharga setelah dimanfaatkan, diwujudkan, dan dikembangkan. Banyak orang, di antaranya pengusaha,  yang kini maju dalam bidangnya, pada awalnya dimulai dari sebuah ide sederhana. Kita tidak terlalu sulit menemukan mereka yang berhasil dalam bidangnya berawal dari sebuah ide yang tampak sepele. &lt;br /&gt;Lalu, sebagai orang yang berniat luhur menjadi penulis sukses, apa yang bisa kita lakukan? Adakah kita akan membiarkan saja ide-ide yang datang dan pergi begitu saja sebagaimana yang pernah saya lakukan dulu, tanpa berikhtiar untuk berbuat sesuatu terhadapnya? Seorang yang mempunyai obsesi besar menjadi penulis tak akan pernah membiarkan ide-ide itu wara-wiri, melainkan akan menangkap dan mengikat mereka dengan tali yang paling kuat. Tali yang paling kuat yang dipergunakan penulis adalah catatan. Ya, dengan mencatat ide-ide itu. Mencatat berarti menangkap, mencatat berarti mengikat. Dengan mencatatnya, maka ide itu tak akan bisa lagi berkeliaran ke mana-mana. Alih-alih berkeliaran, ia malah mengundang anak-anaknya, cucunya, cicitnya datang mendekat. Seorang penulis harus cepat dan dengan sigap mengikat satu keluarga besar itu sekaligus. Bukan untuk menyiksa mereka, tapi untuk membuat mereka rapi dan elok sehingga bisa ditampilkan di panggung pertunjukan pembaca. Keindahan tariannya, kemolekan penampilannya, membuat para pembaca berdecak kagum, sampai-sampai ada yang berani membayar mahal pada sang sutradara pertunjukan, yakni penulisnya.  &lt;br /&gt;Mari kita ikat ide-ide yang datang dengan mencatatnya di buku, ipad, handphone, dan sarana apa saja yang bisa dimanfaatkan untuk itu. Setelah itu, ide-ide tersebut kita kemas dan kembangkan sedemikian rupa sehingga bisa tampil sebagai sebuah karya tulis yang menarik dan bernas.  Mengikat ide, itulah tugas sang penulis. &lt;br /&gt;Bagaimana Penulis Memperlakukan Pembaca?&lt;br /&gt;Untuk apa sih orang menulis? Mungkin saja untuk sekadar menumpahkan unek-unek. Ini terutama dilakukan di buku harian (diary). Tetapi, kegiatan menulis/mengarang pada umumnya dilakukan oleh seorang pengarang dengan maksud agar dinikmati orang lain (pembaca) melalui buku, koran, majalah, atau media online. Sebuah tulisan, apa pun bentuknya,  baru membawa kebermanfaatan apabila mampu mengusung maksud sang empunya, yakni menyampaikan pesan (ide, nilai) kepada pembaca. Karena tulisan itu akan bersentuhan dengan pikiran dan hati pembaca, maka seorang penulis yang bijak niscaya akan memperhitungkan  pembaca.&lt;br /&gt;Bagaimana penulis melakukan semua itu? Maksudnya, bagaimana dia mampu memandang pembaca sedemikian rupa agar pesan dalam tulisannya tepat mengena di pikiran dan hati pembacanya? Penulis yang bijak tentu akan berbuat kebajikan melalui tulisannya dengan mengakomodasi kepentingan  calon pembaca  melalui  hal-hal berikut ini : &lt;br /&gt;Pertama, cara penulis memandang tingkat pendidikan pembaca. Pemimpin Redaksi Harian Keng Po di Jakarta tahun 1950-an, Injo Beng Goat,  mengatakan bahwa kalau dia menulis tajuk rencana, maka yang dibayangkan di depan matanya ialah pembaca yang pukul rata berpendidikan sederhana, katakanlah tamatan SMP. Itu dulu. Tapi, kini dengan tingkat pendidikan masyarakat yang lebih baik, kita dapat saja memprediksi pembaca tulisan kita itu rata-rata berpendidikan SMA. Tentu ada pembaca yang mempunyai pendidikan lebih tinggi dari SMA, atau lebih rendah. Nah, dengan mengambil jalan tengah, yakni rata-rata SMA, maka penulis bisa menentukan cara pengungkapan pesan yang relevan. &lt;br /&gt;Kedua, cara penulis memperlakukan pembaca. Ini terkait dengan persoalan karakter penulis : seperti apa ia melihat orang lain? Apakah ia memandang pembaca berderajat lebih rendah dibanding dirinya? Apakah sebaliknya, dia memandang pembaca lebih tinggi derajatnya daripada dirinya?  Atau, ia memandang pembaca sejajar atau sepadan dengan dirinya? Bagaimana ia memandang pembaca, seperti itulah ‘rasa’ tulisan yang akan diciptakannya. Apakah terasa oleh pembaca tulisannya menggurui, mendoktrinasi, mengancam, dan mencela dengan kasar? Atau, apakah terasa oleh pembaca tulisannya mengajak, mendorong, dan menggelitik dengan santun? Tulisan mencerminkan karakter penulisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan itu, mari kita  berusaha untuk menebar kebajikan dengan menulis secara sederhana sehingga gampang dicerna pembaca. Mari kita juga berupaya menjaga kesantunan berbahasa yang tercermin dari  tulisan yang kita ciptakan. Tulisan kita berbicara dengan lantang tentang siapa kita sesungguhnya. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-2167253024166443861?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/2167253024166443861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/ide-penulis-dan-pembaca.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2167253024166443861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/2167253024166443861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/ide-penulis-dan-pembaca.html' title='Ide, Penulis,  dan Pembaca'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3592452329515608137</id><published>2011-05-22T04:22:00.000-07:00</published><updated>2011-05-22T04:22:26.080-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Segera Terbit, Buku Subconcious Mind Writing</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-LGVjnhJ0XYc/Tdjxtn5-xiI/AAAAAAAAACw/bllQ1BMvALw/s1600/Cover+Buku+Kecerdasan+F3.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="295" src="http://3.bp.blogspot.com/-LGVjnhJ0XYc/Tdjxtn5-xiI/AAAAAAAAACw/bllQ1BMvALw/s400/Cover+Buku+Kecerdasan+F3.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang sastrawan, Sunaryono Basuki Ks, pernah mengatakan, ketika sedang menyusun novel ia secara imajiner sering didatangi oleh para tokoh novelnya dan menyuruhnya segera mengetik. Sejak awal ia telah memberi peran kepada masing-masing tokoh fiktifnya itu.  Tetapi, yang kemudian terjadi,  para tokoh dalam cerita novel itu tidak mau mengikuti peran yang dibuat sang sastrawan. Mereka memberontak! Mereka hanya mau berperan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing, dan tak sudi ‘disetir’ oleh sang sastrawan. Dalam keadaan begini, Pak Bas – demikian Sunaryono Basuki Ks biasa dipanggil -- mengaku tidak lebih dari seorang tukang ketik!  Sedangkan, ide-ide cerita datang dari para tokoh novelnya itu. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang Andrias Harefa, pengarang tidak kurang dari 38 judul buku, bertutur bahwa menulis membuatnya melayang dan terbang dari kefanaan. “Saat asyik menulis, saya tak bisa mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. &lt;span class="fullpost"&gt; Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, di mana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan merajut ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya” tulis  Andrias Harefa dalam buku Happy Writing (Gramedia, 2010). &lt;br /&gt;Apa yang sedang terjadi pada sang  sastrawan Sunaryono Basuki Ks?  Apa pula yang terjadi pada seorang Andrias Harefa? Ringkasnya, apa sesungguhnya  yang terjadi pada diri seorang penulis/pengarang sehingga ia dapat menghasilkan setumpuk gagasan yang tidak pernah terpikir sebelumnya? Jawabannya ada di dalam buku yang berjudul lengkap : Subconcious Mind Writing : Memanfaatkan Kecerdasan Luar Biasa Pikiran Bawah Sadar dalam Penulisan.  Dengan membaca buku ini Anda akan mengetahui bagaimana masuk ke dalam pikiran bawah sadar atau ke dalam suasana meditatif saat menulis -- sebagaimana mungkin pernah Anda alami. Anda juga akan memahami betapa suasana meditatif atau orang menyebutkannya dengan nama lain seperti ‘proses kreatif’, ‘trance’, ‘state of mind’, atau istilah lainnya itu, sangat kondusif bagi terlahirnya suatu ide beserta anak, buyut, cicit ide-ide yang mengikutinya. &lt;br /&gt;Buku  bercover dasar warna biru yang akan segera memasuki pasar perbukuan  ini ditulis oleh seorang kompasianer, I Ketut Suweca, (saya sendiri, he he he), diterbitkan Udayana University Press. Bersiap-siaplah untuk memiliki dan membacanya. &lt;br /&gt;Terima kasih sudah menyimak info baru ini. Salam hangat untuk semua sahabat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3592452329515608137?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3592452329515608137/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/segera-terbit-buku-subconcious-mind.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3592452329515608137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3592452329515608137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/05/segera-terbit-buku-subconcious-mind.html' title='Segera Terbit, Buku Subconcious Mind Writing'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-LGVjnhJ0XYc/Tdjxtn5-xiI/AAAAAAAAACw/bllQ1BMvALw/s72-c/Cover+Buku+Kecerdasan+F3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7970923091915927728</id><published>2011-03-17T04:22:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T04:22:02.193-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Apa Gunanya Menulis?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_85FXi3sWado/SrL5-0w8f1I/AAAAAAAAAGM/87vU-UPGJoI/s200/mengarang1.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/_85FXi3sWado/SrL5-0w8f1I/AAAAAAAAAGM/87vU-UPGJoI/s200/mengarang1.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang sahabat kompasianer, Maya,  berkomentar bahwa mengarang itu ‘olah raga sepuluh jari’. Olah raga sepuluh jari?  Ya. Mungkin maksudnya bahwa menulis itu lebih kepada pekerjaan tangan (mengetik dengan sepuluh jari), bukan melulu pekerjaan pikiran. Lebih kepada keterampilan, bukan semata-mata kemampuan intelektual. Keterampilan  menulis bisa diperoleh dengan lebih sering berlatih, ya,  dengan olah raga sepuluh jari tadi.   Saya sepakat dengan Maya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berangkat dari komentar sahabat itu, muncul pertanyaan, apa sebetulnya gunanya menulis/mengarang itu? Dengan mengetahui kegunaan/manfaat menulis/mengarang, bisa jadi akan membuat kita  kian tertarik dengan aktivitas yang satu ini. Maka, dapat diharapkan kian banyak yang berkiprah dan menekuni pekerjaan menuangkan ide melalui bahasa tulis. Inilah sebagian dari jawaban tentang kegunaan menulis. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, menulis itu menyehatkan. Dengan menulis seseorang bisa mengekspresikan segala pemikiran, unek-unek, atau ide-idenya ke atas kertas atau ke komputer. Pemikiran atau perasaan yang tadinya berkelindan di dalam hati, dapat dilepaskan ke luar melalui sebuah karya tulis. Kalau, misalnya, unek-unek itu dipendam, mungkin bisa menjadi penyakit. Mengeluarkan unek-unek yang berkecamuk di dalam hati untuk mengurangi beban yang ditanggung menjadi penting dan perlu. &lt;span class="fullpost"&gt; Banyak orang stress karena memendam emosi, apakah itu rasa marah, kecewa, sedih, benci, dan sebagainya. Dengan menuliskannya, berarti membuangnya ke luar, sehingga kita menjadi bebas dan lebih sehat secara rohani. Kalau tulisan itu tidak ingin diketahui orang lain, maka dibuang atau dibakar saja setelah selesai ditulis lengkap. Pada saat membuang  atau membakarnya, anggap diri kita  tengah membuang berbagai penyakit dan kepenatan hati dan pikiran. &lt;br /&gt;Kedua, menulis itu membagikan. Ya, melalui kegiatan tulis-menulis dan mempublikasikannya, baik melalui internet, seperti di blog sendiri, di website kompasiana.com atau lainnya, kita sudah membagikan ide-ide yang berguna bagi orang lain. Gagagasan yang kita pilih untuk di-upload tentu saja yang diperkirakan akan bermanfaat bagi orang lain atau pembaca. Pengalaman, pengetahuan, dan ilmu yang kita miliki kita sharing kepada pembaca. Ini artinya juga kita beramal kepada sesama. Demikian pula sebaliknya, sahabat lain pun bakal berbagi pengetahuan dan pengalamannya. Jadi, saling take and give. Indah sekali kalau kita bisa saling berbagi, bukan?  Berbagi adalah salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Tuhan. &lt;br /&gt;Ketiga, menulis itu mencerdaskan. Bayangkan saja, setiap kali menulis, kita membutuhkan ide atau gagasan untuk dibagikan. Mau tak mau, kita mesti belajar, bukan? Di samping diambil dari pengalaman sendiri, ide-ide itu bisa bersumber dari berbagai bacaan yang pernah kita baca sebelumnya. Akumulasi hasil pembacaan  yang dipadukan dengan pengalaman itu kemudian kita tuangkan ke dalam tulisan. Jadi, dengan menulis dengan sendirinya kita dituntut untuk senantiasa mengisi pengetahuan dari berbagai sumber secara berkesinambungan. Untuk itu, kita juga mesti rajin membaca buku, majalah, koran, berselancar di internet, mendengarkan siaran berita televisi dan radio, serta  mendengarkan CD yang berguna. Bukankah dengan menambah pengetahuan secara kontinu adalah juga sebuah usaha mencerdaskan diri? Belum lagi kalau kita kaitkan kemampuan berpikir analitis, sistematis, dan kritis yang diperoleh dari aktivitas tulis-menulis.  Ini, lagi-lagi, mencerdaskan. &lt;br /&gt;Keempat, menulis itu mewariskan. Kalau kita berhasil menerbitkan buku, tidak hanya kita yang membacanya, bahkan juga banyak orang. Bukan hanya dibaca oleh generasi masa kini, bahkan mungkin akan dibaca oleh generasi sesudah kita. Pemikiran-pemikiran yang berguna dan berharga pada akhirnya menjadi klasik dan diteruskan secara turun-temurun melalui buku atau karya tulis lainnya. Kalau kita menulis buku berarti kita telah terlibat dalam karya besar: mewariskan sesuatu yang berharga bagi generasi penerus. Sebuah kebanggaan dan prestasi, tentu saja.&lt;br /&gt;Kelima, menulis itu menguatkan. Menguatkan apa? Menguatkan rasa percaya diri! Mungkin saja salah seorang diantara kita merasa kurang memiliki  rasa percaya diri, sehingga lebih memilih untuk berdiam diri, tidak bersuara, memilih menjadi orang nomor kesekian, dan selalu merasa tidak mampu mengerjakan sesuatu. Kalau kita kemudian berhasil mengekspresikan ide-ide melalui artikel di media cetak seperti koran atau majalah, hal ini niscaya akan membangkitkan rasa percaya diri. “Oh ternyata saya bisa, terbukti tulisan saya dimuat di koran,” begitu mungkin ungkapan hati ketika untuk pertama kalinya artikel kita berhasil menembus koran. Kepercayaan diri akan muncul secara perlahan-lahan bersamaan dengan peningkatan kuantitas dan kualitas tulisan yang kita buat dan berhasil menembus media massa. Pada akhirnya, kita dengan gagah  berani bilang bahwa “dunia tulis-menulis adalah bidang tempat saya menunjukkan jati diri dan kemampuan diri.” &lt;br /&gt;Keenam, menulis itu mengisi waktu luang. “Menulis itu mengisi waktu luang secara positif,” ujar Gunawan, sahabat saya di dunia online. “Daripada bengong atau browsing di internet nggak karuan, lebih baik menulis. Waktu itu sangat berguna. Yang tidak bisa memanfaatkan waktu tentulah tergolong orang yang merugi,” tambahnya. Sahabat saya itu benar, menulis adalah salah satu alternatif kegiatan positif  yang sekaligus untuk mengisi waktu luang. &lt;br /&gt;Ketujuh, menulis itu menghasilkan uang. Benar, ketika artikel kita berhasil dimuat di media massa cetak, kita berhak atas honorarium tulisan itu. Honorarium itu, boleh jadi akan semakin menyemangati kita untuk menulis dan menulis lagi serta mengirimkannya ke berbagai media yang ada. Semakin banyak artikel yang berhasil menembus media massa, semakin banyak uang yang bisa kita raup.  Tentu menyenangkan kalau kita mendapatkan tambahan penghasilan setiap bulan dari usaha menulis. &lt;br /&gt;Nah, bagaimana pendapat Anda?  Menulis itu …… (apa lagi ya?)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7970923091915927728?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7970923091915927728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/apa-gunanya-menulis.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7970923091915927728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7970923091915927728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/apa-gunanya-menulis.html' title='Apa Gunanya Menulis?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_85FXi3sWado/SrL5-0w8f1I/AAAAAAAAAGM/87vU-UPGJoI/s72-c/mengarang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3890227701882889203</id><published>2011-03-17T04:21:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T04:21:40.951-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Sepinya Nyepi Di Bali</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://matanews.com/wp-content/uploads/nyepi_sanur1.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://matanews.com/wp-content/uploads/nyepi_sanur1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nyepi itu sepi, di sini, di Bali. Tahun ini, Nyepi jatuh pada tanggal 5 Maret 2011. Nyepi dimaknai sebagai waktu untuk jeda, berdiam diri, hening, untuk mawas diri dan  melihat ke dalam diri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada hari raya ini umat Hindu melakukan Brata Penyepian, yang meliputi :&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;1. Amati geni : umat pantang menyalakan api. Maknanya, umat diharapkan mampu memadamkan api hawa nafsu dengan pengendalian diri;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;2. Amati karya : umat pantang untuk bekerja, yakni melaksanakan aktivitas sehari-hari seperti mencari nafkah dan lainnya;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;3. Amati lelungan : umat pantang melakukan perjalanan ke luar rumah, kecuali yang bersifat sangat vital,  seperti petugas keamanan negara;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;4. Amati lelanguan: umat pantang menikmati hiburan, terlebih-lebih lagi yang bersifat demonstratif yang dapat mengganggu keheningan;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  Brata penyepian tersebut dilaksanakan selama sehari penuh, mulai tanggal 5 Maret dini hari hingga keesokan harinya (di antara akhir dan awal tahun caka). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sebagian umat yang lebih maju spiritualitasnya, keempat brata penyepian itu dilengkapi pula dengan puasa (tidak makan-minum) dan monabrata (tidak berbicara sama sekali) selama 24 jam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sehari setelah Nyepi disebut dengan Ngembak Geni, saatnya umat menyongsong Tahun Baru Caka 1933, dengan mulai membuka lembaran baru. Setelah sehari penuh melakukan instrospeksi diri dalam hening, umat diharapkan mampu melanjutkan aktivitas yang bersifat positif dan meninggalkan aktivitas yang bersifat negatif. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Jika Anda kebetulan berada di Bali pada Hari Raya Nyepi, Anda akan menikmati sepinya Nyepi  tersebut. Selamat Hari Raya Nyepi kepada semua sahabat yang merayakannya.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3890227701882889203?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3890227701882889203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/sepinya-nyepi-di-bali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3890227701882889203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3890227701882889203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/sepinya-nyepi-di-bali.html' title='Sepinya Nyepi Di Bali'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8315133281641712406</id><published>2011-03-17T04:11:00.002-07:00</published><updated>2011-03-17T04:11:52.748-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Terima Kasih White Board-ku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://armorblog.com/wp-content/uploads/2007/10/whiteboard-spacething_small.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://armorblog.com/wp-content/uploads/2007/10/whiteboard-spacething_small.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Kadangkala kita tidak mencermati sesuatu yang kita lewati setiap hari. Dalam perjalanan menuju ke kantor, misalnya,  pernahkah kita memperhatikan salah satu atau beberapa titik yang kita lewati itu? Ketika berada di pasar hampir setiap pagi, pernahkah kita memperhatikan secara detail, misalnya, sebuah tulisan kecil yang berisi peluang bisnis yang ditempel di dinding sebuah kios? Acapkali kita melewati atau melintasinya saja. Kita melihat tetapi sesungguhnya tidak melihat. Banyak hal yang luput dari perhatian kita. Mungkin kita sudah melihat  ‘hutan’-nya tapi tidak memperhatikan ‘pohon-pohon’-nya.  Anehnya, kadang-kadang kita pikir  kita sudah tahu dan hafal semuanya karena sering melewati suatu jalur, tetapi&lt;span class="fullpost"&gt; ketika ditanya salah satu titik di antaranya, kita tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan cukup baik. Ketidakcermatan itu terjadi karena kita memang tidak fokus terhadap suatu objek dan tidak merasa berkepentingan terhadapnya. Benarkah? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Awal Januari 2010 saya membeli  papan tulis putih (white board) berukuran 100 x 80 cm dari sebuah toko. Niat membeli papan ini diawali dari kunjungan  saya  ke rumah seorang teman dekat. Di ruang tamunya yang luas, sebuah papan putih menempel di salah satu dinding. “Itu jadi tempat anak saya corat-coret, belajar nulis,” katanya ketika saya iseng bertanya siapa yang menulis goresan-goresan lucu di atasnya. Entah mengapa, baru setelah itu saya tergerak membeli papan tulis, padahal papan putih yang digantung di tembok hampir setiap kali saya lihat, di kantor-kantor, di kampus, juga di rumah salah seorang anggota keluarga. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Mengapa tertarik dan tergerak secara tiba-tiba? Karena ada fokus yang spontanitas memunculkan kepentingan. Kepentingan  apa pula itu? Begini: kompasiner mungkin sudah mengetahui bahwa saya, seperti Anda juga, suka menulis. Saya sering terbenam asyik menulis sehingga mudah lupa waktu. Nah, begitu melihat papan tulis di rumah teman itu, tiba-tiba saya tergerak membeli papan sejenis untuk tempat menampung ide-ide yang acapkali muncul.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Saya pun berangkat ke toko membelinya. Ukuran segitu harganya kurang dari Rp. 100.000,- Saya menempelnya di dinding ruang belajar. Maksud saya, agar ketika belajar, saya dapat melihatnya. Jadilah papan tulis itu nampang di dinding dekat meja belajar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Hari demi hari, papan itu menarik perhatian saya untuk bergegas mencoretkan  spidol di atasnya, menuliskan gagasan yang muncul. Pertama, saya tulis tentang agenda utama dalam kaitan dengan pekerjaan. Kedua, saya tulis tentang target menulis bulanan di koran/majalah. Ketiga, saya goreskan pula mengenai judul-judul naskah yang saya kirim ke koran dan tanggal pemuatannya (ya kalau dimuat, tentu). Keempat, saya juga menyusun target penyusunan makalah: kapan sebuah makalah/buku harus saya selesaikan. Kelima, saya pun memanfaatkan papan itu untuk menulis segala sesuatu yang membantu saya dari terjangan ‘penyakit’ pikun, seperti, kode password yang baru saja diberikan admin kompasiana, he he he. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Secara fisik, tidak ada yang istimewa dengan papan putih itu. Tetapi, ia telah membantu menolong saya untuk fokus, menyemangati saya untuk mencapai goal tertentu, mendorong saya untuk menuangkan ide-ide utama untuk dijadikan artikel, dan mengingatkan saya terhadap sesuatu yang sulit diingat. Terima kasih white board-ku!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Sudah dulu ya sahabat kompasianer. Terima kasih sudah membaca cacatan kecil ini. Salam hangat. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-8315133281641712406?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/8315133281641712406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/terima-kasih-white-board-ku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8315133281641712406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8315133281641712406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/terima-kasih-white-board-ku.html' title='Terima Kasih White Board-ku'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-771501693214457888</id><published>2011-03-17T03:56:00.000-07:00</published><updated>2011-03-17T03:57:30.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Warna-warni Minggu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://id.inter-pix.com/db/landscapes/america/florida/b-448035.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://id.inter-pix.com/db/landscapes/america/florida/b-448035.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Selama enam hari dalam seminggu Anda pergunakan untuk kerja dan kerja, hampir tidak Anda waktu untuk bercengkrama dengan keluarga. Tatkala Anda merasa membutuhkan  waktu berinteraksi dengan anak dan istri, mungkin juga dengan ayah, ibu, kakek, dan nenek Anda, mengapa tidak Anda manfaatkan saja hari Minggu yang selalu datang sekali sepekan untuk berkumpul dengan mereka? Mengapa tidak Anda lupakan dulu pekerjaan rutin lalu merangkul keluarga Anda?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi kami sekeluarga, hari Minggu selalu kami usahakan penuh warna. Pagi-pagi buta saya, istri dan anak-anak sudah bersiap-siap untuk jogging. &lt;span class="fullpost"&gt;Kalau tidak  di taman kota, kami akan memilih di pantai. Berjalan menapaki rumput nan hijau di taman kota atau berjalan di atas pasir dengan kaki telanjang,  alangkah indahnya. Suasana yang berbeda dari biasanya sungguh memberi  semangat baru. Duduk-duduk sambil menjulurkan kaki di atas rerumputan. Bersama anak-anak mengambil batu-batu pipih dan melemparkan begitu rupa ke laut sehingga batu itu tampak melompat melenting-lenting di permukaan air. Menyenangkan sekali. Mengambil foto para nelayan yang tengah melaut  juga mengasyikkan. &lt;br /&gt;Setalah puas menghirup udara segar, kami kembali ke rumah setelah singgah sebentar ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk dimasak dan jajan.  Lalu duduk santai di beranda rumah sambil nyeruput kopi hangat bertemankan jajan. Duh senangnya.  Teman kopi itu bisa pisang goreng, bisa kue basah, atau apa saja yang cocok tapi menyehatkan.&lt;br /&gt;Usai mengisi kekosongan isi perut, lalu kami mulai jongkok di pekarangan rumah. Bersama anak-anak membersihkan pekarangan. Mencabuti rumput liar yang mulai meninggi, memetik dedaunan dan ranting tua, dan menyapu halaman dengan sapu lidi. Tak ketinggalan membersihkan rumah, ya kacanya, ya lantainya, dan seluruh bagian yang selama hampir seminggu tidak mendapat perhatian serius. &lt;br /&gt;Menyiram tubuh dengan air bersih segera setelah usai beraktivitas ringan di pagi hari, alangkah menyegarkannya. Ini saatnya membersihkan badan secara lebih teliti. Menggosok seluruh bagian tubuh dengan lebih intensif, tanpa perlu lagi dikejar-kejar waktu karena alasan segera mesti ke kantor atau ke sekolah. Mau memotong rambut? Mau mencukur jenggot atau memotong kumis? Mengapa tidak? Nikmati saja hari Minggu dengan sebaik-baiknya bersama keluarga. &lt;br /&gt;Setelah sarapan pagi, mau nonton televisi sebentar lantas tidur siang? Kesempatan emas bagi sebuah keluarga yang selalu sibuk untuk menikmati hari Minggu dengan istirahat siang, sesuatu yang mungkin tidak pernah bisa dirasakan di hari lain di luar Minggu.&lt;br /&gt;Kebersamaan yang suntuk dengan jalinan komunikasi yang intensif satu dengan lainnya sambil  beraktivitas perlu dipelihara. Dari keluarga  kebahagiaan itu berawal. Apalah maknanya sebuah ‘keberhasilan’ di luar kalau di dalam keluarga tidak ada cinta kasih yang tulus di antara anggotanya. Kewajiban kita adalah membinanya, selalu. Salam hangat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-771501693214457888?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/771501693214457888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/warna-warni-minggu_17.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/771501693214457888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/771501693214457888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/03/warna-warni-minggu_17.html' title='Warna-warni Minggu'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3613688704236901388</id><published>2011-02-14T19:49:00.000-08:00</published><updated>2011-02-14T19:49:55.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Berhentilah Sejenak!</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_4mal9oPB_YI/S-ljURz1laI/AAAAAAAAA1g/YY4-6zynhcg/s1600/bersyukur.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_4mal9oPB_YI/S-ljURz1laI/AAAAAAAAA1g/YY4-6zynhcg/s320/bersyukur.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari  bersama-sama  kita memperhatikan dengan  saksama bagaimana kita telah menjalani kehidupan keseharian selama ini. Kita teliti seperti apa kita mengisi hari-hari yang telah lewat.  Adakah kita selalu bergegas,  tergesa-gesa, dan cemas karena selalu merasa dikejar-kejar waktu? Adakah kita terlalu ngoyo dengan apapun yang ingin kita raih? Adakah kumpulan ‘keberhasilan’ itu benar-benar memiliki makna bagi kita? Tidakkah sebaliknya, kita telah menumpuk sesuatu yang sejatinya sia-sia belaka? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang teman selalu sibuk setiap harinya, siang dan malam. Pagi ia harus mengantarkan anak, kemudian ke kantor. Di kantor ia memiliki tanggung jawab besar. Tanpa kehadirannya, pekerjaan di kantor bakal terganggu. Datang dari kantor, ia mesti cepat-cepat berganti pakaian untuk mengajar. &lt;span class="fullpost"&gt;Malam  hari, ia menyelesaiakan pekerjaan kantor di rumah. Hampir setiap hari ia berangkat tidur pada tengah malam.  Istri dan anak semata wayangnya pun sudah seringkali protes.&lt;br /&gt;Anehnya, dia merasa senang kalau kawan-kawan menyebutnya sebagai pekerja keras alias workacholic. Kalau mendapat punjian seperti itu, ia akan lebih dan lebih keras lagi bekerja. Anehnya lagi,  ia tak mau mendelegasikan tugas kepada teman atau bawahannya.  Sayang,  suatu hari ia jatuh sakit, harus masuk rumah sakit dan opname untuk seminggu lamanya.  Selama di rumah sakit pun ia selalu memikirkan segala macam pekerjaannya yang menjadi tidak beres lantaran  sakitnya itu. Ia ingin sekali segera sembuh dan bekerja. Dalam pikirannya hanya ada bekerja, bekerja, dan bekerja. Acapkali ia bertutur betapa kerasnya ia bekerja sepanjang hari. Tapi, entah untuk apa dan untuk siapa, sampai kemudian dia dipaksa untuk ‘istirahat’ oleh kelelahan yang luar biasa.  &lt;br /&gt;Hidup dan tuntutan hidup kadangkala menyebabkan kita mesti bekerja keras. Dengan bekerja seperti itu, kita berharap dapat memenuhi berbagai kebutuhan. Mungkin bisa membeli sandang, pangan, dan papan.  Kita barangkali  juga ingin menabung sebanyak-banyaknya untuk persiapan hari tua. Tampaknya tidak ada yang salah dengan semua itu. &lt;br /&gt;Akan tetapi, acapkali kita lupa untuk berhenti sejenak dari segudang kesibukan seperti sahabat saya  itu.  Padahal, seharusnya kita memperhatikan tubuh dan hati kita. Tubuh kita pasti  perlu rileks, jeda, beristirahat. Tapi, selama ini mungkin kita telah memakainya secara terus-menerus bagai robot dan lupa  merawatnya. Mengapa  kita tidak berhenti sejenak dan merawat badan yang telah mengantarkan kita memenuhi apa yang kita inginkan?&lt;br /&gt;Pikiran kita selama ini telah disibuki dengan bisnis, pekerjaan, angka-angka penjualan, keuntungan, dan seterusnya. Sempatkah kita mengistirahatkan dan menyegarkannya kembali? Pernahkah kita ingat untuk duduk diam, mendamaikan pikiran dan hati kita, lalu menghirup udara segar sambil menghaturkan terima kasih kepada Sang Pencipta?  Ingatkah kita untuk menyegarkan hati dan jiwa kita dengan doa-doa nan khusuk, mendendangkan kebesaran Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mari kita berhenti sejenak, kawan.  Lima belas  sampai tiga puluh menit saja setiap hari. Santaikan tubuh, lalu sentuhlah dia dengan sepenuh hati sambil berucap:&lt;br /&gt;&lt;b&gt;terima kasih kakiku; &lt;br /&gt;terima kasih  tanganku; &lt;br /&gt;dan terima kasih  jantungku; &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;dan seterusnya;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;karena engkau senantiasa setia bersamaku dan membantuku dari hari ke hari tatkala aku tidur maupun terjaga. &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Setelah itu, mari  duduk atau berbaringlah dengan rileks. Tarik nafas yang dalam.&lt;br /&gt;Damaikan pikiran. &lt;br /&gt;Selaraskan dengan semesta. &lt;br /&gt;Sentuhkan dengan vibrasi ketuhanan. &lt;br /&gt;Panjatkan doa puji syukur  kehadirat-Nya. &lt;br /&gt;Hanya lima belas sampai tiga puluh menit per hari!  &lt;/b&gt;Akankah kita bilang: saya tidak punya waktu?  &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3613688704236901388?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3613688704236901388/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/02/berhentilah-sejenak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3613688704236901388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3613688704236901388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/02/berhentilah-sejenak.html' title='Berhentilah Sejenak!'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4mal9oPB_YI/S-ljURz1laI/AAAAAAAAA1g/YY4-6zynhcg/s72-c/bersyukur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1594547850701130741</id><published>2011-02-07T04:50:00.003-08:00</published><updated>2011-02-07T04:53:04.645-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Merasakan Berkat Tuhan Sepanjang Hari</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_HrYWHZbL89c/TLWSuqV02zI/AAAAAAAAAGY/xT7O1i1KoTQ/s1600/God%2520Talks%2520To%2520You%2520Picture%2520JPG.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/_HrYWHZbL89c/TLWSuqV02zI/AAAAAAAAAGY/xT7O1i1KoTQ/s320/God%2520Talks%2520To%2520You%2520Picture%2520JPG.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya hendak mencoba  mengingat-ingat  berkat atau karunia Tuhan.  Dari hasil mengingat berkat Tuhan itu,  saya dapat mengumpulkan  beberapa kejadian  yang masih kuat melekat di dalam hati dan pikiran saya. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama,  sudah beberapa waktu lamanya saya tidak lagi aktif berolah raga.  Alasannya apa?  Memalukan kalau saya sebut kesibukan, karena banyak orang sibuk selalu mampu menyisihkan waktu untuk berolah raga. Istri saya mendapatkan kabar bahwa ada senam yang bagus untuk terapi kesehatan.  Belum yakin hasilnya, saya persilakan istri yang lebih dulu mengikuti senam itu.  Berdasarkan informasi dari istri,   saya kemudian menjadi tertarik. Saya pun ikut berlatih, berusaha untuk hadir latihan tiga kali  seminggu dari jadwal yang empat kali dalam seminggu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di dalam senam ini saya menerima berkat Tuhan. Pertama, badan terasa semakin bugar. Kedua, melalui senam saya dan istri mendapatkan teman-teman baru. Teman-teman adalah asset berharga dalam kehidupan, bukan?  Ketiga, saya tidak membayar apa pun untuk bisa ikut senam itu. Semuanya gratis, kecuali jika kita memang ingin menyumbang.  Dalam kehidupan yang serba materialistis seperti sekarang ini, rupanya masih ada sekelompok masyarakat yang dengan ikhlas bersedia berbagi kepada sesama melalui senam. Dari sini saya mendapat pelajaran betapa pentingnya berbagi kepada orang lain, dan menghindari sikap mementingkan diri sendiri.&lt;br /&gt;Dan,  tadi siang saya menservis sepeda motor di sebuah bengkel. Saya bertemu pemiliknya dan sempat berbincang-bincang lumayan lama sambil menunggu motor selesai diservis. Dari bapak yang adalah pemilik bengkel tadi, lagi-lagi,  saya mendapatkan berkat. Bentuknya: ia bersedia berbagi wawasan spiritualnya untuk saya. Ia banyak bertutur tentang kehidupan, kebenaran universal, kasih sayang, dan pentingnya kepedulian terhadap sesama. Tidak melulu dalam ucapan,  bapak ini telah membuktikan kepedualiannya dengan menjadi ayah angkat begi sejumlah siswa dan mahasiswa yang berasal dari masyarakat miskin, dan masih banyak lagi bentuk kepedualian lainnya. Konsepnya adalah memberi. Katanya, dengan memberi, kita akan menerima sesuai dengan hukum sebab-akibat (kausalitas). Saya belajar dari bapak ini. &lt;br /&gt;Dan, saya ingat,  kurang-lebih setahun lalu, mobil yang saya kendarai mogok di jalan. Waktu itu hari minggu, semua bengkel tutup. Saya berusaha mencari bengkel terdekat dengan berjalan kaki. Merasa mentok, saya singgah ke sebuah warung kecil untuk sekadar minum sambil memikirkan bagaimana cara mengatasi masalah yang sedang saya hadapi  saat itu. Saya menuturkan problem saya kepada pemilik warung. Tanpa dinyana,  pemilik warung yang baru saja saya kenal  itu menyerahkan kepada saya kunci dan STNK sepeda motornya untuk saya bawa mencari bengkel sampai ketemu. “Pak, pakailah motor saya. Carilah bengkel sampai ketemu,” ujarnya. Saat itu saya merasa kekuatan Tuhan sedang bekerja melalui diri orang ini. Akhirnya saya temukan bengkel yang pemiliknya bersedia membantu walaupun sedang tutup, dan problem saya teratasi. Saya temukan berkat Tuhan di antara kesulitan yang saya alami.&lt;br /&gt;Satu lagi,  pernah mobil yang saya kendarai tersesat masuk gang sempit. Saya salah masuk dan tak tahu jalur jalan. Entah dari mana datangnya,  tiba-tiba muncul seseorang yang tanpa saya minta membantu saya memundurkan kendaraan dengan memberi  komando “kanan, kiri, terus, lurus” dan seterusnya. Akhirnya saya keluar dari geng sempit yang buntu itu. Kembali saya merasakan berkat Tuhan. &lt;br /&gt;Itu baru sebagian kecil saja. Ada sangat banyak berkat/karuniaTuhan yang saya terima dalam kehidupan ini. Saya selalu bersyukur kepada-Nya. “Terima kasih ya Tuhan atas semua kelimpahan ini. Jadikan jugalah hamba sebagai alatmu untuk membantu orang lain.” &lt;br /&gt;Tatkala hendak mengakhiri tulisan ini saya hampir menangis, terharu setiap mengingat kebesaran Tuhan.  Betapa  berlimpahnya berkat Tuhan  untuk saya. Adakah para pembaca merasakan campur tangan Tuhan dalam kehidupan Anda?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1594547850701130741?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1594547850701130741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/02/merasakan-berkat-tuhan-sepanjang-hari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1594547850701130741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1594547850701130741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/02/merasakan-berkat-tuhan-sepanjang-hari.html' title='Merasakan Berkat Tuhan Sepanjang Hari'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HrYWHZbL89c/TLWSuqV02zI/AAAAAAAAAGY/xT7O1i1KoTQ/s72-c/God%2520Talks%2520To%2520You%2520Picture%2520JPG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3482722296496505061</id><published>2011-01-29T19:26:00.001-08:00</published><updated>2011-02-14T19:53:36.129-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Saat Rasa Bosan Menyergap</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://requesta.files.wordpress.com/2010/04/bosan.png" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="246" src="http://requesta.files.wordpress.com/2010/04/bosan.png" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bosan itu sangat manusiawi. Tak hanya dalam kaitannya kegiatan tertentu, dalam semua kegiaatan-kegiatan lainnya pun acapkali kita disergap rasa bosan. Jadi, jangan terlalu dikhawatirkan kalau rasa bosan itu mendera Anda pada suatu ketika. Karena pekerjaan yang tengah Anda tangani itu mungkin merupakan pekerjaan yang juga melelahkan dan membutuhkan konsentrasi yang intens, sekali waktu rasa bosan bisa saja menyerang Anda.&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah bagaimana mengatasi rasa bosan itu? Berikut beberapa tips yang barangkali berguna bagi Anda mengusir rasa bosan tersebut. &lt;br /&gt;Pertama, hentikan pekerjaan Anda untuk sementara waktu. Beristirahatlah. Mungkin Anda memilih merebahkan diri sejenak di sofa atau di tempat tidur atau ngobrol dengan anggota keluarga/teman. Dengan beristirahat yang cukup, biasanya semangat Anda dapat pulih dan siap bekerja kembali. &lt;br /&gt;Kedua, Anda dapat menyegarkan diri dengan ‘mencuci mata’ melihat pemandangan di sekitar. Mungkin ke kebun, ke pantai, atau cukup di pekarangan rumah. &lt;span class="fullpost"&gt;Boleh juga kalau Anda mengambil gunting pemotong dahan untuk melakukan pekerjaan tangan dengan menggunting beberapa dahan pohon  yang sudah tua dan menyapu halaman hingga bersih. Membenahi halaman bagi banyak orang memberikan penghiburan.&lt;br /&gt;Ketiga, menyanyilah. Kalau di rumah Anda memiliki CD lagu-lagu yang Anda sukai, mengapa tidak memutar dan menyanyi karaoke? Ayo, bergembiralah. Menyanyi dapat membuang stress dan memperbaharui semangat. Asalkan Anda melakukannya sesantai mungkin. &lt;br /&gt;Keempat, ke pasar. Ada banyak orang yang pergi ke pasar. Di pasar kita dapat melihat kerumunan orang dengan berbagai keperluan. Ini bisa jadi sebuah pemandangan yang menakjubkan.  Kalau di salah satu sudutnya ada orang berjualan jajan siap santap, mengapa Anda tidak duduk santai di situ untuk ngopi?  Anda dapat berbincang-bincang dengan orang lain di situ. Bertuturlah tentang apa saja dan  santai sajalah. Nikmatilah. Kita memang mesti pintar-pintar menikmati kehidupan di sela-sela kesibukan yang padat. &lt;br /&gt;Kelima, berolah raga ringan. Kenakan pakaian olah raga Anda. Pergilah ke lapangan terdekat. Ambil jogging atau jalan santai. Say hello-lah dengan handai taulan yang kebetulan Anda jumpai di lapangan olah raga. Sambil membuang rasa bosan, Anda pun mendapatkan kesehatan. Bagus, bukan? &lt;br /&gt;Ada banyak sekali pilihan yang dapat Anda pergunakan untuk membuang rasa bosan. Pilihan ini sangat bergantung pada selera Anda. Manakah cara yang menurut Anda paling memberikan rasa santai dan lepas? Pilihlah itu sebelum mulai lagi aktivitas Anda. ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3482722296496505061?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3482722296496505061/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/saat-rasa-bosan-menyergap.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3482722296496505061'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3482722296496505061'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/saat-rasa-bosan-menyergap.html' title='Saat Rasa Bosan Menyergap'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-278480978907906294</id><published>2011-01-29T19:23:00.001-08:00</published><updated>2011-02-14T19:55:11.908-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Tips Membaca Dengan Hasil  Maksimal</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/11/gemar-membaca-bocah2-di-setulang-malinau-kaltim.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://sudewi2000.files.wordpress.com/2008/11/gemar-membaca-bocah2-di-setulang-malinau-kaltim.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda suka membaca buku?  Kalau  ya, mungkin Anda menerapkan cara membaca yang  biasa dilakukan para pembaca pada umumnya.  Barangkali  juga Anda  menggunakan  cara yang unik, yang spesial. Bagaimana pun cara membaca Anda, yang penting isi buku yang Anda baca sebanyak-banyaknya dapat diserap. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada kenyataannya, ada buku yang hanya cukup dibaca sekali dan sekilas saja, seperti novel, kumpulan cerpen, atau lainnya. Di samping itu, ada juga buku yang wajib dibaca secara suntuk, serius. Nah, tulisan ini khusus mendiskusikan tentang teknik membaca suntuk untuk buku-buku yang serius, apakah itu buku kuliah (ilmiah) atau buku lain yang isinya wajib Anda kuasai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Akan tetapi,  ini hanyalah salah satu cara yang biasa penulis lakukan. Anda pun mungkin telah mempunyai cara tersendiri. Anda bebas memilih cara yang menurut Anda terbaik. Tulisan ini muncul hanya sekadar untuk berbagi mengenai cara penulis (saya) membaca buku. Siapa tahu ada manfaatnya walau pun hanya sebagai perbandingan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Secara sederhana, penulis membagi cara membaca ke dalam empat tahapan, yakni tahap mengenal, tahap menjelajah, tahap mendetail, dan tahap meringkas. Mari kita mulai dari tahapan pertama, yakni tahap mengenal buku. Untuk memilih sebuah buku untuk Anda beli atau akan Anda baca, pertama-tama tentu Anda perlu melihat secara sekilas buku itu. Cara yang paling praktis adalah dengan melihat judulnya dan kilasan isinya di cover depan dan belakang. Kalau buku tersebut tidak dibungkus (karena biasanya di toko dalam  keadaan dibungkus plastik),  Anda bisa melihat daftar isinya untuk mengetahui sedikit tentang hal-hal utama yang dibahas. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Setelah tahap pengenalan, Anda masuki tahap menjelajah. Kalau Anda sudah  memutuskan untuk membaca lanjut buku tersebut, maka kini saatnya Anda membaca isinya. Mungkin Anda merasa  membutuhkan membaca seluruh isi buku itu atau hanya membaca beberapa bab yang menurut Anda itu penting diketahui. Jadi, bacalah isi buku tersebut sesuai dengan kebutuhan. Pada tahapan ini Anda membacanya dengan cepat. Membaca cepat di sini hanya untuk mengetahui secara keseluruhan isi buku dimaksud.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Usai tahapan membaca menjelajah, kini saatnya membaca secara mendetail. Membaca detail? Ya, Anda mengulangi membaca buku itu mulai dari awal lagi. Kini saatnya membaca buku dengan lebih fokus, melihat detailnya, memahami isinya step by step. Sembari membaca, berikan garis bawah bagian-bagian yang penting, bila perlu isi dengan cacatan kecil di kiri atau kanan margin buku untuk membantu   ingatan atas pokok soal yang dibicarakan pada bagian tersebut. Membacalah dengan mengerahkan lebih banyak indera. Di samping melihat buku itu, membacanya, menggarisbawahi, mengisinya dengan cacatan, tidak mengapa kalau Anda merasa perlu berkomat-kamit mengekspresikan isi bagian yang Anda baca. Ingatlah, semakin banyak indera yang dilibatkan dalam aktivitas membaca, daya lekatnya di pikiran pun kian baik. Apalagi isi buku itu kemudian Anda diskusikan dengan orang lain, dan/atau Anda laksanakan dalam kehidupan sehari-hari (untuk buku how to). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Tahap terakhir adalah tahap meringkas. Pada tahapan ini Anda bisa membuat catatan-catatan seperlunya dari isi buku itu. Manfaatkan buku harian atau block note. Dengan menuliskan bagian-bagian yang penting, di samping membantu memperkuat ingatan juga untuk membantu menemukan isi ringkasnya ketika suatu saat nanti Anda perlukan. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Itulah cara  penulis membaca buku. Apakah Anda mempunyai kiat membaca yang lebih jitu? Berbagilah. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-278480978907906294?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/278480978907906294/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/tips-membaca-dengan-hasil-maksimal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/278480978907906294'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/278480978907906294'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/tips-membaca-dengan-hasil-maksimal.html' title='Tips Membaca Dengan Hasil  Maksimal'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7333782295768019317</id><published>2011-01-24T04:38:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T04:38:46.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Memaknai Kehadiran Kita di Dunia</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bonx.files.wordpress.com/2010/08/merenung.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="243" src="http://bonx.files.wordpress.com/2010/08/merenung.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika hari-hari berjalan secara rutin tanpa gejolak, ketika kita mendapatkan ‘kemajuan’, mungkin dalam peningkatan jabatan, kenaikan pangkat, tumpukan kekayaan, dan  ‘keberhasilan-keberhasilan’ lain, pernahkah kita berpikir mengenai hakekat hidup ini? Merenung mengenai apa sesungguhnya tujuan kita lahir ke dunia? Benarkah kita  lahir untuk sebuah kekuasaan, sebuah kekayaan, atau kelimpahan duniawi lainnya? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kadang-kadang, tatkala kita sedang sibuk berjuang mengejar sesuatu yang bersifat duniawi, mungkin kita  lupa mengejar yang spiritual. Maksudnya, kita lupa mempertimbangkan, apa sesungguhnya nilai segala sesuatu yang sedang kita kejar ini. Apakah yang kita kejar itu  selaras dengan keimanan kita kepada Tuhan? Atau, apakah yang kita kejar itu tidak melanggar kaidah/ajaran ketuhanan? Sebagian dari kita mungkin lupa aspek moral dan etik karena silau oleh gemerlap duniawi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau direnungkan lebih jauh, apakah sebenarnya makna semua yang kita sebut dengan ‘keberhasilan’ itu? Apakah itu akan mengantarkan kita pada jalan menuju Tuhan? Tidakkah malah menjauhkan kita dengan Tuhan? Atau, kita memang tak mau tahu dengan aspek moral dari segala sesuatu yang kita raih, karena yang penting mendapatkan sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah sejalah dengan kehendak-Nya atau tidak? &lt;br /&gt;Kalau kita acuh tak acuh terhadap nilai moral dari pekerjaan kita, persoalan menjadi sulit. Perlu usaha keras untuk membangunkan kita dari kegelapan duniawi. Kalau kita sudah selalu ingat untuk mengukur semua pekerjaan kita dengan aspek moral dan berpedoman padanya, mungkin kita akan dengan mudah melangkah di garis ketuhanan. &lt;br /&gt;Mari kita coba untuk self-correctie. Kalau kita mati -- semua orang pasti akan mati -- apa yang kita bawa? Apakah kita akan membawa semua pangkat, kekayaan, dan kekuasaan yang pernah kita raih itu ke dunia sana? Bukankah kita hanya dibekali selembar kain kafan? Kalau kita bersikukuh membawa semua harata benda duniawi yang berhasil kita raih di dunia, untuk apa dan mungkinkah?  Adakah orang yang seperti itu? &lt;br /&gt;Penulis berpendapat, sejatinya yang kita mesti lakukan di dunia ini adalah kerja: kerja sebagai bentuk bakti atau ibadah kita kepada Tuhan tanpa harus terlalu banyak berhitung hasil yang kita dapatkan dari kerja itu. Yang perlu kita lakukan di dunia ini adalah menabur kebajikan, menabur kebaikan dan kasih sayang dengan sesama. Wujudnya bermacam-macam, mungkin berbagi sedekah dengan mereka yang miskin, mungkin berbagi pengalaman dan pertimbangan dengan mereka yang tengah dilanda kesulitan, dan senantiasa siap membantu siapa pun yang benar-benar membutuhkan bantuan. Dengan begitu, barulah kiranya kehidupan kita di dunia menjadi lebih berarti. Dan, dengan ringan dan ikhlas kita bakal meninggalkan dunia karena selama di dunia sudah sempat banyak berbuat kebaikan. &lt;br /&gt;Kesempatan untuk hidup sebagai manusia di dunia adalah kesempatan emas. Dan, sifatnya sangat sementara seperti kilat di udara. Lahir, hadir, kemudian tiada. Saat di dunialah kita bisa  berbuat kebaikan, bukan setelah di liang kubur.  Semoga bermanfaat. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7333782295768019317?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7333782295768019317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/memaknai-kehadiran-kita-di-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7333782295768019317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7333782295768019317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/memaknai-kehadiran-kita-di-dunia.html' title='Memaknai Kehadiran Kita di Dunia'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-812091520631870088</id><published>2011-01-24T04:37:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T04:37:51.317-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Ketika Kesulitan Mendera Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_hsANYflLEWQ/SH3nFSxr_CI/AAAAAAAAAWU/gN0MhCPn_WQ/s400/merenung.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="269" src="http://4.bp.blogspot.com/_hsANYflLEWQ/SH3nFSxr_CI/AAAAAAAAAWU/gN0MhCPn_WQ/s320/merenung.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Senang dan susah itu berkawan baik. Tidak ada hidup yang tanpa pernah mengalami kesulitan. Tidak ada perjalanan hidup yang, senang-senang saja,  lurus-lurus saja. Tetapi, tentu ada kelokannya, ada naik-turun, ada bagian jalan yang berbatu, bahkan ada bagian yang terjal. Masih syukur, ada sedikit  jalan yang datar dan lurus yang memungkinkan kita menarik nafas dengan tenang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitulah kehidupan, susah-senang, pahit-manis bergandengan. Karena itu sudah menjadi elan kehidupan dan  sebagian besar tidak dapat dihindari, maka kitalah yang pintar-pintar mengelola diri kita. Dengan pengelolaan diri, kita tidak terlalu diombang-ambingkan oleh kehidupan. Ini tentu persoalan yang tidak mudah, tetapi harus dijalani. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Saya menyaksikan orang yang sedang kesusahan menuduh Tuhan tidak adil. Bagi orang ini, seakan-akan hanya dialah yang paling sengsara di muka bumi ini. Baginya, tidak ada orang susah dan sulit hidupnya sesulit dan sesusah dia. Tuhan dirasakannya tidak adil, dengan mengeluh mengapa ‘hanya’ dia yang dibebani kesusahan seperti yang dialaminya.&lt;br /&gt;Hidup memang tidak terdiri atas susah-susah melulu atau senang-senang saja. Keduanya silih berganti menghampiri kita. Adakah kita ingat dengan Tuhan tatkala kita sedang hidup senang dan makmur? Apakah  kita baru ingat dan memanggil-manggil Tuhan hanya tatkala kita sedang dalam kesulitan? Kita sendiri yang dapat menjawabnya.&lt;br /&gt;Ketika kita susah kita menghendaki Tuhan berkenan menolong kita, tapi tatkala kita hidup senang mungkin diantara kita lupa kepadaNya.&lt;br /&gt;Apapun keadaan kehidupan kita, mungkin sebaiknya kita selalu bersyukur. Bersyukur atas apapun yang sudah kita terima. Hal-hal yang utama dan bahkan urgen yang telah kita nikmati, kadangkala kita lupa mensyukurinya. Seperti,  ketika kita bangun pagi masih sehat, ketika anak-anak bisa bersekolah dengan baik, ketika kita dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan sejumlah uang untuk makan.  Juga tatkala kita dapat menghirup nafas dari udara segar di pagi hari. Hal-hal yang nampaknya biasa itu acap terlupakan untuk kita syukuri. &lt;br /&gt;Sebaliknya, kita mungkin lebih sering mengeluhkan keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, kita mengeluhkan segala sesuatu yang belum kita dapatkan, kita menggerutu karena banyak hal yang belum kita peroleh sesuai  dengan keinginan. &lt;br /&gt;Mungkin ada baiknya kita mengurangi frekuensi berkeluh-kesah, dan sebaliknya memperbanyak bersyukur atau berterima kasih atas segala apa yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita. Dengan banyak bersyukur, kita akan terarah ke pikiran-pikiran positif. Dan, pikiran-pikiran positif itu akan membantu kita mencapai kehidupan yang lebih baik. Kita menjadi lebih tenang dan damai menjalani hidup, memaklumi bahwa susah-senang itu berdampingan, dan  dapat menjalani hidup yang lebih berkualitas. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-812091520631870088?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/812091520631870088/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/ketika-kesulitan-mendera-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/812091520631870088'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/812091520631870088'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/ketika-kesulitan-mendera-kita.html' title='Ketika Kesulitan Mendera Kita'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_hsANYflLEWQ/SH3nFSxr_CI/AAAAAAAAAWU/gN0MhCPn_WQ/s72-c/merenung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-6269398473760796107</id><published>2011-01-24T04:35:00.000-08:00</published><updated>2011-01-24T04:35:21.856-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Hanya Hari Ini Milik Kita</title><content type='html'>&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;“Kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin. Mimpi hari ini&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;adalah kenyataan hari esok.” (Hasan Al Bana)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://desmarisme.blogdetik.com/files/2010/02/mentari-pagi_thumb.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://desmarisme.blogdetik.com/files/2010/02/mentari-pagi_thumb.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perhelatan sepak bola Piala AFF 2010 cukup lama usai. Mungkin kita masih terngiang dengan gegap gempita suporter pendukung Tim Merah Putih. Dukungan meluap deras bak air bah. Luar biasa. Hal ini menampakkan betapa kita semua mencintai negeri ini dengan semangat keindonesiaan sejati. Di situ ada harapan menjadi pemenang, walau pada akhirnya harus mengakui keunggulan Tim Nasional Malaysia di babak final. Score lag kedua yang diharapkan minimal 0-4, atau 1-5 untuk bisa menang bagi Indonesia, tidak menjadi kenyataan. Walapun pada akhirnya Tim Merah Putih kalah, namun acungan jempol patut kita berikan kepada mereka. Para pemain, pelatih, dan seluruh komponen yang berkontribusi dalam mencapai prestasi tersebut, apapun hasilnya, tetap kita hargai. Mereka telah berjuang keras mencapai hasil yang optimal. Tim Nasional Indonesia sudah berbuat sebaik yang mereka mampu. Dalam sepak bola ada yang menang dan kalah,  itu hal yang biasa.  Jangan ada saling menyalahkan. Yang terpenting, Tim  Merah Putih sudah berlaga dengan menjunjung tinggi sportivitas. Demikian pula para suporter yang dengan sepenuh hati memberikan dukungan.  Dan, dalam setiap pertandingan, kita mesti siap kalah dan siap menang. Bukan melulu siap menang, sehingga kalau kalah, lalu membuat keributan seperti acap terjadi dalam Pemilukada. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kini kita masih saja kalah, toh tetap masih ada waktu untuk berbenah. Kalah tak berarti kiamat. &lt;span class="fullpost"&gt;Yang diperlukan ke depan adalah melakukan pembenahan: menyatukan pikiran dan  menyamakan langkah untuk membangun persepakbolaan di negeri ini. Dari ratusan juta penduduk Indonesia pasti ada yang benar-benar berbakat atau berpotensi dan siap diasah menjadi pemain bola level nasional. Ini penting sebagai bentuk pembinaan generasi pemain muda (youth development) lapis kedua. Para pemain yang ada sekarang pun mesti berlatih kian keras dan kontinyu untuk menghadapi event sejenis di masa mendatang. PSSI yang paling bertanggung jawab terhadap persebakbolaan juga seyogianya berbenah diri ke dalam. Jadikan kekalahan ini sebagai cemeti pemacu diri untuk berusaha lebih keras dan cerdas di masa datang. Jangan pernah berputus asa, karena keputusasaan adalah ciri kelemahan. Jangan lagi ada yang menohok pihak-pihak tertentu untuk dijadikan kambing hitam atas ketidakberhasilan menjuarai Piala AFF ini. Yang  penting dan mendesak adalah menyusun strategi dan  program yang menyangkut masa depan sepak bola kita. Sepak bola kita tak boleh terus-menerus menjadi pecundang, suatu saat  pastikan bakal jadi pemenang. &lt;br /&gt;Penghiburan dan Keberanian Bermimpi&lt;br /&gt;Pertandingan sepak bola Asia Tenggara itu telah sempat memberikan kita penghiburan di tengah-tengah tumpukan problema di negeri ini, seperti  bencana alam, korupsi, TKW, video porno artis, dan banyak lagi.  Lega rasanya  dapat bersantai untuk istirahat sejenak dari hiruk-pikuk persoalan itu.  Akan tetapi, kini perhelatan sepakbola telah usai. Apa yang akan terjadi kemudian? Apa yang bakal dikerjakan kemudian? Kita mungkin perlu membuka kembali file permasalahan yang, dalam beberapa waktu, kita tutup dan lupakan sementara. Dengan berupaya menyemangati diri, kita harus mencari jalan untuk memecahkan masalah yang masih belum tertuntaskan. Di samping masalah yang sudah ada di arsip tersebut, mungkin tak lama lagi akan mencuat  kasus atau issue baru yang tak kalah menariknya. Daripada menunggu issue itu, lebih baik kita fokus untuk mengurai benang kusut yang ada di depan mata yang segera butuh penanganan. &lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi pegangan kita di awal tahun 2011 ini adalah perlunya keberanian untuk bermimpi. Bermimpi mengenai goal yang berharga yang hendak kita tuju, setelah memahami terlebih dahulu  dimana kita berada,  kini. Termasuk menentukan apa yang perlu kita lakukan untuk mencapai tujuan itu?  Seperti dikatakan Hasan Al Bana sebagaimana dikutip di atas bahwa “kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin. Mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok.” Jadi, kini saatnya kita merajut mimpi, dan berjuang mengusahakannya menjadi kenyataan. Kegairahan hidup ada pada mimpi-mimpi itu, karena mimpi itu membawa kita kepada tantangan untuk mencapai kemajuan. Tanpa mimpi, hidup akan terasa tak berguna, hambar,  dan tidak jelas akan menuju ke mana. Maka, mari kita bermimpi seraya berjuang mencapainya.&lt;br /&gt;Berpikir Positif&lt;br /&gt;Berpikir positif adalah bekal kehidupan menyongsong masa depan. Berpikir positif artinya melihat segala sesuatu secara positif dan konstruktif, jauh dari praduga atau syak wasangka. Berpikir positif meliputi tiga tataran: berpikir positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan Tuhan. Berpikir positif terhadap diri sendiri adalah dengan memandang diri dengan penuh keimanan, bahwa ada potensi besar dalam diri kita sendiri. Ada kekuatan Tuhan yang mahadahsyat yang membentuk kekuatan kita sebagai insan ciptaanNya. Jangan pernah kita menganggap remeh diri, menganggap segala sesuatunya tidak mungkin kita capai, dan selalu merasa tak berdaya. Jika kekuatan Tuhan bersama kita karena kita berada di dalam rel yang diberkatiNya, kekuatan macam apa yang mampu mengalahkannya? &lt;br /&gt;Berpikir positif juga terhadap orang lain. Dengan begitu, kita akan membuka diri kepada orang, saling percaya, membangun kerjasama, dan membentuk sinergi, sekaligus membuang habis kecurigaan dan permusuhan. Dengan berpikir positif terhadap orang lain, kita akan merasa hidup lebih nyaman dan tenteram berada dalam masyarakat yang peduli dengan solidaritas tinggi. Jika sudah tumbuh saling percaya (trust) dalam masyarakat, niscaya segala tujuan menjadi lebih mudah dicapai. &lt;br /&gt;Tak kalah pentingnya adalah berpikir positif terhadap Tuhan.  Masih ada orang yang menyangsikan kebesaran Tuhan tatkala ia ditimpa masalah berulangkali. Bahkan menyatakan Tuhan  itu sudah mati. Hendaknya kita selalu meyakini, dalam kondisi apapun, Tuhan senantiasa bersama kita. Hanya kita, manusia yang sering khilaf dan melupakanNya, lupa berserah diri dan memohon petunjuk dan bantuanNya. Bahkan mungkin kita telah meragukan keadilan dan kehadiranNya. Jadi, berpikir positif terhadap Tuhan adalah berpikir bahwa apa saja yang kita alami adalah atas karunia Tuhan dan itulah  yang terbaik buat kita. Sekaligus juga hasil dari karma kita sendiri. &lt;br /&gt;Hari Ini Milik Kita&lt;br /&gt;Ada ungkapan, “barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk, dia adalah orang yang celaka.”  Milik kita hanya hari ini! Kita hanya bisa berpikir, berkata, dan berupaya pada ‘hari ini’. Kita tak bisa merubah hari kemarin karena sudah lewat.  Hari kemarin sudah menjadi masa lalu.  Karena itu, tak perlu menjadikan hari kemarin sebagai beban yang harus dipikul pada  hari ini. Hari esok adalah hari yang belum datang, belum jadi kenyataan, masih samar-samar. Karenanya, tak layak kalau kita khawatirkan hari esok pada hari ini. Rugi dan membuang waktu percuma. Mari isi setiap ‘hari ini’  dengan sebaik-baiknya sehingga kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Hanya hari ini milik kita, milik kita hanya hari ini!  Tabuh genderang dan tiupan sangkakala Tahun Baru 2011 menyambut kita. Mari bergegas berbenah diri, tak terkecuali dalam urusan bola di negeri ini.  ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-6269398473760796107?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/6269398473760796107/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/hanya-hari-ini-milik-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6269398473760796107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6269398473760796107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2011/01/hanya-hari-ini-milik-kita.html' title='Hanya Hari Ini Milik Kita'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-4228582894967359326</id><published>2010-12-30T02:23:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T02:23:26.032-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Perpustakaan Pribadi dan Hasrat Membaca</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.graha.dnaberita.com/Gambar/Perpustakaan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.graha.dnaberita.com/Gambar/Perpustakaan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memiliki perpustakaan pribadi di rumah adalah suatu kebutuhan di era modern sekaligus sebagai prestise. Bagi pandangan kebanyakan orang, perpustakaan di rumah mencirikan tingkat intelektualitas seseorang. Kalau orang memiliki perpustakaan di rumahnya, maka pada umumnya  dapat diyakini bahwa si pemilik rumah adalah seorang intelektual, pencinta ilmu pengetahuan, atau seorang pembelajar yang dipastikan gemar membaca. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perpustakaaan pribadi di rumah memang dapat merupakan simbol intelektualitas seseorang. Anda bisa membayangkan, bagaimana mungkin seseorang disebut intelektual atau pembelajar, kalau ia tidak punya cukup buku dan  tidak suka membaca. Bagi seorang pembelajar, buku adalah sahabat karibnya. Oleh karena demikian, agar kesukaan akan buku itu terkondisi dengan baik, maka seyogianya dibangun perpustakaan pribadi di rumah. Bukan sekedar agar dipandang intelek atau mendapatkan predikat pembelajar, melainkan untuk menyiapkan ‘gudang ilmu’ dengan segala kelengkapannya, sehingga si pemilik bisa  dengan mudah menyalurkan kebutuhan dan minat  membacanya dalam kehidupan privat di rumah sendiri. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapkan Sarana &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak ada empat sarana utama yang perlu dipersiapkan tatkala hendak membangun perpustakaan pribadi di rumah. Pertama, perlu disiapkan sebuah ruang dengan luasan tertentu yang memadai untuk maksud ini. Boleh di ruangan khusus untuk perpustakaan, boleh di ruang tamu, atau di kamar tidur. Sesuaikan dengan ruang yang ada dan kondisi rumah Anda. Diantara pilihan itu, membuat ruangan khusus perpustakaan adalah yang terbaik. Kalau tidak ada ruang khusus, cukuplah dimanfaatkan space yang ada  ruang tamu atau kamar tidur. &lt;br /&gt;Kedua, siapkanlah rak yang relatif besar untuk meletakkan buku-buku Anda. Rak itu bisa  terbuat dari kayu atau dari rangka besi, atau bahan lainnya,  terserah Anda. Yang penting rak tersebut cukup kuat untuk menyangga buku-buku Anda ketika jumlahnya kian banyak dan rak itu terisi penuh dan enak dipandang mata.  Upayakan rak tersebut tertutup dengan kaca tembus pandang. Ini penting untuk menjaga menghindari buku dari kotoran dan debu. Buku-buku yang tersimpan dengan baik akan lebih awet dan tak cepat kusam dan kotor. Kaca yang transparan dibutuhkan agar tatkala mencari buku, Anda  dapat dengan mudah melihatnya tanpa harus membuka kaca. Ukuran rak buku pun hendaklah disesuaikan dengan luasan ruangan. &lt;br /&gt;Perhatikan pula di sisi mana dari ruangan itu yang Anda manfaatkan untuk meletakkan  rak buku. Upayakan agar posisinya strategis, tidak mengganggu tatkala Anda dan anggota keluarga lalu-lalang, dan mudah dijangkau. Ketinggian rak juga mesti diperhitungkan. Sebaiknya tinggi rak tak lebih dari setinggi jangkauan tangan Anda. Ini dimaksudkan, tatkala mengambil buku pada bagian rak yang paling atas, Anda masih bisa menjangkaunya hanya dengan menjulurkan tangan ke atas tanpa menggunakan tumpuan kursi atau sejenisnya. &lt;br /&gt;Ketiga, siapkan buku-buku yang menjadi ‘kekayaan’ Anda itu. Untuk membeli buku-buku dimaksud, tentu Anda harus siap mengeluarkan dana yang lumayan banyak karena harga buku belakangan ini terbilang mahal. Tapi, pastinya buku-buku itu tak mesti dibeli sekaligus. Sisihkan saja  sebagian kecil dari penghasilan Anda untuk membeli buku setiap bulannya. Jika memungkinkan, usahakan setiap bulan Anda menambahkan 2-3 buku ke dalam rak buku Anda. Kalau ada cukup uang, lebih banyak buku yang Anda koleksi setiap bulannya  tentu lebih baik.&lt;br /&gt;Keempat, siapkan sebuah meja baca dan kursi serta lampu yang cukup terang tempat Anda nantinya akan bersantai sambil menikmati bacaan dari gudang ilmu alias perpustakaan pribadi Anda. Di samping penerangan/pencahayaan sirkulasi udara di ruang baca ini hendaknya diperhatikan. Suasana yang nyaman akan membantu Anda membangkitkan mood atau hasrat membaca. &lt;br /&gt;Sekedar sebagai ilustrasi, rekan senior saya, Widminarko, meletakkan rak bukunya yang berwarna cokelat tua  menempel di salah satu sisi tembok ruangan khusus. Dia memposisi rak itu sedemikian rupa sehingga enak dipandang dan tidak terlalu banyak memakan ruangan. Buku-buku, majalah, dan referensi lain miliknya terlindungi dengan baik karena tertutup kaca yang tembus pandang. Setiap kotak dalam rak itu diletakkan buku-buku yang sejenis dan disertai label jenis buku dimaksud. Tepat di depan rak yang sarat buku itu, ia meletakkan kursi empuk untuk menikmati bacaan yang beragam itu sambil santai. Lampu yang menggantung di langit-langit ruangan bersinar putih bersih menerangi ruangan perpustakaan yang cukup luas itu.&lt;br /&gt;Ketika ditanya, apa resep keberhasilannya di dunia kewartawanan, ia bilang, “ Seorang wartawan dan penulis  yang baik haruslah tidak pernah berhenti belajar. Ia mesti selalu rajin membaca, mendengar, menonton/melihat, dan mencatat.  Kalau orang lain menghadiri rapat atau seminar banyak yang hanya duduk mendengar, saya justru mendengar sambil mencatat dengan seksama. Catatan itu akan membantu dalam mengingat sesuatu di kemudian hari.” &lt;br /&gt;“Perpustakaan ini saya buat untuk menunjang aktivitas menulis saya. Saya butuh buku-buku dan sumber bacaan lain untuk menulis. Sebagian besar sudah tersedia di perpustakaan ini,” ujarnya ketika berbincang-bincang dengan penulis di rumahnya yang asri di bilangan utara kota Denpasar belum lama ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisihkan Waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun perpustakaan pribadi adalah sebuah langkah awal yang bagus. Tapi, semua itu belumlah cukup kalau tidak dibarengi dengan kesediaan meluangkan waktu untuk membaca, menggali ilmu pengetahuan dari perpustakaan yang Anda buat. Sisihkan waktu, paling tidak satu atau dua jam setiap hari untuk membaca. Dan, kita tentu sepakat bahwa membaca itu banyak manfaatnya. &lt;br /&gt;Yang paling utama, dengan membaca orang pasti bakal bertambah wawasan pengetahuannya. Semakin rajin dan suntuk orang menggali pengetahuan semakin bertambah pula wawasannya sehingga ia bakal menjadi orang yang berwawasan luas. Di samping itu, membaca juga dapat meningkatkan kecerdasan. Seorang atlet binaraga akan kian bagus bentuk otot-otot pada tubuhnya apabila berlatih secara teratur dan benar. Demikian pula, dengan membaca maka  kecerdasan pun dapat dipastikan akan meningkat karena Anda telah melatih ‘otot-otot’ otak secara berkelanjutan. &lt;br /&gt;Nah, selamat membangun perpustakaan dan selamat membaca. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-4228582894967359326?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/4228582894967359326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/perpustakaan-pribadi-dan-hasrat-membaca.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4228582894967359326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4228582894967359326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/perpustakaan-pribadi-dan-hasrat-membaca.html' title='Perpustakaan Pribadi dan Hasrat Membaca'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-105108000653933087</id><published>2010-12-30T02:20:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T02:20:20.089-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Teruslah Menulis, Menulislah Terus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_OySxeguFC3U/S9qL-qTI82I/AAAAAAAAAVo/jhxsnS_bApM/s1600/menulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_OySxeguFC3U/S9qL-qTI82I/AAAAAAAAAVo/jhxsnS_bApM/s1600/menulis.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita tengok seorang balita yang sedang belajar berjalan. Ia tak langsung bisa berjalan seperti orang dewasa, bukan? Dia mungkin akan mulai dari belajar merangkak. Dia mencoba menyeimbangkan kedua kakinya saat bergerak. Setelah bisa merangkak, sedikit demi sedikit ia mencoba berdiri. Setiap kali mencoba berdiri, ia jatuh. Pantatnya berkali-kali terhempas ke lantai. Tapi, ia bangun lagi setiap kali terjatuh.  Usaha yang berulangkali dari hari ke hari membuatnya bisa berdiri pada akhirnya. Tak puas hanya sekedar berdiri. Kali ini tiba saatnya mulai belajar melangkah. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya satu satu. Pelan-pelan sekali. Badannya oleng dan ia pun jatuh. Begitu terus-menerus terjadi sampai akhirnya balita tadi  benar-benar mampu melangkah dengan cukup sempurna. Senyum manis dan tawa kecil melengkapi kemenangannya!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ketika menginjak sekolah dasar, mari kita lihat lagi anak ini belajar naik sepeda gayung. Mula-mula ia belajar menuntun sepedanya di gang kecil di depan rumah. Setelah itu, dia mencoba menaiki sepeda itu dan menggayungnya, dan belum berhasil. Dia jatuh berkali-kali. Beberapa kali lutut dan sikunya lecet lantaran berbenturan dengan permukaan beton di gang tempatnya berlatih. Latihan itu dilakukannya berulang-ulang tanpa putuas asa. Dan, apa hasilnya? Akhirnya ia berteriak gembira:  “Aku bisa.  Pa, Ma,  aku bisa naik sepeda!” &lt;br /&gt;Setelah si anak beranjak remaja, mari kita lihat bagaimana ia yang  belajar berenang. Ia tidak belajar berenang dari buku-buku tentang teknik berenang. Dia langsung saja  terjun ke air kolam yang cukup dangkal. Lalu, ia pun  mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dicoba, tapi belum berhasil. Tanpa pernah bosan, ia berlatih terus-menerus. Dan, akhirnya, suatu hari kemudian, remaja kita  ini bisa berenang!  “Horee, saya berhasil,” teriaknya yang didengar teman-teman seusianya. Ia tersenyum, manis sekali.&lt;br /&gt;Apa kaitan cerita itu dengan aktivitas menulis?  Jika ingin menjadi penulis, maka kita pantas belajar dari anak tersebut. Bagaimana ia belajar berjalan ketika masih balita, lalu belajar bersepeda ketika kanak-kanak, dan belajar berenang tatkala remaja. Hikmah yang dapat kita petik: perlunya latihan dan latihan. Kalau orang ingin menjadi penulis andal, tentu diperlukan kesediaan berlatih menulis secara terus-menerus. Tak bisa lain. Membaca buku-buku teknik menulis, walaupun perlu, tapi bakal tak banyak gunanya kalau kita tak kunjung menggoreskan tinta pena di atas kertas atau  kalau kita tak mau membuat jemari kita ‘menari’ di atas tuts komputer. &lt;br /&gt;Penulis 38 judul buku yang sebagaian besar best seller, Andrias Harefa, memiliki anjuran yang bagus. “Untuk menjadi penulis, yang diperlukan hanyalah kemauan. Anda bisa melakukannya saat ini juga. Ya, sekarang juga,” katanya. “Untuk menjadi penulis Anda hanya perlu melahirkan karya tulis. Jika hari ini tulisan Anda muncul di blog atau di milis atau di media manapun yang bisa dinikmati orang, maka dalam arti yang sederhana, Anda sudah jadi penulis. Jadi, apalagi yang Anda tunggu?  Menulislah”, anjur pria pendiri Komunitas Writer Schoolen ini.  &lt;br /&gt;Menulis adalah pekerjaan melakukan, pekerjaan ‘action’.   Jadi, tulis saja yang ingin ditulis. Apa itu dimaksudkan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di selembar kertas kecil, mengisi buku harian, mengisi blog, atau membuat artikel. Cita-cita menjadi penulis tak akan pernah tercapai kalau kita tak pernah menghasilkan tulisan. Mimpi menjadi penulis saja tak cukup. Yang lebih penting: berani mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Untuk ini, tiada pilihan lain selain menulis dan menulis tanpa pernah berhenti.  Kalau hasilnya belum sempurna, tak mengapa. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Teruslah menulis dan menulislah terus. &lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda, para pembaca?  ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-105108000653933087?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/105108000653933087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/teruslah-menulis-menulislah-terus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/105108000653933087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/105108000653933087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/teruslah-menulis-menulislah-terus.html' title='Teruslah Menulis, Menulislah Terus'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_OySxeguFC3U/S9qL-qTI82I/AAAAAAAAAVo/jhxsnS_bApM/s72-c/menulis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1950390384743009826</id><published>2010-12-30T02:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T02:18:51.365-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Refleksi Akhir Tahun 2010: Dalam Lingkar Hukum Kausalitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_y_6qOLG67ZY/S4agxzGDq8I/AAAAAAAAA-E/4FD84jEVTDg/s640/merenung-sampai-mati.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://3.bp.blogspot.com/_y_6qOLG67ZY/S4agxzGDq8I/AAAAAAAAA-E/4FD84jEVTDg/s320/merenung-sampai-mati.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tahun 2010 segera berakhir. Tahun 2011 kita masuki. Ada banyak cacatan perjalanan di belakang sebagai jejak tapak kaki kita. Ada haru biru, ada sedih merintih disana. Ada juga sederet kesukacitaan dengan sejumput prestasi. Kini, di peralihan tahun, saatnya kita melakukan refleksi. Merenungkan apa yang sudah berhasil kita capai, apa pula yang belum. Dari masa lalu itu kita belajar menyongsong masa depan. Dengan refleksi kita menjaga jarak dengan masa yang kini berada di belakang kita sambil mengajukan pertanyaan bernuansa  filsafati :  Kita sudah sampai dimana? Apakah ayunan langkah kita sudah berada dalam rel yang seharusnya, tidak melenceng keluar dari norma yang ada? Dan, adakah pula kita sudah berkontribusi bagi kemaslahatan hidup bersama dan terhindar dari sikap mementingkan diri sendiri? Apa pula yang hendak kita mimpikan di tahun baru? &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;C atatan Keprihatinan&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perjalanan di sepanjang tahun 2010 memberikan kita sebuah gambaran yang berwarna. Di situ tercatat ada kisah-kisah memilukan dan sangat menyayat hati. &lt;span class="fullpost"&gt; Sebagian dari saudara-saudara kita sebangsa dan senegara di Mentawai (dan Aceh) tertimpa tsunami. Kondisi mereka benar-benar memprihatinkan. Hingga kini pun ada yang belum tertangani dengan tuntas, sebagaimana dilaporkan sebuah media televisi nasional baru-baru ini. Ada lagi bencana Gunung Merapi yang telah meluluhlantakkan sejumlah desa di sekitarnya. Rumah-rumah masyarakat rusak berat, infrastruktur juga tak berbeda. Hewan peliharaan petani nyaris mati seluruhnya terkena wedhus gembel, lahan pertanian pun tak bisa ditanami. Dan, ketika letusan berarkhir, tiba-tiba datang banjir yang membawa lahar dingin muntahan gunung, melanda wilayah yang dilewatinya. Lalu, ada juga kisah tentang banjir di ibu kota negara yang tak berkesudahan terjadi pada setiap musim hujan, di samping banjir-banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah di seantero negeri. Sungguh sangat memprihatinkan melihat keadaan seperti ini. &lt;br /&gt;Dalam cacatan perjalanan itu, ada pula berita kemalangan yang menimpa para tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Di Arab Saudi, juga di Malaysia. Para TKI yang acap dipredikati sebagai pahlawan devisa, sebagian diantaranya bernasib tidak mujur. Kalau tidak diperkosa, mereka tak diberi gaji atau disiksa oleh majikannya. Inilah rupanya resiko mengirimkan tenaga kerja yang hampir tanpa keterampilan, sebagai pembantu rumah tangga. Mungkin saja sebagian dari majikan itu melihat para pembantu itu tak lebih dari seorang budak yang, menurutnya, dapat diperlakukan semaunya. Proteksi terhadap mereka jauh dari cukup untuk  menjamin keamanan dan keselamatan  mereka  di perantauan. &lt;br /&gt;Kasus-kasus korupsi pun tak habis-habisnya terjadi. Media massa sangat rajin memuat berbagai tindakan menggaruk uang negara itu untuk memperkenyang diri dan kelompok. Tak peduli dengan yang namanya moralitas. Karena, yang terpenting adalah, keinginan atau tujuan tercapai. Segala cara dihalalkan untuk mendapatkan apapun yang diinginkan. Bila perlu, mereka melakukan tindakan menyuap aparat demi terhindar dari jeratan hukuman. Kalau pun terpaksa terseret juga, maka ia akan melakukan apapun untuk menghindari atau memperingan hukuman. Orang-orang seperti inilah yang, alih-alih mengantarkan bangsa ini ke arah kemajuan, mereka malah mendorong bangsa ini ke tepi jurang kehancuran. Hasilnya, Indonesia yang hingga kini masih dipredikati oleh lembaga Transpancy International sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Ini, lagi-lagi memprihatinkan kita. &lt;br /&gt;Catatan  Melegakan&lt;br /&gt;Beruntung kita masih punya sepak bola yang memberikah secercah pengharapan, penghiburan, dan peluang berprestasi. Perhelatan sepak bola Piala AFF 2010 merupakan salah satu yang memberikan pengharapan sekaligus kebanggaan. Selama ini, rakyat telah dibombardir oleh informasi seputar berbagai persoalan negeri dapat menarik nafas lega, lalu bilang: untung ada sepak bola! Ya, melalui bola, muncul kegairahan dan kepercayaan diri yang kian menguat, bahwa kita adalah bangsa yang besar yang layak diperhitungkan oleh negeri-negeri tetangga bahkan dunia. Di dalam sepakbola kita melihat keindonesiaan, kita melihat nasionalisme. Keindonesiaan atau nasionalisme yang mungkin sempat kita ragukan keajegannya, terbukti masih kuat yang tersimbul membahana  lewat bundarnya bola. Setiap orang Indonesia tersedot perhatiannya pada sepak bola Piala AFF ini. Mereka semua merasa sangat berkepentingan agar Indonesia menjadi juara dalam laga Asia Tenggara ini. Mereka mendukung Tim Merah Putih yang berjuang keras di lapangan. Sepakbola membawa kita pada wawasan nusantara, mengingatkan bahwa kita mesti siap membela negeri ini dengan segala upaya. &lt;br /&gt;Akan halnya dengan bencana-bencana yang terjadi seperti tanpa berkesudahan itu ternyata membangkitkan solidaritas sosial masyarakat Indonesia. Solidaritas sosial, yang mungkin kita duga sudah mati suri, ternyata masih hidup jauh di dalam hati sanubari insan negeri ini. Para sukarelawan turun tangan bersama-sama pemerintah dan masyarakat menolong saudara-saudara mereka yang terkena bencana. Bantuan-bantuan dari berbagai pelosok Indonesia pun datang untuk meringankan penderitaan korban. Tak ketinggalan, awak media massa, cetak dan elektronik, melaporkan peristiwa itu dari hari ke hari sehingga dengan demikian publik tahu perkembangan yang terjadi. Awak media telah mendedikasikan halaman-halaman medianya untuk memberitakan perkembangan bencana. Mereka melakukan itu semua tanpa pamrih, tanpa motif mengharapkan  imbalan. Ternyata, masih sangat banyak anak negeri ini yang berjiwa dermawan, yang siap lahir dan batin menolong saudaranya yang tengah menderita. &lt;br /&gt;Solidaritas sosial, nasionalisme, kedermawanan merupakan nilai-nilai luhur  yang kita miliki sebagai bangsa yang sudah terbukti nyata diamalkan. Nilai-nilai berharga ini perlu terus dihidupkan ketika kita hendak melangkah ke depan, saat kaki kita melangkah ke tahun 2011 dan meninggalkan tahun 2010. Di samping itu, nilai-nilai kejujuran perlu kita tumbuh kembangkan agar menghiasi langkah tindak kita ke depan, baik dalam kehidupan pribadi, berbangsa, dan bernegara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani Bermimpi&lt;br /&gt;Marilah kita berani bermimpi tatkala memasuki tahun 2011. Bukan sekedar bermimpi di siang hari, melainkan memimpikan tentang kehidupan yang lebih baik. Mimpi adalah langkah awal yang baik, dan ini butuh kepercayaan diri dan keberanian: mimpi seperti apa yang kita miliki? Masa depan macam apa yang kita harapkan terwujud?  Kita mesti belajar dari pengalaman masa lalu, agar tak kehilangan tongkat yang kedua kalinya. Kita juga mesti mengambil hikmah dari masa lalu untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan ke depan. Kita jadikan masa lalu sebagai batu pijakan untuk menapaki masa datang. Seperti sebuah ungkapan, “barangsiapa yang hari ini lebih baik daripada hari kemarin, maka ia merupakan orang yang beruntung. Kalau sama saja, dia adalah orang yang merugi. Kalau lebih buruk, dia adalah orang yang celaka.”&lt;br /&gt;Mari kita menguatkan pikiran positif kita: berpikir bahwa selalu ada harapan yang lebih baik di masa depan.  Post nubila jubila: setelah awan mendung, ada suka cita.  Pikiran positif dan sikap optimistik niscaya akan membawa kita pada pengharapan dan memberikan kita gairah untuk bekerja lebih keras dan lebih cerdas. Untuk itu, mari menabung kebaikan, bukan menabung dosa. Mari memperkuat kejujuran, bukan kebohongan dan egoisme. Mari kita perkuat nasionalisme dan solidaritas sosial, bukan anarkhi dan ketidakpedulian. Mengapa? Karena, seperti sebuah ungkapan, “siapa yang menabur angin akan menuai badai. Siapa yang menanam singkong akan memanen singkong.” Kita semua berada dalam lingkar hukum kausalitas. Selamat Tahun Baru 2011. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1950390384743009826?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1950390384743009826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/refleksi-akhir-tahun-2010-dalam-lingkar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1950390384743009826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1950390384743009826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/refleksi-akhir-tahun-2010-dalam-lingkar.html' title='Refleksi Akhir Tahun 2010: Dalam Lingkar Hukum Kausalitas'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_y_6qOLG67ZY/S4agxzGDq8I/AAAAAAAAA-E/4FD84jEVTDg/s72-c/merenung-sampai-mati.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-4256661134632045976</id><published>2010-12-30T02:12:00.001-08:00</published><updated>2010-12-30T02:16:29.864-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menggugah Guru Gemar Menulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://titikkoma.com/wp-content/uploads/2010/03/Menulis.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="195" src="http://titikkoma.com/wp-content/uploads/2010/03/Menulis.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Seorang guru bertutur tentang dunia tulis-menulis di depan kelas. Kata sang guru, menjadi penulis yang terkenal itu sangat menyenangkan. Katanya, banyak manfaat yang diperoleh dari kegiatan menulis atau mengarang, termasuk di dalamnya untuk mendapatkan honorarium. “Sebuah artikel yang dimuat di media nasional bisa dihargai sampai Rp. 1 juta,” katanya dengan penuh semangat. Para murid dengan suntuk mendengar ucapan sang guru. Satu diantara para siswa itu bertanya dengan polosnya:  Pak Guru sudah banyak menulis ya? Berapa honor yang Bapak peroleh?  Saya jadi tertarik.”  Pembaca tahu jawaban sang  guru?  “Belum ada,” disertai serangkaian alasan mengapa ia tak sempat menulis. Salah satu dalihnya adalah kesibukan yang sangat padat, baik dalam kaitannya dengan persiapan tugas mengajar dan tugas administratif lainnya di sekolah maupun kegiatan lainnya di luar sekolah. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilustrasi di atas bukanlah dimaksudkan menyudutkan guru atau mengurangi penghargaan terhadap guru, melainkan hanya sebagai  gambaran betapa para guru kita belum banyak yang ‘turun gunung’ melalui tulisan-tulisannya. Padahal, secara intelektual, guru-guru kita sangat berpotensi menjadi penulis andal. &lt;span class="fullpost"&gt; Akan tetapi, walaupun ada niat menuangkan pikiran lewat tulisan berupa artikel untuk media massa, tapi tidak pernah direalisasikan. Padahal, bagi seorang guru, untuk mendorong para siswa menggemari kegiatan menulis atau mengarang, sang guru sendiri mesti mampu menjadi teladan di bidang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghitung Manfaat Menulis&lt;br /&gt;Kalau ditelisik lebih jauh, manfaat menulis di media massa cukup banyak. Pertama, ini kiranya yang terpenting, yakni untuk mendapatkan nilai kredit (credit point) bagi profesinya sebagai guru. Dengan menulis guru yang bersangkutan akan  mendapatkan nilai angka kredit, dan ini berdampak langsung bagi karier/kepangkatan. &lt;br /&gt;Kedua, dengan menulis seorang guru dapat meningkatkan kepercayaan dirinya. Tulisan-tulisan yang berhasil dimuat di media massa bisa  lebih meyakinkan dirinya lagi bahwa ia memiliki kualitas. Tulisan-tulisan itu dapat menjadi bukti nyata dari kualitas dan kapabilitasnya sebagai seorang pendidik. &lt;br /&gt;Ketiga, dengan menulis secara kontinyu, berarti seorang guru telah mengedukasi masyarakat. Jadi, guru tak hanya mendidik para siswa di sekolah, bahkan juga menjadi ‘guru’ bagi masyarakat. Dengan menulis, para guru yang penulis dapat berbagi (sharing) kepada masyarakat pembaca melalui ide-ide yang dituangkan ke dalam artikelnya. Alangkah menyenangkan kalau  melalui artikel-artikelnya di media cetak para guru juga bisa berbagi kepada masyarakat luas, bukan? Masyarakat kita tentu akan semakin cepat  meningkat kecerdasan dan meningkat pula pengetahuannya melalui bantuan para guru yang penulis. &lt;br /&gt;Keempat, dengan menulis seorang guru akan mendapatkan tambahan penghasilan dari honorarium yang diterima atas dimuatnya tulisannya di koran atau majalah. Sebutlah, misalnya, dalam sebulan ia dapat meloloskan artikelnya sebanyak 4 buah di sebuah media nasional. Andaikan honor setiap artikel  itu sebesar Rp.250.000 rupiah. Jadi, dalam sebulan ia akan mendapatkan tambahan penghasilan satu juta rupiah. Lumayan untuk menambah isi kantong, bukan?  &lt;br /&gt;Kelima, dengan menulis, seorang guru akan meningkatkan kecerdasan atau intelektualitasnya. Mengapa? Karena, untuk menulis, ia mesti menggali berbagai sumber informasi yang relevan.  Aktivitas ini berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan intektual dan daya imajinasinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diperlukan Komitmen&lt;br /&gt;Banyak sekali alasan yang bisa dipakai sebagai dalih bagi seseorang untuk menolak atau menghindari kegiatan menulis. Seperti disebutkan di awal, kesibukan-kesibukan yang padat menjadi alasan pamungkas untuk tak menyentuh aktivitas menulis. Alasan-alasan itu menjadi sah dan masuk akal. Akan tetapi, menurut penulis, yang diperlukan sesungguhnya adalah komitmen. Artinya, ada tekad dari para guru untuk meluangkan waktu di sela-sela kesibukan mereka untuk menuangkan gagasan ke dalam bentuk karya tulis untuk media massa. Kalau seseorang berkomitmen, maka tidak akan ada alasan lagi baginya untuk menghindari aktivitas tulis-menulis. Komitmen itu seperti sebuah janji kepada diri sendiri. Dengan kata lain,  diperlukan ‘kebulatan tekad’ untuk menulis dan menjadi penulis. &lt;br /&gt;Selanjutnya, guna mendukung kegiatan ini diperlukan pembiasaan menggali pengetahuan dari berbagai sumber. Buku, majalah, koran, internet, radio, siaran televisi, dan berbagai bentuk sumber informasi lainnya dapat dipakai sebagai bahan mentah untuk diolah menjadi tulisan. Oleh karena itu, guru yang (calon) penulis mesti rajin membaca, mendengar, menonton, dan mencatat. Keempat aktivitas ini akan memampukan seseorang untuk menjadi penulis yang baik. Menulis adalah kegiatan merangkai gagasan ke dalam sebuah karya dengan menggunakan huruf, angka, kata, kalimat, dan  data. Orang tak mungkin menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot dari pikiran kosong, bukan? &lt;br /&gt;Mereka yang tidak terbiasa menulis atau mengarang tentu akan merasakan kesulitan pada awalnya. Akan tetapi, ketika aktivitas ini sudah menjadi kebiasaan, maka ini akan menjadi mudah. Jadi, tak perlu terlalu dikhawatirkan. Kita mungkin masih ingat ketika awal belajar mengemudikan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Pada mulanya amat susah, bukan? Tapi, setelah berlatih secara kontinyu, mengatasi berbagai kesulitan,  segalanya kemudian menjadi mudah, bagai aktivitas yang berlangsung otomatis.  Apalagi mengingat guru adalah intelektual yang rata-rata berpendidikan tinggi. Potensi ini kalau dimanfaatkan dengan baik akan dapat mengantarkannya menjadi penulis andal. &lt;br /&gt;Kalau dalam proses tersebut ada sejumlah masalah yang berkenaan dengan kesulitan mendapatkan ide-ide yang bakal ditulis, pasti akan dapat diatasi. Dengan membaca, menonton, mendengar, dan mencatat dengan rajin, niscaya para guru akan mendapatkan gagasan-gagasan berharga untuk dituangkan ke dalam tulisan. Kalau, misalnya, persoalannya terletak pada pemakaian tata bahasa, ejaan, diksi, dan gaya bahasa, atau yang sejenis, ada banyak buku yang dapat dijadikan acuan. Kalau terkendala dengan waktu, dengan komitmen yang tulus, tentu waktu itu dapat diatur dan dapat diluangkan khusus untuk menulis.&lt;br /&gt;Aktivitas tulis-menulis sudah pasti bermanfaat, baik bagi guru maupun masyarakat. Jalan menuju ke dunia tulis-menulis pun  terbuka lebar bagi para guru kita. Maka, tinggal satu langkah lagi :  memulainya sekarang juga. ***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-4256661134632045976?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/4256661134632045976/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/menggugah-guru-gemar-menulis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4256661134632045976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4256661134632045976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/menggugah-guru-gemar-menulis.html' title='Menggugah Guru Gemar Menulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7745644288251584017</id><published>2010-12-30T02:12:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T02:16:08.913-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Remunerasi Bukan Single Track</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca *)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.jakartapress.com/demo/news/images/11932/Tiga-Lembaga-Negara-Dapat-Remunerasi-2010.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.jakartapress.com/demo/news/images/11932/Tiga-Lembaga-Negara-Dapat-Remunerasi-2010.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Setelah  peningkatan remunerasi di lingkungan Kementerian Keuangan RI  dilaksanakan, kini giliran aparat di jajaran di lembaga kepolisian bakal didongkrak penghasilannya melalui tunjangan kinerja berdasarkan Perpres No.73/2010 tentang Tunjangan Kinerja bagi Pegawai di Lingkungan Polri yang dikeluarkan 15 Desember 2010. Tentu saja kita menyambut baik program remunerasi itu, dengan harapan lembaga-lembaga dimaksud bakal menunjukkan kinerja yang lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, kita menjadi sedikit pesimis dengan remunerasi. Salah satu kasus di lingkungan Ditjen Pajak Kementerian Keuangan membuktikan betapa perbaikan penghasilan tidak  serta-merta berpengaruh terhadap berkurangnya perilaku korupsi. Orang yang berpanghasilan (lebih) besar tak menjamin akan meninggalkan mental koruptif. Gayus  HP Tambunan, hanyalah salah satu contoh di samping banyak kasus sejenis di lembaga pemerintahan lainnya yang seringkali diberitakan media massa. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Problem Mentalitas&lt;br /&gt;Penulis berpendapat, kasus-kasus korupsi terjadi sebagai problem mentalitas. Artinya, persoalan korupsi yang terjadi mesti dibedah dengan pendekatan psikologi. Orang korupsi, karena apa? Dorongan  bergaya hidup mewah dan serba mudah telah membawa orang untuk mencari jalan untuk memenuhinya. Beragam keinginan lalu muncul dari berbagai stimulus eksternal. Ketika ada jalan, apalagi tanpa pengawasan yang memadai, orang lalu mengambil jalan yang keliru: melakukan korupsi. Tepatlah ucapan ahli politik Lord Acton, bahwa the power tend corrupt!  Tambahannya: apalagi tanpa pengawasan, pasti korupsi. &lt;br /&gt;Dalam konteks ini, ada dua jenis mentalitas.  Pertama, ia yang bermental berkecukupan yang disertai rasa syukur. Manusia jenis ini tak akan neko-neko untuk mendapatkan sesuatu yang bukan haknya. Dia lebih banyak mensyukuri apapun yang diperolehnya dari kehidupan dan usahanya. Orientasinya bukan melulu pada upah, gaji, dan hasil semata. Melainkan, ia lebih  mengutamakan pengabdian yang tulus, selalu berusaha berbuat baik dengan mengerjakan tugas dan kewajibannya sebagai wujud tanggung jawabnya kepada bangsa dan negara.  Kalau ada predikat untuknya, yang cocok adalah predikat pahlawan pembangunan. &lt;br /&gt;Kedua, ia yang bermentalitas rakus. Orang semacam ini tidak akan pernah puas apa yang diperolehnya. Ia selalu menginginkan lebih dan lebih. Tak peduli bagaimana cara mendapatkan lebih itu, yang penting mereka selalu menginginkan bagian yang sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya. Ia akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan (the end justifies the mean). Tak peduli dengan norma-norma yang ada, apalagi norma agama. Yang dihindarinya mungkin hanya hukum positif dengan segala macam sanksinya. Kalaupun harus terseret masalah hukum, dia tetap akan berjuang keras untuk keluar dari jeratan hukuman, bagaimanapun caranya. &lt;br /&gt;Mentalitas rakus menjadi klop dengan mentalitas menerabas seperti pernah ditulis budayawan Koentjaraningrat. Ya, dengan mental menerabas ia bisa cepat dan langsung mendapatkan apapun yang diinginkan. Kalau dia  kebetulan mencapai kedudukan strategis di birokrasi atau di lembaga lainnya, maka ia tak segan-segan memanfaatkan kedudukannya untuk melakukan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme.  Jadi, mereka adalah penganut  ‘ajaran’   aji mumpung  yang setia.&lt;br /&gt;Mentalitas orang semacam inilah yang menyebabkan Indonesia tercatat sebagai salah satu negara terkorup di dunia, juga bakal mengantarkan bangsa ini ke dalam lembah kehancuran.  Bagai belut, orang seperti ini licin sekali sehingga sulit ditangkap. Ia sangat lihai bersilat lidah, sangat lihai pula menyuap orang untuk tutup mulut  agar lebih leluasa mengeruk kekayaan negeri.  Di dalam sebuah negeri yang penegakan hukumnya masih carut-marut , sulit menentukan siapa sesungguhnya sang maling (baca: koruptor)-nya, mana pula  yang bukan.  Karena, maling seringkali berteriak maling. Alhasil, bisa jadi aparat salah tangkap. &lt;br /&gt;Ada ungkapan yang menyatakan, sebenarnya sumber daya yang ada sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan semua, tapi sama sekali tak cukup untuk seorang manusia yang rakus. Kalau misalnya terdapat banyak orang Indonesia  bermentalitas rakus,  maka dapat dipastikan negeri ini berada di ambang kebangkrutan. Lalu, bagaimana pertanggungjawaban kita terhadap generasi mendatang?&lt;br /&gt;Harapan dari Remunerasi&lt;br /&gt;Masih beruntung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menabuh genderang perang terhadap korupsi. Lembaga-lembaga negara yang bertanggung jawab mengawasi dan menindak koruptor sudah diperkuat. Air segar nan jernih telah dituangkan ke dalam wadahnya. Akankah berhasil? Perjalanan pemberantasan korupsi masih panjang, terjal, dan berbatu. Mari kita lihat dan dukung perjuangan ini. &lt;br /&gt;Dengan remunerasi, kita berharap bakal  banyak terjadi perubahan ke arah positif. Pertama, penghasilan para pegawai pemerintah (birokrasi) yang mendapatkan peningkatan remunerasi akan lebih layak atau memadai. Kedua, tumbuhnya pelayanan publik yang lebih baik sebagai bentuk akuntabilitas pemerintah atas uang rakyat yang dipergunakan. Ketiga, tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga pemerintahan yang belakangan ini turun drastis. Keempat, menurunnya angka korupsi sehingga lambat laun dapat mendongkrak prestise Indonesia di mata dunia menjadi salah satu negara yang lebih bersih. &lt;br /&gt;Semoga masih ada kekuatan dari dalam lembaga-lembaga pemerintahan dan kekuatan eksternal yang dapat mendorong tercapainya keempat hal itu. Semoga para pemimpin negeri ini masih banyak yang bersedia menjadi teladan yang baik, yang ucapannya selaras dengan tindakannya. Semoga tugas pengawasan kian digiatkan dengan pengenaan sanksi tak pandang bulu bagi yang bersalah. Peluang terjadinya moral hazard sudah saatnya ditutup rapat-rapat. Mari kita mencoba optimis seraya  berdoa kepada  Tuhan yang Mahaadil agar cita-cita mulia ini dapat terwujud tanpa, lagi-lagi, harus mengorbankan rakyat. Kita tahu, tak ada yang salah dengan remunerasi. Tapi, remunerasi tidak boleh diandalkan  sebagai single-track untuk menghapus korupsi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7745644288251584017?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7745644288251584017/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/remunerasi-dan-problem-mentalitas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7745644288251584017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7745644288251584017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/remunerasi-dan-problem-mentalitas.html' title='Remunerasi Bukan Single Track'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1503937092249636674</id><published>2010-12-21T01:47:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T01:47:33.644-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>BBM  Nonsubsidi dan Moral Hazard</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://blog.autoworld.com.my/wp-content/uploads/2009/02/fuel.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://blog.autoworld.com.my/wp-content/uploads/2009/02/fuel.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Wacana pembatasan BBM nonsubsidi kini mulai mengerucut. Pemerintah dan DPR akhirnya menyepakati pelanksanaan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi mulai akhir  Maret 2011. Awalnya, rencana ini akan diberlakukan per Januari 2011. Karena berbagai pertimbangan termasuk supaya mendapatkan waktu persiapan yang cukup, maka pelaksanaannya diundur. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tahap pertama, semua kendaraan mobil ber-plat hitam (mobil pribadi) diharuskan memakai premium bersubsidi. Mobil pribadi tak boleh lagi disusui dengan BBM bersubsidi seperti sebelumnya. Selanjutnya, sampai dengan tahun 2013 aturan tersebut sudah berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagaimana diberitakan sebuah harian nasional, alasan mendasar pemerintah untuk memberlakukan aturan ini adalah UU APBN 2011.  Undang-undang itu mengamanatkan, volume BBM bersubsidi dibatasi sama dengan tahun 2010 yakni sekitar 38 juta kiloliter. Jika tanpa pengendalian, diperkirakan konsumsi BBM mencapai 42 juta kiloliter. Dengan pembatasan ini, pemerintah mengharapkan bisa menekan subsidi sebesar Rp.3,8 triliun pada tahun 2011. Sampai tahun 2013 diperkirakan mencapai Rp.20,7 triliun. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Alasan penghematan subsidi ini tentu saja dapat dipahami sebagai langkah untuk mengalihkan dana pemerintah untuk pembangunan yang lebih menjadi prioritas. Yang kita harapkan, diantaranya, diperbaikinya moda transportasi sehingga dapat menunjang kelancaran perekonomian rakyat. Kita juga mafhum, kalau langkah penghematan ini tidak dilakukan, maka semakin bertambahnya tahun semakin banyak pula dana yang tersedot untuk keperluan BBM bersubsidi. Agaknya, masyarakat Indonesia yang relatif lebih mampu secara ekonomi perlu secara bertahap diberikan kepercayaan dan kesempatan untuk lebih mandiri. Sebaliknya, kepada masyarakat ekonomi lemah dan masyarakat miskin mendapatkan kesempatan  untuk menikmati subsidi tersebut karena alasan kebutuhan real.  &lt;br /&gt;Penulis berpandangan, memilih mengenakan BBM nonsubsidi hanya pada kendaraan roda empat berplat hitam adalah pilihan yang paling rasional. Kalau opsi lain yang dipilih, seperti dengan melihat angka tahun keluaran kendaraan yang 2005 ke atas, dalam prakteknya akan sangat sulit. Apakah, misalnya, petugas SPBU mesti mengecek dulu STNK kendaraan pembeli sebelum mengisinya dengan minyak?  Ketidakpraktisan ini akan menghambat program yang dilakukan. Dengan menentukan BBM nonsubsidi hanya untuk mobil plat hitam, maka pada setiap SPBU cukup disediakan satu-dua counter pengisian BBM khusus untuk melayani konsumen yang bermobil jenis ini.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang Perlu Diperhatikan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal atau kemungkinan yang seyogianya dicermati pemerintah sebelum memberlakukan aturan ini. Hal ini penting, agar dapat diperkecil faktor penghambatnya sekaligus agar pelayanan kepada masyarakat konsumen dapat berjalan dengan baik dan lancar. Pertama, sebagaimana ditentukan bahwa pertama-tama pelaksanaan BBM nonsubsidi akan diberlakukan di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi).  Artinya, mereka yang bermobil plat hitam yang membeli BBM di wilayah itu tak lagi mendapatkan subsidi. Yang harus diwaspadai, bukan tidak mungkin sebagian masyarakat akan membeli BBM  ke luar wilayah Jabodetabek dimana aturan dimaksud belum diberlakukan untuk mendapatkan BBM bersubsidi. Bukankah tidak ada aturan yang melarang mereka membeli premium di luar wilayah?  &lt;br /&gt;Kedua,  bukan tidak mungkin muncul perilaku ‘memborong’ BBM bersubsidi  untuk ditimbun lalu dijual lagi. Dengan menggunakan mobil bukan plat hitam (kendaraan umum, misalnya), orang bisa saja tergerak melakukan pembelian demi pembelian BBM nonsubsidi untuk dijual kembali dengan harga lebih mahal tapi sedikit lebih murah dari BBM nonsubsidi. Disparitas harga BBM bersubsidi dengan nonsubsidi dapat menggoda orang melakukan hal ini.  Juga, bukan tidak mungkin akan terjadi pembelian besar-besaran yang disertai penimbunan BBM bersubsidi 1-2 bulan menjelang diterapkannya aturan ini pada akhir Maret 2011 terutama pada wilayah Jabodetabek. Begitu selanjutnya pada daerah-daerah lainnya menjelang aturan tersebut diberlakukan. Oleh karenanya harus ada pola atau sistem pengawasan untuk menekan kemungkinan terjadinya  tindakan tak bermoral (moral hazard) seperti ini. &lt;br /&gt;Ketiga,  kegiatan produktif pada masyarakat masih banyak yang menggunakan mobil plat hitam. Jika mereka menggunakan mobilnya untuk berproduksi, tentu akan berdampak pada peningkatan biaya (cost) produksi. Kemana lagi produsen suatu produk atau jasa akan mengalihkan biaya tambahan yang disebabkan meningkatnya harga premium itu kalau bukan ke faktor harga. Maka, harga barang produksi dan jasa akan kian melambung. Ini tentu saja membuat masyarakat kian terjepit.  Konsumenlah yang pada akhirnya terkena dampatknya. Harga yang melangit mengakibatkan daya beli masyarakat menurun. Daya saing perekonomian Indonesia pun bisa melemah. &lt;br /&gt;Keempat, ada kemungkinan para pemilik mobil plat hitam akan menjual mobilnya. Siapa yang dapat menjamin mereka bakal mempertahankan kendaraannya? Tidak ada, bukan? Mereka mungkin akan memilih menggunakan sepeda motor untuk keperluan transportasi. Karena kian banyak orang menjual kendaraannya, maka harga mobil bekas merosot tajam karena penawaran jauh di atas permintaan. Penjualan mobil keluaran baru untuk pribadi pun dapat ditengarai bakal merosot secara kuantitas sebagai akibat calon konsumen memperhitungkan faktor kemahalan BBM. Biaya yang akan mereka keluarkan jauh lebih besar daripada saat BBM masih disubsidi pemerintah. &lt;br /&gt;Itulah kiranya yang harus diperhatikan oleh pemerintah sekaligus melakukan langkah antisipasi. Harus dipahami semua kibijakan baru, apalagi yang tidak populis, akan sangat berat diawalnya. Diperlukan kehati-hatian dan kecermatan dengan menghitung setiap resiko atau akibat yang mungkin ditimbulkannya terutama yang terkait langsung dengan kemaslahatan hidup masyarakat luas.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Untuk  Kesejahteraan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja pemerintah harus tetap konsisten untuk memanfaatkan penghematan dari subsidi itu untuk kesejahteraan masyarat. Diantaranya, dengan meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana dan prasarana transportasi. Juga, untuk diarahkan kepada masyarakat yang masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan yang benar-benar perlu dibantu agar bisa  hidup lebih baik dan mandiri nantinya. Di samping itu, sebisa mungkin jangan sampai penghematan ini mengakibatkan masyarakat berkorban dan berkorban  lagi lantaran kehilangan kesempatan meningkatkan produktivitasnya. &lt;br /&gt;Semua pihak yang terkait dengan rencana ini memang sudah seharusnya bersinergi, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Hal ini penting untuk mencapai hasil terbaik dalam pelaksanaannya di lapangan. Sosialisasi rencana ini tak kalah pentingnya agar masyarakat sebagai konsumen paham dan lebih siap menerima kebijakan ini tatkala diberlakukan. &lt;br /&gt;Walaupun berat pada awalnya, mudah-mudahan kebijakan ini dapat berjalan dengan baik. Tak bisa dihindari, prinsip kaizen, yakni penyempurnaan sambil jalan dan secara bertahap, harus terus dilakukan. Tujuannya agar masyarakat dapat terlayani dengan sebaik-baiknya, kendati biaya yang mereka keluarkan lebih besar dibanding sebelumnya.   &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1503937092249636674?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1503937092249636674/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/bbm-nonsubsidi-dan-moral-hazard.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1503937092249636674'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1503937092249636674'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/bbm-nonsubsidi-dan-moral-hazard.html' title='BBM  Nonsubsidi dan Moral Hazard'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-1433785125796911551</id><published>2010-12-21T01:46:00.000-08:00</published><updated>2010-12-21T01:46:58.883-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Berawal  dari Blog , Berakhir Jadi  Buku</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://xpresiriau.com/wp-content/uploads/2009/03/film-kambing-jantan.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://xpresiriau.com/wp-content/uploads/2009/03/film-kambing-jantan.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;Ada gejala yang cukup menarik belakangan ini dalam hubungan antara blog dan buku. Sejak dulu hingga kini orang menulis buku memang dengan sengaja untuk dijadikan sebuah buku. Artinya, orang mempersiapkan dan membuat tulisan untuk diwujudkan menjadi buku. Di samping itu, ada juga buku yang merupakan ‘bunga rampai’ dari tulisan-tulisan lepas. Tulisan-tulisan lepas itu berasal dari seorang penulis, bisa pula dari beberapa penulis. Sejumlah tulisan itu dikumpulkan, dirangkai sedemikian rupa, lalu diterbitkan ke dalam bentuk buku. Sedikit-banyak  tema tulisan-tulisan itu ada keterkaitannya satu dengan lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini, isi blog-lah  yang dimanfaatkan menjadi buku. Tulisan-tulisan yang diposting dan terdokumentasi dalam sebuah blog dipinang penerbit untuk dicetak menjadi sebuah buku. Inilah yang mulai terjadi beberapa tahun terakhir. Sebuah perkembangan yang cukup menarik dan menjanjikan bagi para blogger. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa contoh konten blog yang jadi buku, diantaranya buku ‘Jalan-Jalan Bali’, yang pada awalnya merupakan isi sebuah blog yang dimiliki seorang blogger Bali. Buku itu menjadi laris manis, karena berisi informasi yang berguna bagi mereka yang hendak melakukan tour ke Pulau Dewata. &lt;span class="fullpost"&gt;Lalu, ada pula buku yang diambil dari blog yang juga laris manis bak kacang goreng. Judulnya : Kambing Jantan: Sebuah catatan Harian Pelajar Bodoh. Raditya Dika adalah penulisnya. Pada awalnya ia tak terpikir blognya bakal jadi buku. Ia hanya mengisi blognya dengan tulisan-tulisan ringan. Eh, ternyata ada penerbit yang kepincut dengan konten blognya dan menjadikannya sebuah buku  dan ternyata kemudian menjadi laris. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Dan, ada lagi Andrias Harefa. Bukunya yang berjudul Happy Writing bersumber dari blog/webnya yang terkenal itu. Ada pula sedikit tulisan yang diambil dari facebook saat dia meminta pertimbangan pembaca dalam memilih judul yang paling pas bagi  buku tersebut. Judul Happy Writing merupakan pilihan para pembaca facebooknya diantara tiga alternatif judul yang ditawarkannya. Ternyata, hampir seluruh pembaca memilih Happy Writing sebagai judul buku yang paling menarik. Ya, akhirnya dipakailah judul tersebut.  Di samping memuat pemikiran-pemikiran Andrias seputar dunia tulis-menulis, komentar para pengunjung web-nya pun dimuat sehingga sebuah ide menjadi lengkap dan amat menarik dibaca. Agaknya buku itu bakal laris juga sebagaimana banyak buku Andrias sebelumnya yang best seller. Sekedar diketahui, penulis produktif ini telah menghasilkan 38 judul buku!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Belajar dari hal di atas, maka suatu saat Anda yang punya blog bukan tidak mungkin bakal dilirik penerbit. Tentu saja sepanjang isi blog tersebut menarik minat penerbit. Pertimbangan penerbit, antara lain, apakah informasi yang dikandung dalam blog itu berguna bagi kalangan pembaca dan apakah kalau diterbitkan bakal laku di pasaran? Oleh karena itu, sebagai blogger amatir maupun profesional, mungkin Anda lebih memilih untuk mengisi blog Anda dengan informasi dan pengetahuan yang berguna bagi pembaca/pengunjung blog Anda. Begitu dilakukan secara berlanjut dan konsisten. Siapa tahu, tulisan-tulisan Anda pun kelak dipinang penerbit. Atau, kalau tidak, toh Anda sudah berbagi dengan para pembaca. Berbagi pengetahuan dan informasi, tanpa pamrih, sama saja dengan berbuat amal, bukan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; Nah, selamat ngeblog. Bagaimana pendapat Anda,  para pembaca? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; economist-suweca.blogspot.com.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-1433785125796911551?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/1433785125796911551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/berawal-dari-blog-berakhir-jadi-buku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1433785125796911551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/1433785125796911551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/berawal-dari-blog-berakhir-jadi-buku.html' title='Berawal  dari Blog , Berakhir Jadi  Buku'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-6338077419217717830</id><published>2010-12-18T23:02:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T23:02:44.528-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Terima Kasih Tuhan</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://damarsahasrakirana.files.wordpress.com/2008/08/pray_hands.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://damarsahasrakirana.files.wordpress.com/2008/08/pray_hands.jpg" width="263" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Terima kasih ya Tuhan atas hari ini;&lt;br /&gt;Atas hari yang telah mampu hamba jalani dengan baik;&lt;br /&gt;Atas hari yang memberikan hamba sekali lagi kesempatan;&lt;br /&gt;Untuk berpikir dan berkarya;&lt;br /&gt;Dan menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih ya Tuhan;&lt;br /&gt;Atas segala karuniaMu;&lt;br /&gt;Atas kesehatan yang baik dan rejeki yang cukup;&lt;br /&gt;Atas anak-anak dan istri yang sehat dan selamat;&lt;br /&gt;Atas segala kegembiraan yang kami dapatkan dari kehidupan hari ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ampunilah hamba ya Tuhan;&lt;br /&gt;Atas segala dosa, kekurangan, dan kekhilafan hamba;&lt;br /&gt;Atas semua hal-hal yang tak baik yang pernah hamba perbuat;&lt;br /&gt;Atas semua pikiran, perkataan,  dan perbuatan hamba;&lt;br /&gt;Yang tak selaras dengan perintahMu;&lt;br /&gt;Mohon ampunilah hambaMu ini ya Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan;&lt;br /&gt;Berikanlah hamba kemampuan;&lt;br /&gt;Untuk memaafkan semua orang yang pernah berbuat salah kepada hamba;&lt;br /&gt;Tumbuhkanlah rasa maaf dan cinta nan tulus;&lt;br /&gt;Bukalah hati  hamba untuk menerima segala perbedaan;&lt;br /&gt;Dan jauhkanlah hamba dari iri, dengki, dan benci;&lt;br /&gt;Serta segala penyakit batin lainnya;&lt;br /&gt;Karena, hamba menyadari, itu semua akan merusak jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Tuhan;&lt;br /&gt;Tuntunlah hamba untuk senantiasa melangkah di dalam jalanMu;&lt;br /&gt;Jadikan pula hamba sebagai alatMu untuk berbagi kebaikan kepada sesama;&lt;br /&gt;Berbagi kasih, berbagi ilmu, berbagi harapan;&lt;br /&gt;Jadikan pula hamba sebagai alatMu untuk menyebarkan kebajikan;&lt;br /&gt;Melalui semua kemampuan yang Tuhan berikan;&lt;br /&gt;Tanpa mesti menjadi tinggi hati;&lt;br /&gt;Bakti dan sujudku hanya padaMu Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Itulah doa yang biasanya saya lantunkan dalam hati menjelang tidur. Andapun, saya kira punya doa yang senada. Lantunkanlah. Semoga berbuah kebaikan bagi Anda dan bagi kita semua. Semoga kita semua menjadi lebih dan lebih baik lagi dari hari ke hari.  Semoga.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; economist-suweca.blogspotspot.com.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-6338077419217717830?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/6338077419217717830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/terima-kasih-tuhan_18.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6338077419217717830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6338077419217717830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/terima-kasih-tuhan_18.html' title='Terima Kasih Tuhan'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-478406387910848458</id><published>2010-12-18T22:59:00.000-08:00</published><updated>2010-12-18T22:59:46.074-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Kalau Ingin Jadi Penulis, Menulislah!</title><content type='html'>&lt;div style="color: blue; text-align: justify;"&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.dekap.com/journal/images/apr_berfoto.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="295" src="http://www.dekap.com/journal/images/apr_berfoto.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mari kita tengok seorang balita yang sedang belajar berjalan. Ia tak langsung bisa berjalan seperti orang dewasa, bukan? Dia mungkin akan mulai dari belajar merangkak. Dia mencoba menyeimbangkan kedua kakinya saat bergerak. Setelah bisa merangkak, sedikit demi sedikit ia mencoba berdiri. Setiap kali mencoba berdiri, ia jatuh. Pantatnya berkali-kali terhempas ke lantai. Tapi, ia bangun lagi setiap kali terjatuh.  Usaha yang berulangkali dari hari ke hari membuatnya bisa berdiri pada akhirnya. Tak puas hanya sekedar berdiri. Kali ini tiba saatnya mulai belajar melangkah. Dia pun mencoba melangkahkan kakinya satu satu. Pelan-pelan sekali. Badannya oleng dan ia pun jatuh. Begitu terus-menerus terjadi sampai akhirnya balita tadi  benar-benar mampu melangkah dengan cukup sempurna. Senyum manis dan tawa kecil melengkapi kemenangannya!&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika menginjak sekolah dasar, mari kita lihat lagi anak ini belajar naik sepeda gayung. Mula-mula ia belajar menuntun sepedanya di gang kecil di depan rumah. Setelah itu, dia mencoba menaiki sepeda itu dan menggayungnya, dan belum berhasil. Dia jatuh berkali-kali. Beberapa kali lutut dan sikunya lecet lantaran berbenturan dengan permukaan beton di gang tempatnya berlatih. Latihan itu dilakukannya berulang-ulang tanpa putuas asa. Dan, apa hasilnya? Akhirnya ia berteriak gembira:  “Aku bisa.  Pa, Ma,  aku bisa naik sepeda!” &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Setelah si anak beranjak remaja, mari kita lihat bagaimana ia yang  belajar berenang. Ia tidak belajar berenang dari buku-buku tentang teknik berenang. Dia langsung saja  terjun ke air kolam yang cukup dangkal. Lalu, ia pun  mencoba menggerak-gerakkan tangan dan kakinya. Berkali-kali dicoba, tapi belum berhasil. Tanpa pernah bosan, ia berlatih terus-menerus. Dan, akhirnya, suatu hari kemudian, remaja kita  ini bisa berenang!  “Horee, saya berhasil,” teriaknya yang didengar teman-teman seusianya. Ia tersenyum, manis sekali.&lt;br /&gt;Apa kaitan cerita itu dengan aktivitas menulis?  Jika ingin menjadi penulis, maka kita pantas belajar dari anak tersebut. Bagaimana ia belajar berjalan ketika masih balita, lalu belajar bersepeda ketika kanak-kanak, dan belajar berenang tatkala remaja. Hikmah yang dapat kita petik: perlunya latihan dan latihan. Kalau orang ingin menjadi penulis andal, tentu diperlukan kesediaan berlatih menulis secara terus-menerus. Tak bisa lain. Membaca buku-buku teknik menulis, walaupun perlu, tapi bakal tak banyak gunanya kalau kita tak kunjung menggoreskan tinta pena di atas kertas atau  kalau kita tak mau membuat jemari kita ‘menari’ di atas tuts komputer.  &lt;br /&gt;Menulis adalah pekerjaan melakukan, pekerjaan ‘action’.   Jadi, tulis saja yang ingin ditulis. Apa itu dimaksudkan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di selembar kertas kecil, mengisi buku harian, mengisi blog, atau membuat artikel. Cita-cita menjadi penulis tak akan pernah tercapai kalau kita tak pernah menghasilkan tulisan. Mimpi menjadi penulis saja tak cukup. Yang lebih penting: berani mewujudkan mimpi tersebut menjadi kenyataan. Untuk ini, tiada pilihan lain selain menulis dan menulis tanpa pernah berhenti.  Kalau hasilnya belum sempurna, tak mengapa. Masih ada waktu untuk memperbaiki. Teruslah menulis dan menulislah terus. &lt;br /&gt;Bagaimana pendapat Anda?  Salam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; economist-suweca.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-478406387910848458?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/478406387910848458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/kalau-ingin-jadi-penulis-menulislah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/478406387910848458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/478406387910848458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/kalau-ingin-jadi-penulis-menulislah.html' title='Kalau Ingin Jadi Penulis, Menulislah!'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7902473263662774704</id><published>2010-12-17T02:01:00.001-08:00</published><updated>2010-12-17T02:03:31.458-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Tips Sukses Merebut Kursi PNS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://pekikdaerah.files.wordpress.com/2010/10/pns11.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://pekikdaerah.files.wordpress.com/2010/10/pns11.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Setiap kali ada penerimaan PNS baru di berbagai kantor pemerintah, orang berduyun-duyun melamar. Mereka berharap dapat diterima menjadi PNS kendati  mereka tahu persis peluang untuk berhasil relatif kecil. Kecilnya tingkat keberhasilan itu disebabkan oleh jumlah pelamar yang membludak sementara kuota kursi yang diperebutkan  sangat kecil/terbatas. Akhirnya, para peminat pun harus bersaing ketat untuk mendapatkan kursi. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kursi PNS itu demikian menarik? Sebagian mengatakan bahwa menjadi PNS itu bergengsi, memiliki masa depan yang pasti. Kendati gajinya tak terlalu besar (juga tak terlalu kecil), tapi dapat diandalkan untuk menopang hidup sehari-hari. Lebih-lebih, ada ada gaji/uang pensiunan setiap bulannya yang bakal diterima kalau PNS yang bersangkutan sudah pensiun. Bekerja sebagai PNS dipandang tidak terlalu berat. Berbeda dengan di perusahaan swasta yang mengharuskan seseorang bekerja keras untuk mendapatkan keuntungan demi keajegan perusahaan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lain melihat bekerja sebagai PNS di pemerintahan adalah kesempatan untuk mengabdi kepada pemerintah dan  masyarakat sekaligus melakukan upaya perbaikan dari dalam tubuh birokrasi demi pelayanan yang lebih baik. Apapun motivasi orang menjadi PNS, yang jelas kursi di birokrasi pemerintahan itu senantiasa jadi incaran. &lt;br /&gt;Berikut ini ada diberikan empat tips untuk sedikit membantu melapangkan jalan menuju keberhasilan dalam persaingan merebut kursi PNS. &lt;br /&gt;Pertama, pelajari jenis-jenis soal yang diperkirakan bakal keluar. Ada banyak buku yang dijual di pasaran untuk membantu mempersiapkan pengetahuan menyongsong pelaksanaan tes. Jenis-jenis tes biasanya meliputi Tes Kemampuan Umum (TKU), Psikotes, Tes Bakat Skolastik (TBS), Tes Potensi Akademik (TPA), dan Tes Bahasa Inggris (TOEFL). Juga, ada Tes Skala Kematangan, dan Tes Teknologi Informasi.  Setiap instansi pemerintah menetapkan jenis tes yang tak selalu sama. &lt;br /&gt;Kedua, persiapkan diri dengan sebaik-baiknya, baik secara mental maupun fisik. Artinya, menjelang tes berlangsung orang harus yakin bahwa kondisi tubuhnya sedang fit, mentalnya  tidak sedang tertekan. Makanlah secukupnya menjelas tes. Nah, menjelang tes berlangsung, jika ingin buang air, lakukan sebelum tes karena ketika tes tengah dilaksanakan pihak Panitia kemungkinan tak mengijinkan peserta keluar ruangan. &lt;br /&gt;Ketiga, berdoalah sebelum tes dimulai. Tarik nafas dalam-dalam sebanyak 3 kali, berdoa sesuai dengan agama dan kepercayaan, dan mulailah menjawab soal-soal tes dengan tenang. Ketegangan hanya akan membuat pikiran susah berkonsentrasi. &lt;br /&gt;Keempat, jangan pernah berputus asa. Kalau kali ini tidak berhasil lolos dalam tes, cobalah lagi tahun depan. Coba pula di tempat atau lembaga lain yang sedang mencari pegawai baru. Sementara itu, jangan pernah berhenti belajar. Ikuti perkembangan seputar isu-isu terkini. Hal ini perlu untuk menopang pengetahuan umum yang merupakan salah satu bagian materi tes. &lt;br /&gt;(Kalau sudah mengikuti tes berkali-kali, sampai 6 atau 10 kali misalnya,  hingga merasa bosan dan terkena batasan usia tapi tidak juga berhasil, maka janganlah hal ini dipandang sebagai akhir kehidupan. Juga, bukan akhir dari segalanya. Masih ada pintu peluang di luar PNS yang menunggu dibuka. Menjadi PNS bukan satu-satunya pilihan karier, bukan?)&lt;br /&gt;Semoga tips ini bermanfaat.  Selamat mengikuti tes, semoga berhasil.  &lt;br /&gt;economist-suweca.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7902473263662774704?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7902473263662774704/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/tips-sukses-merebut-kursi-pns.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7902473263662774704'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7902473263662774704'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/12/tips-sukses-merebut-kursi-pns.html' title='Tips Sukses Merebut Kursi PNS'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5937785073458804517</id><published>2010-11-29T03:18:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T03:18:59.526-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Pencinta Buku, Istri, dan Duit</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://bisnisukm.com/wp-content/uploads/2010/10/peluang-bisnis-toko-buku.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://bisnisukm.com/wp-content/uploads/2010/10/peluang-bisnis-toko-buku.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang pria pencinta buku masuk ke sebuah toko. Bukan toko kelontong, tentu,  melainkan toko buku. Bukan toko buku tulis dan perlengkapan kantor, tentu, melainkan toko yang menjual barang cetakan yang mengandung ilmu pengetahuan. Pencinta buku yang satu ini selalu menyempatkan diri ke toko buku. Paling tidak dua minggu sekali. Tak peduli, apakah ia sedang punya uang untuk membeli buku atau tidak. Yang penting baginya adalah dapat bertandang ke toko buku. Dia akan bergerak perlahan-lahan dari satu sisi ke sisi lain  toko. Matanya terfokus ke berbagai bacaan dengan berbagai macam judul dan jenis yang dipajang di sederetan meja dan rak. Diamatinya judul buku-buku tersebut satu demi satu.  Terkadang dia berhenti cukup lama di suatu tempat. Tangannya mengambil dan membolak-balik sebuah buku. Diperhatikannya judul buku itu, lalu dilihatnya juga bagian  cover belakang. Dibacanya sepintas topik utama buku tersebut di cover belakang. Hatinya bergumam, “Mengapa semua buku dibalut plastik ya. Seharusnya disediakan satu buku yang tak dibungkus sehingga bisa dilihat secara penuh oleh pembeli. Bagaimana para calon pembeli mengetahui isi sebuah buku kalau mereka tak diijinkan melihat dalamnya?”. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia bisa bertahan di toko hingga dua jam kendati tak membeli satu pun dari ribuan buku itu. Hanya kaki yang terasa pegal yang mampu mengingatkannya untuk kembali pulang. Baginya, kalau sudah dapat menikmati indahnya hamparan buku, pria ini sudah merasa senang. &lt;span class="fullpost"&gt;Kalau lagi sedang ada duit, ia akan membeli beberapa buku untuk dilahap di sela-sela kesibukannya sehari-hari. Tapi, kalau ia memaksakan diri juga ke toko buku sementara itu ia tengah bokek, ya paling-paling di situ ia dapat melihat-lihat saja, terutama buku-buku terbitan terbaru. Tapi, yang acapkali terjadi, sesuatu bakal mengganggunya setelah itu. Apa? Dia akan selalu teringat pada satu-dua buku yang menarik minatnya. Keinginan untuk mendapatkan buku-buku tersebut tak pernah lenyap sampai ia benar-benar membelinya di kemudian hari.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebetulan si pencinta buku, di samping doyan membaca, juga pintar menulis alias mengarang. Kebiasaan membaca sudah tumbuh sejak kecil. Lama-lama jadi keterusan, sulit dihentikan. Dari kebiasaan membaca tumbuh kegairahan menulis. Maka, akhirnya ia senang sekali menulis untuk media massa cetak, seperti koran dan majalahBelakangan ia tertar ik menulis buku. Dengan predikat sebagai penulis, tentu dia tak bisa menjaring pengetahuan dari angin. Ia mesti  banyak membaca. Maka, jadilah membaca sebagai gaya hidupnya. Tanpa membaca baginya terasa  ada yang belum lengkap, ada yang kurang. Menu hariannya, di samping makan-minum, juga buku.  Alhasil, dalam sebulan selalu saja ia merasa perlu menyisihkan duitnya untuk membeli beberapa buku. Barang cetakan ini penting sekali baginya, sepenting makan dan minum.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernah suatu hari ia mengajak istrinya ikut ke toko buku. Belum ada tiga puluh menit sang istri berbisik, ”Ayo Pa sudah disininya. Yuk ke toko baju. Lihat-lihat baju.” Dengan sedikit kesal, si suami yang doyan buku ini mengantarkan istrinya ke tempat yang diinginkan untuk menawar-nawar baju walaupun tak membeli satu pun. “Dasar perempuan,” hardiknya dalam hati. Pada kali lain, sang istri kembali diajak singgah ke toko buku setelah menyelesaikan sebuah urusan. Si istri  manut saja dengan cacatan jangan berlama-lama di situ. Lagi-lagi sang istri menegur,”Pa, beli buku yang perlu untuk kuliah saja. Jangan buku-buku lain yang nggak perlu.” Bersyukur  si lelaki bisa menahan diri sehingga tak memilih ‘perang’ dengan istrinya hanya gara-gara membeli buku ‘yang tak perlu’.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai penulis, si pencinta buku tak kunjung menghentikan kebiasaannya membeli buku. Salah satu kamar di rumahnya menjadi gudang buku. Memang lebih cocok disebut gudang daripada perpustakaan lantaran sebagian bukunya tak keruan tempatnya. Dua rak besar sudah penuh bahkan meluber. Sebagian dibiarkan berserakan di meja dan tergeletak di lantai. Sesuatu yang tak perlu dicontoh apalagi oleh mereka yang mengutamakan kerapihan. Istrinya tak berani lagi memindahkan atau merapikan posisi buku itu, takut ditegur seperti sebelumnya. Pengalaman mengajarkannya untuk tak mengganggu ‘wilayah privat’ suaminya. Si istri pernah ditegur gara-gara merapikan buku-buku tersebut yang berakibat pada sulitnya bagi si pencinta buku ketika hendak menemukan kembali sebuah buku untuk referensi bagi naskah yang sedang disusunnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kisah di atas sudah menjadi bagian dari masa lalu. Kini sang istri tak pernah lagi mengingatkan kalau sang suami membeli cukup banyak buku, juga tak mau ikut ke toko buku karena emoh berdiri lama-lama di situ. Ketika suaminya membawa pulang sejumlah besar buku, sang istri hanya manggut-manggut, kadang-kadang pura-pura tak tahu. Mungkin ia sadar kalau suaminya membutuhkan buku untuk menulis. Barangkali juga ia mulai mafhum bahwa tulisan-tulisan suaminya itu mendatangkan duit. Dari menulis, mereka sekeluarga membiayai hidup. Rumah sederhana yang ditempatinya kini sebagian dari royalty buku-buku hasil karyanya dan honor ratusan artikel di sejumlah koran dan majalah, di samping dari gajinya sebagai pekerja kantoran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5937785073458804517?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5937785073458804517/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/pencinta-buku-istri-dan-duit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5937785073458804517'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5937785073458804517'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/pencinta-buku-istri-dan-duit.html' title='Pencinta Buku, Istri, dan Duit'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7105654426764580474</id><published>2010-11-29T03:11:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T03:11:53.206-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buku'/><title type='text'>Meraup Uang dari Menulis Artikel</title><content type='html'>&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Calibri&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;; font-size: 12.0pt; line-height: 115%; mso-ansi-language: EN-US; mso-ascii-theme-font: minor-latin; mso-bidi-font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; mso-bidi-language: AR-SA; mso-bidi-theme-font: minor-bidi; mso-fareast-font-family: Calibri; mso-fareast-language: EN-US; mso-fareast-theme-font: minor-latin; mso-hansi-theme-font: minor-latin;"&gt;I Ketut Suweca&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku : Menguangkan Ide: Kaya dengan Menulis Artikel&lt;br /&gt;Penulis &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : Sudaryanto&lt;br /&gt;Penerbit &amp;nbsp; &amp;nbsp; : Leutika, Yogyakarta&lt;br /&gt;Cetakan &amp;nbsp; &amp;nbsp; : Pertama, Maret, 2010. &lt;br /&gt;Tebal &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; : xiii + 154 hal.&lt;br /&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 24px; line-height: 27px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="text-align: auto;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: x-large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 24px; line-height: 27px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small; font-weight: normal; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/TPOKTJFA0fI/AAAAAAAAACk/YmdYFmucRHk/s1600/1.bmp" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/TPOKTJFA0fI/AAAAAAAAACk/YmdYFmucRHk/s320/1.bmp" width="253" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12.0pt;"&gt;&lt;/span&gt;Belakangan ini kegairahan para calon penulis dan penulis pemula untuk menekuni bidang tulis-menulis kian besar saja. Itulah sebabnya  mengapa buku-buku yang bertema teori menulis/mengarang semakin laris di pasaran. Daya tarik itu muncul disebabkan oleh sejumlah faktor, diantaranya, lantaran dengan menulis di media massa seseorang dapat memperoleh kepuasan rohani, popularitas, dan  imbalan uang. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudaryanto, melalui buku ini bertutur banyak seputar dunia tulis-menulis. Ia yakinkan pembaca, bahwa semua orang bisa menjadi penulis asalkan memiliki kemauan dan keuletan merealisasikan niatnya. Sudaryanto juga memaparkan tentang pengertian artikel, karakteristik, syarat-syarat untuk menjadi penulis artikel, dan cara pintar menulis artikel. Dijelaskan pula tentang peluang dan hambatan menulis artikel guna memberikan pemahaman kepada mereka yang tertarik menekuni dunia penulisan untuk membuat artikel yang berbobot dan layak muat di media massa. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ditegaskannya, pekerjaan menulis itu tak hanya untuk mereka yang berbakat menulis. &lt;span class="fullpost"&gt;Setiap orang berpotensi menjadi penulis asalkan dia memiliki niat dan kemauan keras dan bersedia pula bertekun menulis setiap harinya. Bakat hanya berperan 10 persen dalam menentukan kesuksesan, sisanya, 90 persen adalah kerja keras. Oleh karena itu, jangan terlalu mempedulikan bakat. Karena, latihan menulis yang berkesinambunganlah yang akan mengantarkan seseorang menjadi penulis handal. Tanpa berlatih menulis secara kontinyu mustahil seseorang menjadi penulis kendati pun dia adalah keturunan penulis terkenal.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudaryanto menyebut artikel sebagai jenis karya tulis yang dipublikasikan di surat kabar atau majalah (baca: media massa). Artikel, sebagaimana dikatakan penulis buku ini, dapat digunakan untuk meyakinkan, mendidik, atau menghibur publik. Tidak salah jika ada orang yang menganggap artikel sama dengan opini di surat kabar. Alasannya, kedua-duanya bersifat aktual, karena isunya diangkat dari persoalan dalam masyarakat/publik. Dengan mengutip Sumadaria (2004), dikatakan bahwa ada lima syarat untuk dapat menjadi penulis artikel. Ke lima syarat itu, yakni (a) kemampual teknikal, (b) mental, (c) reading habit, (d) intelektual, dan (e) sosiokultural. Kemampuan teknikal dimaksudkan adalah kemampuan menggunakan alat teknologi, seperti komputer, laptop, notebook, atau e-mail (surat elektronik). Kemampuan ini menjadi penting, karena belakangan ini semua media massa mensyaratkan pengiriman artikel melalui e-mail. Kemampuan mental merujuk  pada tekad, semangat, dan kemauan keras untuk terus belajar disertai sikap pantang menyerah (hal. 36).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebiasaan membaca (reading habit) adalah persyaratan mutlak bagi seorang penulis. Tanpa kebiasaan membaca, niscaya seorang penulis akan mentok karier penulisannya. Membaca harus sudah menjadi menu harian seperti halnya makan dan minum. Oleh karena itu, calon penulis atau penulis pemula mesti rajin meluangkan waktu untuk membaca beragam referensi:  koran, majalah, buku dan jurnal, dan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam masyarakat. Dengan kata lain, ia harus senantiasa mengisi amunisi pengetahuannya sebelum membidik para calon pembaca melalui artikel-artikelnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemampuan intelektual dimaksudkan sebagai kemampuan menyajikan tulisan yang tersusun secara logis, sistematis, dan analitis. Disertakan pula referensi yang sifatnya aktual dan relevan. Karena, pada hakekatnya, menulis merupakan kegaiatan kreatif berbasiskan intelektualitas. Selanjutnya, kemampuan sosiokultural dimaknai sebagai kemampuan penulis untuk beradaptasi dengan lingkungan sosial. Dari lingkungan sosial itu, melalui diskusi-diskusi formal dan informal, seorang penulis akan memperoleh ide-ide cemerlang sebagai bahan tulisan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbicara tentang syarat-syarat pengiriman  artikel, penulis buku ini menyebutkan 8 syarat. Dari ke delapan syarat itu, dua diantaranya sangat penting. Pertama, topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang sifatnya aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam masyarakat. Kedua, artikel yang ditulis haruslah mengandung hal-hal baru yang belum pernah dikemukakan penulis lain (hal. 45). Dianjurkan pula agar sebelum mengirimkan tulisan ke media massa, penulis melakukan pengeditan (editing) terhadap naskahnya. Redaksi media tak akan bersedia memuat  artikel ‘asal jadi’. Bisa jadi, sebelum dibaca seluruhnya, tulisan itu akan dibuang ke bak sampah alias ditolak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di samping membeberkan tentang cara menulis artikel yang sifatnya teknis,  Sudaryanto mengetengahkan mengenai peluang dan hambatan menulis artikel. Yang dimaksudkan sebagai peluang adalah peluang menulis di surat kabar dan majalah. Kalau seorang penulis handal pintar menangkap peluang itu, bukan mustahil ia akan menembus income Rp.2,5 juta per bulan, bahkan lebih. Itu kalau ia berhasil menembus koran nasional dengan 5 tulisan saja setiap bulannya (rata-rata per artikel dibayar Rp.500 ribu).  Cukup menarik, bukan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendati peluang demikian terbuka untuk menulis di media massa, toh masih banyak penulis yang mengalami hambatan dalam karier penulisannya. Sebutlah misalnya, ia malas membaca, malas pula belajar menulis, serta tidak peka terhadap isu-isu terkini. Di samping itu, ketatnya persaingan menembus media massa dan ketidakmampuan melihat karakter, visi, dan misi media, juga bisa menjadi hambatan. Hanya penulis yang punya niat kuat dan bersedia bertekun di bidang tulis-menulis tanpa pernah putus asa yang akan berhasil menjadi penulis sukses.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Buku bercover dasar kuning dengan gambar lembaran-lembaran uang seratus ribuan rupiah dan setumpuk koran ini memang layak dibaca, terutama oleh mereka yang bercita-cita menjadi penulis atau penulis pemula. Bahasanya sederhana dan mengalir sehingga mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai latar belakang pendidikan. Yang membuat buku ini berbeda diantara buku-buku sejenis adalah daya gugahnya yang besar. Setelah seseorang membacanya, besar kemungkinan dia akan semakin bergairah menjadi penulis. Belum lagi bonus yang dilampirkan pada bagian akhir buku ini yang berisi daftar alamat surat kabar dan majalah, contoh penulisan surat pengantar artikel, dan hari-hari penting internasional dan nasional. (*)&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7105654426764580474?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7105654426764580474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/meraup-uang-dari-menulis-artikel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7105654426764580474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7105654426764580474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/meraup-uang-dari-menulis-artikel.html' title='Meraup Uang dari Menulis Artikel'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/TPOKTJFA0fI/AAAAAAAAACk/YmdYFmucRHk/s72-c/1.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8378793112736753555</id><published>2010-11-29T03:00:00.000-08:00</published><updated>2010-11-29T03:00:29.366-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Bali Green Province dan Bank Sampah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;“Hanya orang sembarangan yang &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;membuang sampah sembarangan” &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;(Tulisan pada sebuah papan di pinggir jalan)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://farm4.static.flickr.com/3245/2376580579_564131134c.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="215" src="http://farm4.static.flickr.com/3245/2376580579_564131134c.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bali Green Province dideklarasikan Gubernur Bali 22 Februari 2010 bertepatan dengan Pembukaan Konferensi UNEP ke-11 di Nusa Dua Bali. Bali Green Province adalah komitmen Pemerintah Provinsi Bali bersama Pemerintah kabupaten/Kota, swasta, LSM dan seluruh komponen masyarakat Bali mewujudkan Bali yang bersih, sehat, indah, hijau, dan lestari bagi generasi kini dan yang akan datang. Visi yang diusung adalah terciptanya Bali Bersih dan Hijau tahun 2013.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sejak saat itu, Pemerintah Provinsi Bali menyusun program aksi yang pada intinya meliputi tiga pilar utama. Pertama, green economic, artinya bagaimana menjadikan kegiatan ekonomi yang bertujuan mensejahterakan rakyat Bali dapat dilangsungkan tanpa merusak alam (berwawasan lingkungan). Kegiatan ekonomi di Bali dapat mendukung keajegan alam Bali. &lt;span class="fullpost"&gt;Kedua, green culture yang secara konseptual sesungguhnya sudah ada dalam kearifan lokal masyarakat Bali, seperti Tri Hita Karana. Kearifan lokal itu harus dilestarikan dan bahkan jika memungkinkan selalu mengusahakan untuk menumbuhkan budaya hijau. Ketiga, clean and green, yang lebih menekankan pada terwujudnya lingkungan daerah Bali yang bersih dan  terbebas dari pencemaran dan kerusakan sumberdaya alam.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu saja upaya ini perlu didukung secara maksimal oleh seluruh komponen masyarakat untuk menjadikannya kenyataan. Kendati, sesungguhnya Bali sudah lama memiliki kearifan lokal (local genius) untuk menjaga dan memelihara alam lingkungannya. Para tetua di Bali sudah mewariskan kepada generasi masa kini konsep-konsep hidup yang selaras dengan alam. Inilah yang perlu dilaksanakan dan dikembangkan.  Kalau kini muncul Bali Green Province, tentu dimaksudkan agar kita, masyarakat Bali, lebih peduli lagi dengan kebersihan dan memelihara lingkungan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berkaitan dengan hal ini, sangatlah elok apabila  Pemerintah Provinsi Bali  dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Bali lebih greget lagi merangsang masyarakat agar peduli terhadap sampah dan mendorong pola hidup bersih dan sehat. Misalnya dengan memberikan insentif kepada kelompok-kelompok masyarakat yang peduli dan berhasil menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan alam di lingkungannya. Hal ini menjadi penting dalam rangka menggugah masyarakat untuk secara lebih aktif merawat alam dan menjaga kebersihan lingkungan. Insentif dimaksud hanya sebagai pemantik yang diperlukan pada awalnya saja sampai tiba saatnya masyarakat benar-benar mampu secara mandiri menciptakan kehidupan yang  bersih, sehat,  dan hijau.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bank Sampah&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkait dengan topik ini, ada hal yang menarik dari sosialisasi mengenai Bali Green Province yang diselenggarakan Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Buleleng belum lama ini di Singaraja. Pembicara, Ir. Komang Ardana, M.Si.,  Kabid Pengawasan Badan Lingkungan Hidup Provinsi Bali dalam acara tersebut menceritakan keberadaan sebuah bank yang secara khusus berkaitan dengan sampah, sehingga disebut dengan Bank Sampah. Ardana menyebutkan  Bank Sampah “Karya Peduli” yang berkedudukan di Jl. Beting Indah I No.02  RT 005/09, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara,  sebagai contoh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dijelaskan, Bank Sampah “Karya Peduli” beroperasi dengan cara demikian: Pertama, petugas bank sampah berkeliling ke rumah warga untuk mengambil tabungan berupa sampah. Jadwal pengambilan sampah oleh teller keliling dilakukan tiga kali dalam seminggu.  Selanjutnya, kedua,  sampah warga ditimbang dan diberi nilai rupiah sesuai daftar harga dan jenis sampah yang ditabung oleh warga. Ketiga, menghitung hasil timbangan dan nilai rupiah sampah dan mencatatnya ke buku rekening nasabah dan buku catatan teller keliling. Buku rekening tabungan untuk nasabah bank sampah, sedangkan buku catatan untuk laporan oleh teller keliling. Keempat, petugas kembali ke kantor bank sampah untuk melaporkan hasil pengambilan sampah warga. Teller akan mendapatkan upah berdasarkan persentase dari berat sampah yang diambil dari warga. Di bank dilakukan proses menginput data catatan teller keliling ke dalam komputer.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Langkah kelima, dilakukan pemilahan sampah sesuai dengan jenisnya: sampah organik langsung diolah supaya tidak menimbulkan bau dan penyakit. Pupuk kompos hasil olahan sampah organik dijual kepada warga dengan harga yang terjangkau. Sedangkan, sampah nonorganik dipilah-pilah sesuai dengan jenisnya. Ketujuh, setelah sampah nonorganik itu dipilah dan ditempatkan sesuai jenisnya kemudian diolah menjadi barang kreasi kerajinan tangan dan sisanya dicacah dan dijual ke pabrik peleburan plastik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah koran nasional belum lama ini memuat tulisan tentang bank yang serupa. Namanya Bank Sampah “Gemah Ripah” berlokasi di Dusun Bandegan, Bantul, Yogyakarta.  Cara kerjanya hampir sama dengan  Bank Sampah “Karya Peduli”. Kesuksesan bank sampah yang memegang motto “menabung sampah, hidup lebih bersih dan hari esok lebih baik” ini menginspirasi daerah lain. Kini, bank sampah telah diterapkan di 20 desa di Bantul, melibatkan sekitar 1.000 keluarga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kiranya model bank semacam ini ada baiknya dirintis di Bali. Kalau bank semacam ini terdapat minimal satu buah di setiap kabupaten/kota di Bali, niscaya Pulau Dewata berangsur-angsur bersih dan indah, jauh dari kekumuhan yang kini sudah mulai tampak di beberapa sudut kota. Ada nilai ekonomis yang diperoleh dari model bank sampah ini, di samping mampu menampung tenaga kerja. Kebiasaan membuang sampah sembarangan (throwaway lifestyle) sebagaimana digelitik pada awal tulisan ini pun, dapat dikurangi. Siapa yang tertarik?&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-8378793112736753555?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/8378793112736753555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/bali-green-province-dan-bank-sampah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8378793112736753555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8378793112736753555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/bali-green-province-dan-bank-sampah.html' title='Bali Green Province dan Bank Sampah'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://farm4.static.flickr.com/3245/2376580579_564131134c_t.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-564031173964220448</id><published>2010-11-13T01:50:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T01:50:25.884-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Menumbuhkan  Kegemaran Membaca pada Anak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://kidstopia.files.wordpress.com/2009/11/membaca-buku.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://kidstopia.files.wordpress.com/2009/11/membaca-buku.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Banyak orang tua mengaku kesulitan menyuruh putra-putrinya untuk rajin membaca. “Setiap kali membaca, si anak mengaku  mengantuk. Yang mengherankan,  kalau menonton televisi, ngantuknya hilang. Memang ia lebih suka nonton TV daripada membuka-buka bukunya. Kalau sedikit dipaksa, ia akan pura-pura saja membaca,”  demikian antara lain keluhan para orang tua. Berikut ini penulis menawarkan beberapa saran yang bisa dilakukan para orang tua untuk mendorong putra-putri mereka gemar membaca.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, ciptakan suasana belajar di rumah. Buatlah agar anak merasa betah di rumah atau di kamar belajarnya. Suasana rumah akan sangat menentukan mood si kecil untuk membaca. Sediakan  sebuah meja belajar untuknya. Kalau mungkin, lengkapi dengan sebuah rak buku sederhana di samping meja belajarnya. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah  sirkulasi udara dan pencahayaan sinar lampu dan cahaya matahari tak langsung di dalam kamar/ruangan. Upayakan menyediakan  fasilitas belajar yang memadai  yang memungkinkan si anak akan terdorong dan betah duduk dan membaca. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kedua, berikan hadiah atau oleh-oleh berupa buku atau majalah. Ketika si kecil mendapat suatu prestasi di sekolahnya, sekecil apapun prestasi itu, berikan hadiah bacaan, baik berupa buku maupun majalah anak-anak.  Ketika ia berulang tahun pun, elok sekali kalau dihadiahi bahan bacaan. Tentu saja dipilihkan bacaan yang sesuai dengan usia dan kesukaannya. Mungkin ia suka buku cerita, barangkali pula ia senang dengan majalah anak-anak.  Bila dana memungkinkan, ada baiknya berlangganan sehingga si kecil secara kontinyu dapat membacanya. Tatkala orang tua datang dari bepergian jauh, akan bagus sekali  kalau dibawakan buku dan majalah untuk si kecil sebagai oleh-oleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, berkunjung ke toko buku atau ke perpustakaan.  Mengajak anak berkunjung ke pusat-pusat buku seperti toko buku dan perpustakaan akan membawa anak tidak asing lagi dengan berbagai buku, sekaligus agar ia kenal bahwa buku itu beragam jenisnya dan banyak sekali judulnya. Agar si kecil juga tahu bahwa ada bacaan yang cocok untuk anak-anak,  remaja dan orang dewasa. Kalau mengajaknya toko buku, selagi ada dana yang cukup, bagus sekali untuk membelikannya satu atau dua buku atau majalah. Demikian pula, saat berkunjung ke perpustakaan, jika ada satu-dua buku yang disukainya, ada baiknya dipinjamkan untuk dibaca di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, ajak ia belajar merawat buku.  Caranya, antara lain dengan melibatkan anak pada saat menyampuli buku. Beritahu pula dia bagaimana cara membuka-buka lembar demi lembar halaman buku agar  tidak cepat kucek dan rusak.  Latih dia untuk menata buku di atas meja atau di rak dengan rapi. Sesekali berikan pujian kalau  caranya sudah benar. Beri petunjuk kalau masih ada yang salah. Buatlah agar si kecil mencintai buku dengan membaca dan merawatnya dengan baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, sesekali mintalah anak menceritakan isi buku. Dorong si kecil untuk mau menceritakan isi buku atau bacaan. Ajak dia berbincang-bincang tentang isi buku itu. Kalau perlu minta pendapatnya tentang tokoh-tokoh dalam buku cerita itu dengan bertanya mana tokoh yang baik, mana pula tokoh yang jahat. Dengan begini, isi buku itu akan lebih melekat di benak si kecil. Kalau ia dapat memaparkan kembali isi cerita itu dengan cukup baik, beri dia imbalan berupa bacaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, latihan mengarang yang sederhana. Beberapa majalah anak-anak yang memberikan kesempatan kepada si kecil untuk ikut menulis pada majalah itu. Ajaklah ia untuk mencoba menuliskan gagasannya. Mungkin dengan  menulis hal-hal yang paling sederhana. Misalnya, pengalaman yang unik dan tak terlupakan yang pernah dialaminya. Atau, menuliskan pendapatnya tentang sesuatu hal. Bantulah untuk mengoreksi hasil karyanya.  Beritahu pula langkah-langkah  mengirimkan  tulisan ke majalah itu. Bantu dia mengirim naskahnya melalui e-mail atau ajak ia ikut ke kantor pos untuk mengirimkan hasil karyanya itu ke Redaksi majalah tersebut. Kalau ada kesempatan mengikuti lomba mengarang yang sesuai dengan usianya, libatkan dia sebagai peserta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam,  menjadi teladan yang baik. Kata pepatah, perbuatan terdengar lebih nyaring daripada kata-kata.  Kalau ingin mendorong sang anak agar rajin membaca, maka orang tua harus menjadi teladan. Caranya, antara lain  dengan  menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan nyaman. Televisi atau radio dan sejenisnya yang dinyalakan  pada saat anak sedang membaca atau belajar hanya akan mengganggu konsentrasinya. Oleh karena itu, sebaiknya dimatikan. Dampingi si kecil pada saat ia membaca. Baik juga kalau orang tua pun ikut membaca seraya duduk tak jauh dari si anak. Ini bagus sebagai bentuk teladan yang baik.  &lt;br /&gt;Menumbuhkan kegemaran membaca pada anak tidak bisa hanya dengan perintah atau dengan menyuruh-nyuruh. Mereka harus dimotivasi, difasilitasi, dan diberi contoh real sebagai bentuk keteladanan. Semoga dengan begitu, kegemaran membaca dapat ditumbuhkan, keluhan orang tua bahwa anaknya malas membaca pun, dapat diatasi.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-564031173964220448?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/564031173964220448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/menumbuhkan-kegemaran-membaca-pada-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/564031173964220448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/564031173964220448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/menumbuhkan-kegemaran-membaca-pada-anak.html' title='Menumbuhkan  Kegemaran Membaca pada Anak'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8373500679810768879</id><published>2010-11-13T01:47:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T01:47:12.017-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menjadikan Blog sebagai Wahana Berlatih Menulis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://wordpress.hayscisd.net/it/files/2009/08/blog_use-this-onejpg.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://wordpress.hayscisd.net/it/files/2009/08/blog_use-this-onejpg.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Blog merupakan jenis website atau situs yang banyak dikenal belakangan ini. Blog banyak diminati masyarakat sebagai tempatmenyalurkan pemikiran, karena dapat diperoleh secara gratis. Beberapa situs menyediakan layanan blog gratis ini, diantaranya&amp;nbsp; Blogger dan Wordpress. Kalau mau berlatih menulis lewat blog, maka pertama-tama kita harus memiliki sebuah blog dulu di internet.Caranya cukup sederhana. Kalau tidak mengetahui cara membuat blog, hanya diperlukan seorang teman yang tahu hal ini untuk diminta bantuan membuatkan. Atau, boleh dicari melalui search engine Google dengan mengetik, misalnya: cara membuat blog. Ikuti prosesnya sesuai petunjuk yang dicantumkan di dalam situs yang memuat tata cara membuat blog itu. Kita juga bisa mendapatkan cara membuat blog dari buku-buku panduan yang dijual di toko-toko buku. Nah, kalau sudah mempunyai blog, maka tinggal kita memposting artikel ke dalamnya secara berkala.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Mulai Berlatih Menulis&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah mempunyai blog, lalu apa yang kemudian dilakukan? Tiada lain selain mengisinya dengan tulisan/artikel. Untuk menjadi mahir dalam dunia tulis-menulis, maka berlatih menulis itu sangat penting. Sama dengan orang yang ingin pintar berenang, ia mesti berlatih berenang dengan terjun langsung ke air. Tidak bisa hanya dengan membaca buku bagaimana berenang dengan baik saja seseorang akan langsung bisa mahir berenang. Proses pembelajaran harus dilalui untuk menjadi mahir berenang. Demikian pula dalam hal menulis. Seorang calon penulis atau penulis pemula membutuhkan latihan yang terus-menerus untuk mendapatkan ketrampilan atau keahlian menulis. Ala bisa karena biasa, bukan?&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Banyak orang menganjurkan untuk menggunakan buku harian sebagai sarana awal berlatih menulis. Tidaklah salah kalau orang memilih buku harian dalam menuliskan unek-uneknya. Menulis di buku harian, acapkali menyangkut hal-hal  yang pribadi  yang tidak perlu diketahui publik. Kerahasiaan dan aspek privasinya lebih terjaga. Tulisan di dalam buku harian menjadi semata-mata sebagai dokumen pribadi. Sama sekali tidak untuk dipublikasikan. Berbeda dengan buku harian, blog memiliki banyak kelebihan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manfaat Berlatih Menulis di Blog&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengan blog, tulisan pasti dimuat. Tidak ada pihak lain yang menentukan sebuah naskah layak dimuat di blog atau tidak. Semuanya ditentukan oleh pemilik blog yang juga sebagai penulis naskah yang hendak di-posting. Kalau di koran/majalah ada Redaksi yang bakal menyeleksi naskah kita, apakah dipandang layak muat ataukah tidak. Sebaik atau sejelek apapun naskah tersebut, tetap ia dapat dipostingke dalam blog sendiri sebagai konten.&lt;br /&gt;Melalui blog, penulis blog dapat berbagi. Ilmu kalau tak digunakan bakal hilang dan percuma. Tapi, ilmu kalau diamalkan akan  menjadi sangat berguna. Berguna bagi diri sendiri dan berguna pula bagi orang lain.Oleh karena itu, penting sekali bagi kita untuk berbagi pengetahuan atau ilmu. Bukankah berbagi ilmu merupakan salah satu bentuk amal yang luhur? Melalui blog itulah kita bisa membagikan pemikiran kepada orang lain.&lt;br /&gt;Blog juga dapat dimafaatkan sebagai arena atau wadah menyimpan tulisan (dokumentasi). Blog dapat berfungsi sebagai  documentary bagi seseorang. Naskah yang disimpan di komputer atau di flashdisk, acapkali hilang karena dimakan virus. Nah, kalau kita‘menyimpan’ naskah di blog, di samping dapat dibaca dan dimanfaatkan oleh pembaca lain, juga terdokumentasi dengan aman tanpa takut terkena virus. &lt;br /&gt;Melalui tulisan-tulisan di blog, secara tidak langsung kitamemperkenalkan diri kepada dunia. Kalau pengunjung blog bertambah banyak, maka kita akan semakin dikenal. Kunjungan ke blog banyak tergantung pada isi blog kita. Kalau isi blog itu berkualitas sehingga diperlukan oleh pembaca, maka akan semakin banyak pembaca yang membuka blog kita. Sebaliknya, kalau  kita mengisi blog sekadarnya saja, seperti sekedar copy-paste dari konten blog lain, maka tak pelak lagi,  blog kitatidak akan pernah berkembang dengan baik. Pembaca akan meninggalkan blog semacam itu. &lt;br /&gt;Jangan lupa, blog juga bisa dimanfaatkan untuk mencari duit. Istilah populernya adalah bisnis online. Beberapa tahun terakhir banyak sekali situs atau blog yang dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk monetisasi atau meraup duit. Ada banyak jurus untuk mendapatkan income dari blog tersebut. Ambilah contoh, dengan memasang iklan di blog bekerjasama dengan KumpulBloger atau Adsense. Ada banyak orang menjadi kaya dengan monetisasi blog. Tapi, satu hal yang menjadi kunci keberhasilan sebuah blog adalah postingan-nya harus yang berkualitas dan kontinyu. Tulisan-tulisan yang bagus akan mampu menarik pengunjung. Dari sekian banyak pengunjung itu tentu ada diantaranya yang meng-klik iklan yang kita letakkan di blog. Setiap klik terhadap iklan tersebut, kita akan mendapatkan duit dari pemasang iklan.Istilahnya : pay per click (ppc).&lt;br /&gt;Apa yang kita posting ke blog menunjukkan kesungguhan dan jati diri kita. Dan, blog itu tak sekali atau  dua kali diisi dengan naskah, kemudian selesai. Dituntut kontinyuitas untuk merawat dan menyempurnakannya secara berkesinambungan sehingga semakin lama semakin dikenal sebagai blog yang memiliki kualitas. Penulis (saya) sendiri memiliki sebuah blog sederhana beralamat di http//www.economist-suweca.blogspot.com. Blog itu saya maksudkan sebagai wahana untuk berbagi dengan pengunjung sekaligus sebagai tempat mendokumentasikan sejumlah naskah yang sudah pernah dipublikasikan sebelumnya. Sebagai contoh, naskah yang sudah pernah dimuat di Bali Express saya posting di blog untuk tujuan berbagi dan dokumentasi.  &lt;br /&gt;Berlatihlah menulis dengan sungguh-sungguh. Posting (masukkan) tulisan itu ke blog yang sudah dibangun. Usahakan memasukkan tulisan terbaik yang bisa dibuat. Postinglah naskah-naskah itu secara periodik, misalnya seminggu dua kali, dua hari sekali, bahkan setiap hari. Jadi, di samping untuk berbagai pengetahuan, mengangkat popularitas, arena menyimpan tulisan, mendapatkan duit, maka lambat laun kemampuan menulis kita pun semakin terasah. &lt;br /&gt;Sudah tak terhitung jumlah orang yang memiliki kemampuan menulis dengan mengasahnya melalui media blog. Maka, jangan ditunda lagi, marisering-sering berlatih menulis di blog. Setelah merasa  mantap, lanjutkan dengan memasuki mainstream: menulis untuk media massa, seperti koran atau majalah. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-8373500679810768879?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/8373500679810768879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/menjadikan-blog-sebagai-wahana-berlatih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8373500679810768879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8373500679810768879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/menjadikan-blog-sebagai-wahana-berlatih.html' title='Menjadikan Blog sebagai Wahana Berlatih Menulis'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-6866896503223310398</id><published>2010-11-13T01:43:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T01:43:41.739-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Bencana, Solidaritas, dan Ekonomi Rakyat</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.balairungpress.com/wp-content/uploads/2010/11/2212-ugm-liburkan-perkuliahan-jadi-tempat-pengungsian.jpg" imageanchor="1" linkindex="13" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="208" src="http://www.balairungpress.com/wp-content/uploads/2010/11/2212-ugm-liburkan-perkuliahan-jadi-tempat-pengungsian.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hati terasa sangat sedih saat melihat laporan televisi dan membaca surat kabar yang menayangkan  tentang penderitaan para korban bencana Gunung Merapi. Hati bertambah sedih lagi tatkala menyaksikan gambar-gambar korban gunung Merapi yang berjuang keras mempertahankan hidup dari terjangan wedhus gembel dan material gunung lainnya. Bencana ini demikian dahsyat hingga merenggut nyawa 141 orang korban, dengan rawat inap 435 orang, dan mengungsi 279.702 orang. Ini data per 9 November 2010 yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana  (BNPB).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Solidaritas Sosial&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keadaan yang luluh-lantak oleh terjangan letusan Merapi menyisakan kepahitan hidup pada para korbannya. Ribuan rakyat menderita karenanya. Akan tetapi, di tengah-tengah kesulitan dan keterpurukan itu, ternyata telah terlahir sesuatu yang selama ini mungkin dianggap sudah menyusut, yakni solidaritas sosial. Karena, ternyata banyak sukarelawan yang terjun ke daerah bencana untuk membantu. &lt;span class="fullpost"&gt;Banyak pula para dermawan yang dengan tulus memberikan sumbangan untuk sesama anak bangsa yang terkena bencana. Berbagai bentuk bantuan disumbangkan oleh masyarakat untuk meringankan beban para korban Merapi. Dengan semangat yang tinggi, mereka menyujudkan solidaritas dan empatinya, tanpa merasa perlu  berpidato kesana ke mari untuk mengumumkan  bahwa mereka telah berkontribusi. Tidak pula ada motif-motif politik atau pamrih di balik itu. Mereka ikhlas. Sangat ikhlas. Ini sungguh mengharukan.&lt;br /&gt;Tidak kurang dari media massa yang mempublikasikan bencana tersebut sehingga diketahui banyak orang, di dalam maupun di luar negeri. Media massa, baik cetak maupun elektronik, dengan setia menunaikan tugasnya memberitakan perkembangan terakhir gunung Merapi dan penanganan korban.  Dari  laporan awak media itulah masyarakat luas  mengetahui kondisi terakhir wilayah bencana. Tanpa para jurnalis media, masyarakat yang jauh dari lokasi kejadian tentu akan kesulitan mendapatkan  informasi tentang meletusnya Merapi berikut perkembangan keadaan masyarakat di sekitarnya.  Di sinilah peran media massa demikian besar, penting, dan strategis dalam  melaporkan situasi krisis yang sedang terjadi. &lt;br /&gt;Di samping melalui pemberitaan,  sejumlah media massa juga membuka dompet peduli:  menghimpun dana untuk membantu korban bencana. Beberapa media elektronik dan cetak membuka nomor rekening bank untuk menampung dana masyarakat yang peduli, dan setelah terkumpul lalu disalurkan kepada para korban Merapi. Para dermawan pun berduyun-duyun membantu dengan mengikhlaskan sebagian dari penghasilannya guna meringankan saudara-saudaranya yang tengah ditimpa kemalangan. Ungkapan “dari rakyat, oleh rakyat, dan  untuk rakyat” benar-benar menjadi nyata.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Ekonomi Rakyat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bencana Merapi menimbulkan derita yang tiada tara bagi para korban. Banyak infrastuktur yang hancur, seperti instalasi listrik, air minum, dan jaringan telepon. Ribuan rumah warga mengalami rusak berat sehingga tak mungkin ditempati lagi kecuali dibangun ulang dari awal. Banyak lahan perkebunan dan pertanian yang rusak. Tak kurang pula hewan-hewan peliharaan petani yang mati. Ketika Merapi berhenti memuntahkan wedhus gembel, lava panas,  dan material lain dari perutnya, persolannya belum lagi selesai. &lt;br /&gt;Life must going on. Masyarakat mesti membangun rumahnya kembali. Mereka harus pula mengolah kembali lahan pertaniannya yang telah rusak agar bisa produktif demi menyambung hidup. Ekonomi rakyat harus bangkit dan dibangkitkan. Infrastruktur mesti dibangun kembali oleh pemerintah daerah setempat bersama-sama dengan pemerintah pusat. Kantor-kantor pemerintah yang selama ini sementara terpaksa ditutup, harus diaktifkan lagi. Seluruh pelayanan dan fasilitas publik mesti dibangun lagi. Tentu saja dibutuhkan dana yang besar untuk membangun kembali semua yang kini porak-poranda. Belum lagi memulihkan trauma psikhologis yang ditimbulkannya. Dana recovery tersebut tentu bukan menjadi persoalan yang sangat besar. Asal pemerintah mau pasti mampu melakukan pemulihan dari bencana ini bersama rakyat. Uang rakyat memang seyogianya kembali ke rakyat, bukan dipakai pelesiran ke negeri seberang sementara rakyat menderita  dan membutuhkan bantuan saat ini. &lt;br /&gt;Kita memang seharusnya tak perlu  pesimis. Di balik bencana pasti akan ada hikmah. Tuhan tentu akan menunjukkan jalan terbaik bagi kita untuk menata kembali semua yang kini porak-poranda. Asal kita semua berusaha, asal kita semua tetap semangat untuk bangkit lagi dari kesulitan. Seperti slogan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono : bersama kita bisa! Maka, janganlah  pernah berhenti untuk menjaga dan memelihara solidaritas sosial dan empati yang telah tampak  nyata saat bencana tengah terjadi. Marilah lanjutkan perjuangan untuk beramal dengan membantu saudara-saudara kita yang tertimpa bencana. Semoga kian banyak yang tersentuh hatinya untuk tidak tinggal diam. Ingatlah, saudara-saudara kita masih menunggu uluran tangan kita. Bergegaslah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-6866896503223310398?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/6866896503223310398/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/bencana-solidaritas-dan-ekonomi-rakyat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6866896503223310398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/6866896503223310398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/bencana-solidaritas-dan-ekonomi-rakyat.html' title='Bencana, Solidaritas, dan Ekonomi Rakyat'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-3949606995524614246</id><published>2010-11-13T01:39:00.000-08:00</published><updated>2010-11-13T01:39:52.976-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Anak, Orang Tua, dan Internet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://i148.photobucket.com/albums/s25/kabari/internetsafetyforkids.jpg" imageanchor="1" linkindex="7" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="http://i148.photobucket.com/albums/s25/kabari/internetsafetyforkids.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Deru teknologi informasi dan komunikasi demikian dahsyat. Bagai pesawat, ia melesat cepat membubung ke angkasa menembus langit. Lalu, sebagian dari kita lantas terlibat dalam pemanfaatannya, sebagian lagi hanya duduk terkesima menonton kedahsyatannya. Ada yang cepat dapat merespon kehadirannya, ada pula yang lambat dan menderita gagap. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang paling cepat beradaptasi pada umumnya adalah anak-anak kita, terutama yang berada diperkotaan, komunitas pertama yang terkena sentuhan teknologi.  Mereka cepat bisa memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi,  yang  salah satunya adalah  internet. Di Indonesia, jumlah pengguna internet mencapai 25 juta orang (10,5% dari populasi). Dari jumlah tersebut, pengguna internet paling dominan di Indonesia adalah kalangan remaja (15-19 tahun) sebesar 64%. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Internet memberikan kemudahan dalam banyak hal. Informasi apapun demikian mudah dijangkau seolah-olah berada di ujung jari kita. Lihatlah, hanya dengan memencet tutskeyboardkomputer yang terkoneksi dengan internet, kita dan anak-anak sudah akan dengan segera mendapatkan berbagai informasi yang kita butuhkan. Kalau pada jaman dulu para murid akan memeras otakuntuk menyelesaikan tugas membuat paper dari gurunya, anak-anak kita kini dengan santainya meng-copy-paste konten tertentu di sebuah website lalu disistematisasi sesuai kebutuhan, dan jadilah paper itu. Tak usah ditanya apakah cara itu salah atau benar, kondisi kekinian dan kemudahan kiranya yang mendorong cara-cara seperti itu terjadi. Internet memang sangat banyak memberikan kemudahan: kemudahan mendapatkan informasi dan berkomunikasi (misalnya lewat facebook, dan twitter).&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mengenal Bahaya Internet&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Akses informasi yang kaya tersebut bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, internet merupakan sarana edukasi yang menyenangkan bagi anak. Di sisi lain, internetdapat juga menjadi akses bagi anak untuk mengetahui informasi yang tidak sesuai dengan umur mereka. Belum lagi kemungkinan anak berinteraksi dengan orang asing yang tidak ia kenal yang dapat membahayakan anak kita. Oleh karena itu, orang tua perlu terus meningkatkan pengetahuan mengenai internet sehingga dapat memahami aktivitas yang dilakukan anaknya di internet. &lt;br /&gt;SitusFBI dalam A Parent’s  Guide to Internet Safety, menyebutkan bahwa ada beberapa ciri anak kita berada dalam bahaya dalam kaitannya dengan berinternet :&lt;br /&gt;1. Anak menghabiskan waktu yang lama untuk online terutama malam hari&lt;br /&gt;2. Anda menemukan materi ponografi di komputer  anak.&lt;br /&gt;3. Anak sering menerima  atau melakukan panggilan telepon dari orang yang tidak Anda kenal dan diantaranya sering panggilan jarak jauh.&lt;br /&gt;4. Anak Anda menerima hadiah atau surat dari orang yang tidak Anda kenal.&lt;br /&gt;5. Dengan cepat anak mematikan monitor atau mengganti layar pada saat Anda mendekat&lt;br /&gt;6. Menarik diri dari keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, praktisi internetJudith MS Lubiskepada sebuah media menyatakan, bahwa data pada Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada bulan Februari 2010 menunjukkan ada 7 kasus penculikan dengan kondisi korban sebelumnya berkomunikasi melalui jejaring sosial facebook dengan pelaku. Beberapa kasus yang terkuak ke publik diantaranya kasus Latifah di Jombang, Nova di Tangerang, dan Dewi di Pondok Aren, Tangerang. Kasus terakhir adalah Devie Permatasari, seorang siswi SMP di Kota Bandung, yang dibawa kabur oleh Reno Tofik alias Tofik Hidayat setelah berkenalan di facebook. “Korban-korban itu terjerat karena rayuan pria yang ia kenal di Facebook. Devie, Nova, Latifah, dan yang terbunuh, Dewi, di Pondok Aren, semuanya terkena rayuan pria yang dikenal di facebook,” ujar Judith MS Lubis.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Yang Perlu Diingatkan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sehubungan dengan kasus-kasus di atas, sebagai orang tua, kita perlu mengingatkan anak-anak agar dapat menggunakan internet  secara sehat dan aman. Diantaranya adalah, pertama, jaga kerahasiaan informasi pribadi. Jangan berikan anak untuk mencantumkan informasi yang bersifat pribadi ke dalam facebook atau lainnya. Kedua, waspadai orang yang tak dikenal yang ingin bertemu secara  pribadi. Orang tidak selalu memiliki niat baik. Ini dibuktikan dengan kasus-kasus yang dipaparkan di atas. Dua hal inilah yang paling penting yang seharusnya diberikan kepada anak sebagai rambu-rambu.&lt;br /&gt;Selanjutnya, ketiga, ingatkan anak-anak kita akan waktu. Keasyikan berselancar di internet acapkali membuat mereka lupa waktu. Keempat, ingatkan anak-anak kita dengan biaya ‘ngenet’. Baik di rumah (kalau memakai sistem limited) maupun di luar (warnet), setiap jam adalah uang yang mesti dikeluarkan. Jangan biarkan ia berinternet dengan mencari konten yang tak perlu karena ini akan membuang-buang uang dan waktu.&lt;br /&gt;Kelima, ingatkan dia akan kesehatan. Berinternet terlalu lama, lambat laun dapat mengganggu kesehatan, terutama kesehatan mata. Mata perih dan berair karena lelah menonton layar monitor merupakan salah satu faktor yang mesti dihindari. Keenam, ingatkan anak-anak bahwa ia mempunyai tugas lain yang tak kalah pentingnya. Diantaranya, belajar untuk kepentingan sekolah misalnya membuat ‘PR’, dan belajar mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah. &lt;br /&gt;Menggali informasi itu dari internet memang perlu bagi anak untuk mencapai kemajuan pendidikannya. Tapi, kepadanya harus tetap diberikan rambu-rambu dengan mengingatkannya akan bahayanya dan mendorongnya untuk berinternet sehat dan aman. Orang tua pun perlu meningkatkan pengetahuannya tentang internet. Semoga dengan demikian,  anak-anak kita dapat memetik hasil yang terbaik dari kemajuan teknologi informasi dan komunikasi ini sekaligus terhindar dari bahaya.***&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-3949606995524614246?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/3949606995524614246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/anak-orang-tua-dan-internet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3949606995524614246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/3949606995524614246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/11/anak-orang-tua-dan-internet.html' title='Anak, Orang Tua, dan Internet'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8897577018108516149</id><published>2010-10-25T06:09:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T06:09:50.176-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://tiosijimbo.files.wordpress.com/2010/05/cucitangan2-300x225.jpg" imageanchor="1" linkindex="16" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://tiosijimbo.files.wordpress.com/2010/05/cucitangan2-300x225.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ibu seringkali mengingatkan putra-putrinya  untuk membiasakan mencuci tangan sebelum makan. Demikian seringnya,  sampai-sampai dibuatkan nyanyian, “.... kalau kita makan Dik, cuci tanganmu dulu...”.  Syair lagu itu mengingatkan kita untuk senantiasa mencuci tangan  dengan menggunakan sabun. Usai ke belakang, usai berkebun, usai menceboki bayi, dan usai melakukan aktivitas yang membuat tangan kotor, hendaknya segera dicuci dengan sabun. Demikian juga, ketika hendak mengambil makanan, minuman, dan sebagainya, diperlukan  mencuci tangan dengan sabun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi, dalam praktek, kebiasaan ini belum tumbuh dengan baik. Kalaupun anak mencuci tangannya, masih sekedar membasahi  tangan sebelum ia makan. Hal yang sama acapkali dilakukan pula oleh orang dewasa. Padahal, tidaklah cukup sekedar mencelupkan atau mengguyur bagian telapak dan punggung tangan dengan air. &lt;span class="fullpost"&gt; “Mencuci tangan tidaklah sekedar membasahi tangan dengan air, tetapi harus benar-benar mencucinya dengan sabun, sampai ke sela-sela jari tangan.  Kalau hanya pakai air, bakterinya tak akan hilang,”  ujar dr.Ida Ayu Oka Sulaksmi, rekan saya yang bertugas di sebuah lembaga kesehatan milik pemerintah. “Kini dengan mudah kita menemukan sabun cair yang khusus untuk mencuci tangan (handwashing),” tambahnya. &lt;br /&gt;Mencuci tangan pakai sabun tentu saja banyak manfaatnya. Dintaranya untuk mencegah  si empunya terkena penyakit diare, penyakit kulit,  peradangan pernafasan, dan sebagainya.  Penyakit-penyakit ini banyak disebabkan oleh tidak terjaganya  kebersihan. Oleh karena itu, pola hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu secara terus-menerus dikumandangkan kepada seluruh masyarakat, terutama melalui sekolah-sekolah, mulai dari SD  hingga SLTA. &lt;br /&gt;Bagi masyarakat dunia,  CTPS sebagai perwujudan pola hidup  bersih dan sehat, demikian penting dan strategis.  Penting, karena hal ini berpengaruh langsung maupun tidak langsung terhadap  kesehatan manusia sehingga harus dilaksanakan dengan segera, tanpa ditunda-tunda. Lalu, strategis, lantaran  hal ini menentukan kualitas sumberdaya manusia masa kini dan masa depan. Saking penting dan strategisnya,  maka WHO menjadikan tanggal 15 Oktober sebagai Hari CTPS.&lt;br /&gt;Semoga kita yang mungkin pada awalnya melihat  CTPS  sebagai hal yang sepele atau remeh  menjadi sadar bahwa inilah kunci pertama dalam pembentukan kebiasaan berpola hidup bersih dan sehat. Mulai sekarang, mari kita ajak anak-anak, rekan-rekan, saudara-saudara kita untuk memulai pola hidup bersih dan sehat dengan mencuci tangan menggunakan sabun. Jangan lupa, keteladanan dalam bentuk contoh-contoh nyata dalam praktek keseharian sangat menentukan keberhasilan program ini. &lt;br /&gt;Seperti kata pepatah, kesehatan memang  bukanlah segalanya, tapi tanpa kesehatan, segalanya menjadi tak berarti apa-apa. &lt;br /&gt;Nah, para pembaca, bagaimana pendapat Anda?&lt;br /&gt;economist-suweca.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-8897577018108516149?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/8897577018108516149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/cuci-tangan-pakai-sabun-ctps.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8897577018108516149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/8897577018108516149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/cuci-tangan-pakai-sabun-ctps.html' title='Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS)'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5762658535385520257</id><published>2010-10-25T06:06:00.000-07:00</published><updated>2010-10-25T06:06:55.354-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Membangun Modal Sosial Manusia Bali</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://iperpin.files.wordpress.com/2008/05/socialcapital.jpg" imageanchor="1" linkindex="16" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="197" src="http://iperpin.files.wordpress.com/2008/05/socialcapital.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana, Prof. Dr. Wayan P. Windia menilai, tradisi kehidupan desa adat  atau pekraman di Bali hingga kini tetap kokoh dan eksis sesuai perkembangan zaman, meski hal ini diwarisi jauh sebelum Indonesia merdeka. Sebagaimana dilansir sebuah media, Prof. Windia mengatakan bahwa masing-masing desa pekraman mempunyai adat kebiasaan atau awig-awig untuk mengatur tatanan kehidupan, sesuai situasi dan kondisi obyektif tempat, waktu, dan keadaan atau desa, kala, patra. Meskipun demikian, bukan berarti desa adat di Bali bebas dari masalah, karena berbagai persoalan muncul dari aktivitas keseharian warga desa pekraman. &lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Hanya saja masalah yang muncul lebih sederhana yang dapat diselesaikan secara sederhana pula oleh perangkat pimpinan (prajuru) desa adat, sesuai ketentuan yang telah disepakati bersama, baik secara lisan maupun tulisan. Semua itu didasarkan atas konsep keseimbangan, saling menghargai, dan menghormati satu sama lainnya, bahkan sangat jarang sekali kasus adat penyelesaiaannya melalui jalur hukum.&lt;br /&gt;Didukung Fakta&lt;br /&gt;Kendatipun pada umumnya permasalahan desa adat dapat diselesaikan sebagaimana dipaparkan Prof. Windia, namun kerapkali permasalahan itu menjadi api dalam sekam yang sewaktu-waktu siap membara kembali. Data menunjukkan, kekerasan yang melibatkan orang Bali kini jumlahnya cenderung meningkat. Sejumlah kasus adat yang mencuat ke permukaan mengindikasikan makin kerasnya orang Bali terhadap saudara-saudaranya sendiri dalam menyikapi permasalahan. Perebutan lahan kuburan, pelaba pura, tapal batas, hingga pertikaian karena warisan, tak hanya menimbulkan sengketa perdata, bahkan telah masuk ke jalur pidana. &lt;br /&gt;Konflik adat yang berujung pada kekerasan di Bali tidak hanya mengundang kekhawatiran tokoh-tokoh masyarakat Bali. Trend terjadinya kasus adat di Bali bahkan sempat menjadi perhatian Menteri Dalam Negeri RI. Dalam sambutannya pada HUT ke-49 Pemprov. Bali tahun lalu, Mendagri menilai orang Bali kini cenderung makin mengedepankan kekerasan dalam menyikapi masalah. Ungkapan Mendagri benar-benar didukung fakta! &lt;br /&gt;Di samping kasus adat di atas,  kasus kekerasan dalam rumah tangga di Bali juga cenderung meningkat. Menurut Ida Bagus Alit, Bagian Forensik RSU Pusat Sanglah, sebagaimana dilansir dalam sebuah situs web,  selama 2008 terjadi 164 kasus kekerasan pada perempuan. Namun, pada enam bulan pertama tahun 2009, kasusnya sudah mencapai 78 kasus. Satu hal yang menarik, lanjutnya,  kasus kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2009 jarang yang dilaporkan ke polisi. Dari 63 kasus kekerasan dalam rumah tangga, hanya 44 saja yang berujung laporan pada polisi. Sebagian besar dengan alasan, enggan mendapat persoalan yang lebih besar. Para  korban mengaku baru akan membuat laporan bila telah mengalami kekerasan yang kedua kalinya.&lt;br /&gt;Kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Bali juga mengalami peningkatan, sebagaimana tercatat pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bali. Ketua KPAI Bali, Anak Agung Sri Wahyuni menyampaikan, bahwa  jumlah kasus kekerasan terhadap anak meningkat dari tahun sebelumnya, baik yang berkaitan dengan kekerasan fisik maupun seksual. Selama tahun 2009 tercatat ada 132 kasus kekerasan terhadap anak. Sampai dengan Februari 2010 tercatat tiga kasus yang masuk dan sudah dalam penanganan pihak kepolisian. “Untuk menyikapi trend ini, maka dari keluarga terutama para orang tua dapat menjadi pengawas utama. Sekolah hanya lembaga pendidikan yang sifatnya sebagai penambah pengetahuan dan mengingatkan saja,”  jelas Wahyuni kepada sebuah media. &lt;br /&gt;Jejaring, Kepercayaan, dan Norma&lt;br /&gt;Kasus-kasus kekerasan itu menunjukkan betapa telah terjadi pergeseran nilai-nilai  kehidupan masyarakat Bali. Masyarakat yang di masa lalu yang dikenal santun, ramah, tulus hati dan welas asih,  kini ternyata sudah mengalami perubahan. Hari-hari manusia Bali mulai dihantui oleh ketakutan dan trauma oleh kasus-kasus kekerasan yang sewaktu-waktu mungkin saja akan muncul di sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa  modal sosial manusia Bali sudah bergeser. &lt;br /&gt;Modal sosial yang meliputi jejaring, kepercayaan, dan norma dapat dipelihara dan diperkuat melalui kebijakan publik atau kebijakan pemerintah. Dalam hal  jejaring (network) yang ada di Bali, baik formal maupun informal,  bisa semakin diperkuat melalui kebijakan-kebijakan pemerintah yang mengarah pada penguatan jejaring yang positif dalam masyarakat sekaligus mencegah dan mengatasi problem yang melatarbelakangi munculnya kekerasan tersebut. &lt;br /&gt;Kebijakan publik yang diambil pemerintah hendaknya juga mampu memperkuat solidaritas antarwarga. Jangan sampai jejaring sebagai salah satu aspek modal sosial yang penting ini  malah menjadi bumerang yang merugikan anggotanya sendiri, melainkan dapat berfungsi sebagai alat bagi peningkatan kesejahteraan dan ketentraman hidup bersama. Jangan lupa,  jejaring itu bisa juga mengarah ke negatif apabila tidak digunakan secara benar. Manusia Bali semestinya menyadari hal ini.&lt;br /&gt;Kepercayaan (trust)  antara  pemerintah dengan masyarakat dan antarmasyarakat dapat juga dibangun secara berkesinambungan dengan menampilkan sebuah pemerintahan yang semakin bersih dan kian dipercaya rakyat melalui kebijakan-kebijakan yang prorakyat sekaligus bebas KKN. Kepercayaan tersebut baru akan tumbuh apabila pemerintah benar-benar mengutamakan kepentingan rakyat secara totalitas, bukan kepentingan individu atau kelompok tertentu. Dengan kata lain, kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah adalah yang mengacu pada tumbuhnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan antarmasyarakat. &lt;br /&gt;Demikian pula dengan kebijakan yang diambil yang berbentuk peraturan hukum/ ketentuan perundang-undangan  dan norma-norma (norms) apapun lainnya yang bersifat mengatur dan mengikat, seyogianya bersifat mengayomi, bukannya malah mengekang atau mengibiri kebebasan warga dalam berekspresi. Hendaknya norma hukum ditegakkan dan diberlakukan tanpa pandang bulu sehingga dapat memenuhi rasa keadilan di dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Singkatnya, kebijakan apapun yang diambil oleh pemerintah, hendaklah dilandasi oleh semangat untuk mengedepankan kepentingan rakyat: meningkatkan harkat, martabat, dan  kesejahteraan mereka. Kebijakan apapun yang dilakukan pemerintah seyogianya mengarah pada pengembangan modal sosial yang positif: kepercayaan yang tumbuh semakin kuat, norma-norma yang ditaati bersama, dan jejaring yang terjaga dan bersifat mutualistis. Dengan demikian, semoga kekerasan di Bali bisa dieliminasi, kesejahteraan dan kedamaian dalam kehidupan bersama pun dapat dipelihara dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5762658535385520257?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5762658535385520257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/membangun-modal-sosial-manusia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5762658535385520257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5762658535385520257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/membangun-modal-sosial-manusia.html' title='Membangun Modal Sosial Manusia Bali'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5446295997872738679</id><published>2010-10-18T01:58:00.000-07:00</published><updated>2010-10-18T01:58:56.658-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Tips Memilih Tempat Kuliah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7e/Rektorat_unud.jpg/500px-Rektorat_unud.jpg" imageanchor="1" linkindex="51" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/7/7e/Rektorat_unud.jpg/500px-Rektorat_unud.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Pertengahan tahun depan, siswa yang kini kelas 12 sekolah menengah atas akan menyelesaikan pendidikan menengahnya. Cukup jauh sih, tapi alangkah baiknya kalau dirancang mulai sekarang. Ada yang berpikir untuk bekerja setelah tamat sekolah. Ini dilakukan lantaran keterbatasan dana. Ada juga yang ingin melanjutkan studinya ke jenjang perguruan tinggi. Pertanyaannya adalah hendak kuliah dimana dan mengambil jurusan apa? Dua pertanyaan ini acapkali masih membuat bingung. Nah, untuk mengurangi kebingungan itu, penulis berbagi tips, siapa tahu bermanfaat bagi kalian semua. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertama, pilihlah kampus yang tepat. Ada dua jenis tempat kuliah yang nyaris tampak sama. Yang satu berada di bawah asuhan dan binaan Dirjen Dikti Depdiknas, baik negeri maupun yang  swasta.  Yang lain berada di bawah binaan Departemen Tenaga Kerja. Kalau perguruan tinggi di bawah Dikti, kebanyakan mendidik mahasiswanya untuk menyerap pengetahuan dengan sebagian besar mata kuliah berisi kajian keilmuan. &lt;span class="fullpost"&gt;Kalau yang di bawah Depnaker, sebaliknya:  kuliah seperti ini penekanannya semata-mata pada ketrampilan, hampir sama dengan kursus-kursus yang kita kenal, hanya kadang-kadang diberi merk “diploma satu, diploma dua, dan seterusnya”. Yang mana kalian pilih?&lt;br /&gt;Ada juga sih perguruan tinggi yang mengenakan brand ‘diploma’ di samping S1, S2, dan S3,  tapi tetap di bawah Dirjen Dikti atau Kopertis wilayah setempat.  Apa bedanya ya? Diploma keluaran perguruan tinggi dengan diploma keluaran ‘kursus panjang’ di bawah Depnaker itu tentu ada bedanya, kendatipun secara umum sama-sama memberikan kecakapan teknis di bidang tertentu. Kalau lulus dengan sertifikat diploma dari ‘kursus panjang’ itu, pasti kalian ditolak melamar sebagai PNS, tapi kalau diploma dari sebuah perguruan tinggi pasti diperbolehkan. Asal, ada bukaan formasinya lho.&lt;br /&gt;Kedua, pilih yang terakreditasi. Sistem akreditasi ini dimaksudkan sebagai evaluasi oleh lembaga yang berwenang terhadap perguruan tinggi yang ada, baik negeri maupun swasta. Sebuah tempat kuliah yang sudah terakreditasi, akan memberikan kepastian mengenai kualitas perguruan tinggi tersebut. Jangan terlalu percaya dengan promosi berlebihan di media massa. Tapi, upayakan datang dan cek kebenarannya, pastikan apakah sudah terakreditasi atau belum perguruan tinggi tersebut. Cek di internet, di posisi mana perguruan tinggi yang kalian tuju itu dalam pemeringkatan PT di Indonesia. &lt;br /&gt;Ketiga, pertimbangkan kondisi keuangan. Jangan memilih jurusan yang tak terjangkau oleh isi kantong kalian (baca: orang tua). Kalau dipaksakan, jangan-jangan macet di tengah jalan. Masa studi yang relatif panjang akan membutuhkan biaya yang cukup besar pula. Nah, untuk memperingan biaya, tanyakan apakah ada beasiswanya disitu. Ini penting sekali bagi  kalian yang berkantong tipis. Beasiswa pasti akan membantu meringankan beban orang tua mahasiswa. Konsekuensinya, kalian mesti belajar keras agar dapat meraih beasiswa itu. &lt;br /&gt;Keempat, sesuaikan dengan minat dan bakat. Memilih perguruan tinggi hendaknya perlu disesuaikan dengan minat dan bakat kalian. Jangan sekali-kali memilih jurusan yang tidak disenangi, walaupun disitu besar kemungkinan kalian mendapatkan beasiswa selama studi.  Di samping akan berat saat mengikuti kuliahnya, juga setelah tamat, kalau kalian bekerja sesuai dengan jurusan, tetap saja akan menjadi beban psikhologis sehingga sulit berkembang. Bagaimana meniti karier dengan baik kalau pekerjaan yang ditangani tak sesuai dengan minat dan bakat? Jika kalian memasuki jurusan yang selaras dengan bakat, maka belajar menjadi menyenangkan sehingga memungkinkan mencapai prestasi terbaik,  profesi atau karier pun kelak akan bisa maju lancar. &lt;br /&gt;Bagaimana pendapat kalian?  Selamat memilih.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;economist-suweca.blogspot.com&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5446295997872738679?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5446295997872738679/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/tips-memilih-tempat-kuliah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5446295997872738679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5446295997872738679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/tips-memilih-tempat-kuliah.html' title='Tips Memilih Tempat Kuliah'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-7162824928556841593</id><published>2010-10-18T01:46:00.000-07:00</published><updated>2010-10-18T01:46:36.919-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sosial'/><title type='text'>Perhelatan Pilkada dan Korupsi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a href="http://www.solopos.com/dokumen/2010/05/logo-pilkada1.jpg" imageanchor="1" linkindex="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="211" src="http://www.solopos.com/dokumen/2010/05/logo-pilkada1.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;Argumen yang berkembang belakangan ini menyebutkan bahwa biaya pemilihan kepala daerah (pilkada) yang tinggi ditengarai sebagai faktor yang mendorong para kepala daerah melakukan praktek korupsi saat ia menjabat. Alasan yang paling masuk akal adalah karena biaya yang dikeluarkan pada saat pilkada yang konon berjumlah miliaran rupiah itu, mesti kembali. Benarkah dengan dalih dana awal yang besar itu seorang kepala daerah harus memilih jalan korupsi sebagai ganti atas biaya yang dikeluarkan di awal,  minimal ‘kembali modal’?  Tentu saja hal ini bertentangan dengan upaya menegakkan demokrasi di negeri ini. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dinamika demokrasi telah berlangsung sedemikian rupa. Acapkali demokrasi berada pada titik nadir, saat kehidupan demokrasi dikekang untuk pengukuhan sebuah rezim yang berkuasa. Ada pula saatnya demokrasi mengalami euforia, saat sebagian masyarakat gegap-gempita  menikmati kebebasan sampai-sampai kebablasan sehingga berujung anarkhi. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah telah memberikan peluang yang luas bagi tersalurnya aspirasi masyarakat bawah. Motivasi hidup ke dalam alam demokrasi inilah yang menjadi alasan mengapa pemilihan kepala daerah (pilkada) dilakukan secara langsung oleh rakyat yang memiliki hak pilih. Tentu saja dengan sistem yang demokratis seperti itu diharapkan akan diperoleh kepala daerah pilihan rakyat yang benar-benar kapabel dan merakyat. Rakyat berharap para kepala daerah yang terpilih akan dapat mengabdi demi kepentingan rakyat dus membawa amanat penderitaan rakyat. Harapan itu meliputi banyak bidang, baik di bidang kesehatan, pendidikan maupun di bidang pendapatan masyarakat. Sebuah harapan yang ideal, tapi cukup realistis. Ideal, disebutkan demikian, karena itulah yang menjadi cita-cita masyarakat, yakni membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik. Realistis, disebutkan demikian, karena peningkatan kesejahteran, kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh, bisa menjadi kenyataan. &lt;br /&gt;Bagimana hasilnya? Dalam beberapa kasus, harapan ini telah menjadi kenyataan. Sejumlah kepala daerah berhasil mengangkat derajat rakyat dengan naiknya nilai indeks pembangunan manusia di daerah yang dipimpinnya. Akan tetapi, dalam banyak kasus, ternyata ekspektasi itu berjarak sangat jauh dari kenyataan. Tidak kurang para kepala daerah yang terkena batunya di tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena terbukti secara meyakinkan telah menyalahgunakan kewenangan dengan memperkaya dirinya sendiri. Dari  data yang ada, paling tidak terdapat 16 orang Gubernur, mantan Gubernur, mantan Wakil Gubernur yang telah divonis karena terseret kasus korupsi. &lt;br /&gt;Memperhatikan permasalahan tersebut, penulis mengusulkan tiga  solusi yang barangkali dapat dipakai sebagai masukan saat membenahi aturan pilkada dan prosesnya di masa datang sekaligus mencegah korupsi dengan dalih beban pilkada. Solusi ini hanyalah berupa pemikiran yang sangat sederhana dan masih parsial.&lt;br /&gt;Mengurangi Jumlah Pilkada Langsung&lt;br /&gt;Sebagaimana diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Kepala Daerah, baik Gubernur maupun Bupati/Walikota dipilih langsung oleh rakyat. Tidak lagi dilakukan sistem pemilihan dengan perwakilan yang direpresentasikan oleh DPRD. Konsekuensinya, biaya Pilkada menjadi besar, baik yang ditanggung oleh pemerintah daerah maupun yang ditanggung oleh calon kepala daerah. Belajar dari pengalaman ini, maka ke depan, ada baiknya Gubernur yang tiada lain adalah perpanjangan tangan dan wakil pemerintah pusat di daerah cukup ditunjuk langsung oleh Pemerintah Pusat. Dengan demikian, jumlah pilkada langsung akan berkurang sebanyak jumlah provinsi di Indonesia. Ini selaras dengan semangat efisiensi penggunaan keuangan negara dan masyarakat. &lt;br /&gt;Jika dipandang perlu, bupati/walikota pun jangan lagi dipilih langsung oleh rakyat, melainkan cukup dipilih oleh DPRD sebagai representasi rakyat. Jadi, kembali disesuaikan dengan UU Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya ketentuan yang menyangkut pemilihan kepala daerah. Dengan begitu, untuk menggoalkan niatnya, seorang calon bupati/walikota beserta wakilnya cukup berurusan dengan DPRD. Tidak lagi mesti menyediakan dana yang demikian besar untuk bertarung dalam pilkada. Walaupun  dipilih langsung oleh rakyat toh belum menjamin kualitas Bupati/Walikota terpilih lebih baik daripada dipilih DPRD. &lt;br /&gt;Meningkatkan Kesadaran Politik&lt;br /&gt;Adalah menjadi tugas pemerintah untuk secara terus-menerus membina kesadaran berpolitik masyarakat. Bagaimana berdemokrasi dengan baik, bagaimana pengaruhnya apabila calon kepala yang terpilih tidak berkualitas, dan hal-hal lain yang dipandang perlu untuk meningkatkan mutu pelaksanaan pilkada. Secara berangsur-angsur sikap pragmatis dan primordial perlu dikikis, dengan menjelaskan akibat atau resiko yang bakal terjadi kalau sikap seperti itu dipertahankan. Bahwa sikap pragmatis (yang mementingkan kekinian saja tanpa mempertimbangkan akibatnya di masa datang) dan sikap primordial (yang mengedepankan kesukuan dan tidak rasional) dalam pilkada bertentangan dengan upaya meningkatkan kesadaran berpolitik, juga akan meniscayakan kepala daerah yang terpilih bukanlah yang terbaik. Dengan mengutamakan sikap pragmatis dan primordial, berarti masyarakat sudah menggadaikan nasib daerahnya kepada orang yang belum jelas kualitas dan komitmennya. &lt;br /&gt;Mengutamakan Pencegahan&lt;br /&gt;Menarik sekali apa yang dilakukan oleh Gubernur Kalimantan Tengah, Agustin Teras Narang, sebagaimana dipaparkan sebuah surat kabar nasional. Ia  bersama 13 pemerintah kabupaten/kota serta DPRD se-Kalteng membangun sistem pencegahan untuk menekan terjadinya kasus korupsi, bekerjasama dan membuka kesempatan kepada KPK untuk melakukan pengawasan kapan saja. Dengan sistem pencegahan itu, kesejahteraan rakyat Kalteng meningkat dan indek pembangunan manusia (IPM) daerah ini pun terus membaik.&lt;br /&gt;Sementara itu, Walikota Yogyakarta, Herry Zudianto juga terbilang sukses membangun daerahnya berkat keberhasilannya mencegah penyebaran virus korupsi. Dikatakannya bahwa berapapun biaya atau investasi awal yang diberikan saat pilkada ia berikan dengan keikhlasan, sama sekali tidak diharapkan untuk kembali. Rupanya niat baik sejak awal memang harus dimiliki oleh sang calon kepala daerah untuk mengabdikan diri membangun daerah sekaligus mencegah korupsi. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-7162824928556841593?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/7162824928556841593/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/perhelatan-pilkada-dan-korupsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7162824928556841593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/7162824928556841593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/perhelatan-pilkada-dan-korupsi.html' title='Perhelatan Pilkada dan Korupsi'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-5087662696479036542</id><published>2010-10-08T02:20:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T02:20:42.255-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Intelektual Sejati, Siapakah Dia?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://imt.ift.ciputra.ac.id/wp-content/uploads/2010/07/WISUDA.jpg" imageanchor="1" linkindex="2" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://imt.ift.ciputra.ac.id/wp-content/uploads/2010/07/WISUDA.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya hampir tuntas membaca buku karya Herien Priyono yang berjudul Mind Writing. Ada hal yang menarik yang dikemukakan Herien di dalam bukunya itu, di samping pemikiran utama yang dikemukakannya  seputar  penggalian ide untuk bahan penulisan  dengan menerapkan konsep ‘5W +2H minus otak kritis’. Hal yang saya maksud menarik adalah mengenai pemaknaan interlegos. Dikatakannya,  bahwa interlegos merupakan asal kata dari intelektual. Jadi, interlegos sama saja artinya dengan intelektual. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu, et. al, 1996), intelektual diidentikkan dengan kaum intelek, kaum terpelajar. Sedangkan di dalam Kamus Bahasa Inggeris-Indonesia (John M.Echols, et. al, 1989), intellectual diartikan sama dengan cendekiawan, cerdik pandai. &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga Fondasi Intelektual&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu, siapakah intelektual itu? Di dalam buku Herien tadi dikatakan bahwa interlegos adalah sosok intelek yang memiliki tiga bangunan kuat yang membawahinya sebagai seorang yang cerdas, yakni paham dengan mendalam, prihatin sepenuh hati, dan tergerak ingin memperbaiki. Ditambahkannya, bahwa seorang intelektual atau cendekiawan sejati harus mempunyai ketiga fondasi pokok itu. Berangkat dari ketiga fondasi tersebut, kita akan membahasnya  secara lebih detail dan intens di dalam artikel ini sesuai dengan pandangan penulis sendiri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pertama, paham secara mendalam. Kaum intelektual pada umumnya berpendidikan tinggi. Dengan pendidikannya itu ia memiliki kompetensi akademis pada tingkatan yang cukup untuk memahami persoalan atau masalah yang terjadi di dalam masyarakat. Kalau di sekolah dasar dan menengah, dia dijejali berbagai pengetahuan oleh para gurunya untuk menambah wawasan/pengetahuannya, maka di perguruan tinggi, di samping ditambah ilmunya, ia juga diberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dalam menelaah segala persoalan yang terjadi secara kritis dan mandiri. Ia dilatih untuk menggunakan kecerdasan untuk menganalisa berbagai masalah. Ketajaman pisau critical thinking-nya ditumbuhkembangkan, misalnya bagaimana mendeskripsikan (describe) suatu permasalahan dengan baik, bagaimana menganalisa (analyse), membandingkan (compare), membuat sintesis (synthesise), serta melakukan evaluasi (evaluate) terhadap suatu permasalahan. &lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan yang diperolehnya tidak lagi semata-mata dari bangku kuliah. Ia juga menggali sendiri ilmu itu dari berbagai sumber secara otodidak. Penggalian itu tidak terbatas pada disiplin ilmunya, bahkan lebih luas lagi. Ia menggali ilmu pengetahuan dari berbagai media yang tersedia, seperti buku, majalah, surat kabar, juga internet dan forum diskusi/seminar.  Dia berjuang agar memiliki  jangkauan pemikiran yang luas dengan mengisi ruang pikirannya dengan berbagai pengetahuan yang berguna. Menggali sumur ilmu pengetahuan lebih dalam agar memperoleh air ilmu pengetahuan yang lebih dalam, itulah yang selalu diusahakannya. Juga,  memperlebar sumurnya itu agar ia memahami juga ikhwal perkembangan pengetahuan di luar bidangnya. Dia benar-benar menerapkan konsep belajar seumur hidup seperti acapkali dinasehatkan oleh para bijak. Sang intelektual sejati tak pernah merasa puas untuk mengguyur pikirannya dengan air ilmu pengetahuan terbaru. Tak pernah terpikir olehnya untuk berhenti belajar hanya lantaran tidak menjadi mahasiswa lagi. Terus-menerus mengisi diri adalah prinsip hidupnya. Ia tak mau mandeg, tak mau stagnan. Dengan begitu, dia menjadi paham secara mendalam suatu persoalan di dalam bidangnya, di samping tahu pula perkembangan ilmu pengetahuan di luar bidangnya. Tak hanya menjadi serorang spesialis, ia bahkan juga memiliki ciri-ciri seorang generalis. &lt;br /&gt;Kedua, prihatin sepenuh hati. Seorang intelektual sejati tidak mejadikan dirinya eksklusif dan terangsing dari lingkungannya. Sebaliknya, dia selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. Berbekal kebiasaannya untuk selalu mengasah dan mengisi diri, maka ia mampu melihat persoalan-persoalan pada berbagai aspek kehidupan dengan lebih lengkap dan tajam. Dia mampu mencerap persoalan-persoalannya yang terjadi di masyarakat, misalnya masalah ekonomi, pendidikan, politik, dan hukum, dan sosial lainnya. Jika permasalahan itu menurut penilainnya sedemikian besar dampak negatifnya, maka tumbuh sikap prihatin pada dirinya. Keprihatinan ini mendorongnya untuk menggali lebih dalam lagi permasalahan itu. Tidak cukup dengan melihat fenomena-fenomena yang tampak di permukaan, dia juga melihat akar permasalahannya. Tidak hanya bertanya ‘apa’ yang terjadi, bahkan juga ‘mengapa’ dan ‘bagaimana’  sesuatu permasalahan itu muncul. Keprihatinannya ini muncul terdorong oleh kata hatinya bahwa telah terjadi permasalahan  yang membuatnya prihatin. Sang intelektual mengambil sikap proaktif terhadap permasalahan yang ada sebagai bentuk tanggung jawab sosial (social responbility)-nya  di tengah-tengah masyarakat. &lt;br /&gt;Ketiga, tergerak ingin memperbaiki. Seperti dikemukakan tadi, permasalahan yang terjadi membuat sang intelektual prihatin. Akan tetapi, dia tak berhenti sampai di situ. Iapun tergerak untuk mengambil langkah-langkah untuk mencari solusinya. Mungkin ia perlu bantuan orang lain untuk bersama-sama membenahi suatu kondisi yang membuat dia dan masyarakat  prihatin tadi. Mungkin pula dia memilih untuk berjuang sendiri melalui pemikiran-pemikirannya yang dipresentasikannya dalam berbagai forum atau media. Ia dapat  memilih jalan mana saja. Yang pasti, dia tak mau tinggal diam dalam menyikapi permasalahan yang terjadi. Kepekaan dan rasa tanggung jawab sosialnya benar-benar terjaga dengan baik, dan karenanya ia cepat memberikan repons terhadap permasalahan yang dirasa mengganggu batinnya. &lt;br /&gt;Upaya-upaya memperbaiki keadaan itu tumbuh sama sekali bukan didorong oleh keinginan mendapatkan popularitas atau mendapatkan penghargaan, misalnya. Popularitas atau penghargaan itu, kalaupun nantinya diberikan pihak lain, sama sekali bukan merupakan tujuan. Ia fokus ke arah bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut. Untuk menyelesaikan masalah itu, ia selalu berpikir jauh ke depan, melihat dampaknya di masa datang. Juga, tidak sekadar menyelesaikan masalah dengan menutup asapnya, tapi dengan berupaya memadamkan apinya. Untuk itu,  sang intelektual menuntut dirinya untuk menjadi seorang visioner, orang yang mampu melihat ke depan dengan visi yang jelas.&lt;br /&gt;Masyarakat yang maju, cerdas dan beradab adalah cita-citanya. Di dalam sanubarinya tumbuh dan berkembang kehendak untuk memajukan bangsanya, sekaligus mengupayakan bangsanya dapat keluar  dari berbagai persoalan yang menghadang. Tatkala dia dapat berkontribusi untuk lingkungan, daerah, bangsa, dan/atau negerinya, di situlah kepuasan batin diperolehnya. Sampai di sini mungkin kita tiba-tiba saja terkenang dengan kaum intelektual Indonesia di masa lalu, seperti  Bung Karno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Soedjatmoko, dan beberapa yang lainnya.  Juga, So Hok Gie, sang intelektual yang mati muda itu. Semoga kian banyak calon intelektual sejati yang lahir dari rahim sebuah negeri yang bernama Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-5087662696479036542?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/5087662696479036542/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/intelektual-sejati-siapakah-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5087662696479036542'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/5087662696479036542'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/intelektual-sejati-siapakah-dia.html' title='Intelektual Sejati, Siapakah Dia?'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-4120718266030281642</id><published>2010-10-08T02:08:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T02:08:15.125-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Revitalisasi  Pasar Tradisional</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhmwA-s7I/AAAAAAAAACQ/bFdUtQiSZoE/s1600/pasar-tradisional.jpg" imageanchor="1" linkindex="59" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhmwA-s7I/AAAAAAAAACQ/bFdUtQiSZoE/s320/pasar-tradisional.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar modern yang dicirikan oleh hadirnya mini market, super market, dan hyper market sudah merasuk ke lingkungan masyarakat, tidak hanya di perkotaan bahkan hingga ke pedesaan. Dengan berbagai keunggulannya, pasar modern telah menarik masyarakat pembeli untuk datang ke situ.  Pembeli mulai ada tanda-tanda bakal meninggalkan pasar tradisional. Kalau hal ini dibiarkan terus berlangsung dengan mekanisme pasar bebas, dikhawatirkan pasar tradisional akan kalah bersaing. Bukan tidak mungkin nasibnya akan mirip dengan dinosaurus yang punah lantaran tidak sanggup menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah hal itu terjadi, kiranya diperlukan upaya revitalisasi pasar tradisional. Kalau Pemerintah Kota Denpasar membuat blue print sebagai acuan dalam memperkuat pasar tradisional, sungguh sebuah kebijakan yang patut diapresiasi. Sebagaimana dikatakan oleh Wali Kota Denpasar, I. B. Rai Wijaya Mantra (Bali Post, 28 September 2010, hal. 2), bahwa blue print tersebut diharapkan bisa memperkuat kapasitas pedagang dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan. &lt;br /&gt;Ini sebuah langkah maju dalam menjaga eksistensi pasar tradisional yang notabene adalah masyarakat kelas bawah yang rata-rata bermodal kecil berhadapan dengan kapitalisme.  Revitalisasi ini penting, tak hanya bagi pasar-pasar tradisional di wilayah Denpasar, bahkan juga untuk seluruh pasar tradisional di Bali. &lt;br /&gt;Ekonomi Kerakyatan&lt;br /&gt;Pasar tradisional bersentuhan langsung dengan ekonomi kerakyatan. Ekonomi kerakyatan sendiri dimaknai sebagai sistem ekonomi yang berpihak kepada rakyat. Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan rakyat. Menurut Mubyarto sebagaimana dikutip Prof. Cornelis Rintuh dan Miar, M.S. dalam bukunya  yang berjudul Kelembagaan dan Ekonomi Kerakyatan (2005 : 4), ekonomi kerakyatan mempunyai ciri-ciri: 1. Dilakukan oleh rakyat tanpa modal besar; 2. Dikelola dengan cara-cara swadaya, 3. Bersifat mandiri sebagai ciri khasnya; 4. Tidak ada buruh dan tidak ada majikan, dan 5. Tidak (semata-mata- Red) mengejar keuntungan. &lt;br /&gt;Dalam rangka membangun basis  ekonomi kerakyatan yang antara lain dilaksanakan melalui  revitalisasi pasar tradisional, maka peran serta pemerintah tidak bisa diabaikan. Ekonomi kerakyatan tidak boleh dibiarkan lepas begitu saja kepada kekuatan pasar dengan persaingan bebasnya.  Tetapi, pengambil kebijakan dapat melakukan intervensi secara proporsional sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan rakyat sehingga pasar tradisional menjadi tempat ekonomi kerakyatan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik. &lt;br /&gt;Tiga Faktor yang Perlu Perhatian&lt;br /&gt;Berkenaan dengan merevitalisasi pasar tradisional yang diperuntukkan bagi tumbuh-kembangnya ekonomi kerakyatan, penulis ingin menyumbangkan pemikiran sederhana dengan mengetengahkan beberapa hal yang patut mendapatkan perhatian dari para pedagang pasar tradisional, manajemen pengelola pasar, dan  pemerintah (daerah), dan semua komponen yang terkait lainnya, diantaranya sebagai berikut. &lt;br /&gt;Pertama, sanitasi pasar.  Masih cukup banyak sesungguhnya pasar tradisional di Bali yang kurang memenuhi syarat kelayakan sanitasi. Diantaranya cenderung kotor, bau, becek, kurang penerangan, dan barang dagangan yang kurang tertata dengan apik.  &lt;br /&gt;Untuk menanggulanginya, maka kebiasaan memcampakkan sampah sembarangan harus dihentikan. Tempat sampah hendaknya disiapkan oleh para pedagang di tempatnya berjualan dan benar-benar dimanfaatkan sebagai tempat sampah, dan kemudian setelah penuh, sampahnya dibuang ke dalam  bak sampah besar yang disiapkan pemerintah. Untuk mengurangi bau tak sedap, sebaiknya hindari membuang limbah cucian sembarangan, seperti cucian piring, cucian daging/ikan, dan sebagainya. Kalau air limbah ini bercampur dengan sampah, niscaya akan menimbulkan bau tak sedap. Bagian pasar yang menjadi tempat menjual ayam, bebek dan sejenisnya yang cenderung menimbulkan bau, mestinya lebih memperhatikan lagi aspek kebersihan tempat berjualan dengan secara rutin membersihkan kotoran binatang itu untuk mengurangi bau menyengat ke sekitarnya. &lt;br /&gt;Pasar tradisional yang becek biasanya karena berlantaikan tanah. Ketika turun hujan, air hujan merembes  ke lantai pasar. Ini menimbulkan keadaan lantai yang becek sehingga terkesan kotor. Lantai pasar yang masih tanah tersebut, seyogianya dipaving atau dilantai dengan dasar semen.&lt;br /&gt;Di samping itu, pasar tradisional pada umumnya masih menggunakan penerangan seadanya, sehingga terkesan redup dan kusam, suasana yang tidak menarik orang untuk datang, memilih, dan membeli dagangan pada malam hari. Oleh karena itu, perlu dipasang lampu penerangan yang lebih besar Watt-nya sehingga pembeli lebih gampang melihat-lihat dan memilih barang yang hendak dibelinya sekaligus untuk memberikan kesan cerah/terang (galang-Bahasa Bali) di dalam pasar. &lt;br /&gt;Lorong-lorong yang menjadi area pembeli lalu-lalang pun demikian sempit, sehingga orang agak sulit berpapasan apalagi untuk berhenti sebentar di situ tatkala memilih barang yang hendak dibeli. Untuk mengatasi hal itu,  perlu membenahi penataan barang dagangan agar jalur lalu-lalang pembeli menjadi lebih leluasa.&lt;br /&gt;Lingkungan pasar tradisional pada umumnya juga kurang terawat. Hampir setiap sudutnya ditempati pedagang. Tidak ada space ruang terbuka hijau yang cukup melegakan.  Area yang sempit dan pengap ditambah lagi dengan kondisi yang kotor benar-benar melengkapi kesan ‘tradisional’ itu.  Seakan-akan yang tradisional tersebut harus seperti itu kondisinya. Oleh karenanya, perlu ada areal terbuka yang cukup untuk taman-taman kecil, tempat tumbuhnya tanaman dan pepohonan yang menghijaukan wilayah seputar pasar. Walaupun berisikan setumpuk dagangan tapi kalau ditimpali dengan taman nan asri dan terpelihara, tentu pasar tradisional akan mampu memberi rasa  nyaman kepada pengunjung. &lt;br /&gt;Kedua, perlunya pelayanan yang profesional yang berorientasi pada pembeli. Kalau kita melihat pola pelayanan pasar modern, maka dalam beberapa hal perlu ditiru dan diterapkan di pasar tradisional. Salah satunya, pelayanan ramah yang tulus dari hati, perlu diperhatikan. Para pedagang yang sebagian besar kaum ibu itu pada umumnya sudah sangat menghayati perannya sebagai pedagang. Yang perlu sedikit dipoles adalah aspek pelayanan yang ramah.  Ini penting, sebab masyarakat kita sekarang sudah mulai memperhatikan aspek keramahtamahan pelayanan ini, yang pada umumnya  mereka dapatkan di pasar modern. Nah, jika para pedagang di pasar tradisional tidak meningkatkan keramah-tamahannya yang keluar dari hati yang tulus, maka akan kalah saing dengan pasar modern. Hal-hal yang baik dan berguna untuk kemajuan,  ada baiknya diadopsi. &lt;br /&gt;Ketiga, penetapan harga. Harga di pasar tradisional kadang-kadang lebih tinggi daripada di pasar modern. Walaupun perbedaan harga tersebut tidak terlalu besar, tapi hal ini boleh jadi berpengaruh terhadap minat pembeli. Karena harga di pasar tradisional lebih mahal, mungkin saja mereka akan beralih ke pasar modern. Jika berlangsung terus-menerus, maka hal ini dapat membahayakan eksistensi  pasar tradisional. Di samping sudah kalah bersaing dalam penataan, pelayanan, kebersihan, juga kalah dalam hal persaingan harga. Kasihan sekali pasar tradisional kita. Untuk mengatasinya, diperlukan upaya-upaya komprehensif dan sinergis dari berbagai pihak yang terlibat. Melepas harga ke dalam transaksi dan persaingan pasar bebas kiranya perlu ditinjau kembali. Pemerintah daerah dapat melakukan intervensi dalam upaya mengontrol kenaikan harga dan menjaga stabilitasnya. &lt;br /&gt;Setiap komponen pengelola pasar tradisional seyogianya peduli terhadap perubahan. Pasar tradisional harus maju bersamaan dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat. Tidak boleh puas dengan keadaan yang ada kini, melainkan harus maju terus menata diri dengan dukungan pemerintah dan seluruh komponen yang terkait. Revitalisasi dapat diwujudkan antara lain melalui perbaikan sanitasi, penataan lingkungan nan asri, profesionalisme pelayanan, dan pengontrolan harga pasar agar tak lebih tinggi dibanding pasar modern.  &lt;br /&gt;Semoga dengan implementasi pemikiran sederhana ini, pasar tradisional dapat memperlihatkan daya tarik terbaiknya kepada masyarakat pembeli, sekaligus menjadi bagian dari budaya bisnis masyarakat Bali yang dapat dibanggakan. Dan, tidak perlu senasib dengan dinosaurus!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-4120718266030281642?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/4120718266030281642/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/revitalisasi-pasar-tradisional.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4120718266030281642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/4120718266030281642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/revitalisasi-pasar-tradisional.html' title='Revitalisasi  Pasar Tradisional'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_IqJUg8pTPmQ/S_zhmwA-s7I/AAAAAAAAACQ/bFdUtQiSZoE/s72-c/pasar-tradisional.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-753745480923214858</id><published>2010-10-08T02:02:00.000-07:00</published><updated>2010-10-08T02:03:00.868-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Serial Minum Teh'/><title type='text'>Tips Memilih Seminar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_OwmfRQOCoD8/TGJ_5dFcgYI/AAAAAAAAACc/DiYm_sAplPk/s1600/seminar.jpg" imageanchor="1" linkindex="16" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_OwmfRQOCoD8/TGJ_5dFcgYI/AAAAAAAAACc/DiYm_sAplPk/s320/seminar.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Tawaran seminar belakangan ini cukup marak. Media massa, terutama media cetak, seringkali mempublikasikan tentang adanya penyelenggaran seminar.  Berbagai ragam topiknya, seperti manajemen, keuangan, kunci sukses, dan spiritual. Foto para pembicaranya pun diperlihatkan  dalam publikasi/iklan itu sebagai salah satu daya  tarik. Ongkos yang harus dikeluarkan pun bervariasi, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah.&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Lantas, bagaimana memilih seminar yang akan diikuti? Berikut beberapa tips sederhana yang bisa Anda jadikan pertimbangan sebelum memutuskan mengikuti atau tidak mengikuti suatu seminar. &lt;br /&gt;Pertama, perhatikan waktu Anda.  Punyakah Anda waktu luang untuk mengikuti seminar tersebut? Mungkin Anda harus mengatur kembali waktu kerja Anda sehingga tidak berbenturan dengan acara seminar yang akan Anda ikuti. Yang penting, jangan pernah mengorbankan pekerjaan atau tugas yang menjadi prioritas. &lt;br /&gt;Kedua, ketahui siapa pembicaranya. Dengan bekal informasi yang mungkin sudah Anda miliki sebelumnya, dengan segera Anda dapat memastikan apakah sang pembicara dalam seminar itu benar-benar kompeten atau tidak di bidangnya. Kalau Anda sama sekali tidak punya informasi tentangnya, cobalah bertanya kepada orang lain yang kira-kira mengetahuinya atau gali informasi dari internet. Acapkali seorang pembicara yang punya nama adalah juga seorang penulis buku. Dengan mengetahui bukunya, berarti Anda sudah memiliki referensi positif tentangnya. &lt;br /&gt;Ketiga, perhitungkan cost bakal Anda keluarkan. Pada umumnya pembicara yang memiliki kompetensi tinggi dan terkenal, cenderung memasang tarif tinggi. Untuk menentukan pilihan, hitung dulu  kemampuan kantong Anda. Jangan pernah  memaksakan diri. &lt;br /&gt;Keempat, relevansinya dengan pekerjaan dan minat Anda. Apakah seminar tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda? Pertimbangkan relevansi topik atau isi yang dibicarakan dalam seminar dengan pekerjaan, minat, atau hobi Anda. Kalau relevan, pertimbangkan untuk mengikutinya. Jika tidak, say good bye saja. &lt;br /&gt;Nah, pembaca yang budiman, bagaimana pendapat Anda?&lt;br /&gt;economist-suweca.blogspot.com&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6821598485294027816-753745480923214858?l=economist-suweca.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://economist-suweca.blogspot.com/feeds/753745480923214858/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/tips-memilih-seminar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/753745480923214858'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6821598485294027816/posts/default/753745480923214858'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://economist-suweca.blogspot.com/2010/10/tips-memilih-seminar.html' title='Tips Memilih Seminar'/><author><name>Ekonomist</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16333196613142285447</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='21' src='http://1.bp.blogspot.com/_-9FhTOhjHVI/S_dXae6267I/AAAAAAAAAAM/txE6tOwnrR0/S220/DSC01909.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_OwmfRQOCoD8/TGJ_5dFcgYI/AAAAAAAAACc/DiYm_sAplPk/s72-c/seminar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6821598485294027816.post-8555280312400308827</id><published>2010-09-21T01:39:00.000-07:00</published><updated>2010-09-21T01:39:06.233-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ekonomi'/><title type='text'>Bali “Clean and Green” dan Pembangunan Berkelanjutan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Oleh I Ketut Suweca&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_-BcB7dkHb5k/Sv4UtNH2DCI/AAAAAAAAAB4/-qt4sJmh_2k/s1600/panorama-in-bali-3.jpg" imageanchor="1" linkindex="15" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_-BcB7dkHb5k/Sv4UtNH2DCI/AAAAAAAAAB4/-qt4sJmh_2k/s320/panorama-in-bali-3.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gema gerakan Bali Clean and Green sudah mulai bergaung. Masyarakat sebagaian besar telah mengetahui hal ini melalui media massa. Tetapi gaung itu baru sebatas tahapan informasi/pengetahuan, belum banyak direspons ke tingkat implementasi. Oleh karena itu, sosialisasi gerakan ini yang disertai dengan contoh-contoh implementasi konkret di lapangan sangat dibutuhkan. Ini penting dalam rangka menggugah semua komponen masyarakat berperan aktif, misalnya dimulai dengan menanam sebuah pohon di pekarangan rumah masing-masing. Ajakan dan gerakan-gerakan real menjadi perlu agar kebijakan yang baik ini dapat bergulir dan sungguh-sungguh dilaksanakan oleh masyarakat Bali secara bahu-membahu dan berkesinambungan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan menuju Bali Clean dan Green  benar-benar gagasan visioner dan penting, mengingat kini pembangunan di Bali sudah banyak sekali menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan,&lt;span class="fullpost"&gt;  seperti problema penanganan sampah, eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, polusi udara yang menyesakkan, dan masih banyak lagi permasalahan di seputar kebersihan dan lingkungan. Tanpa kesungguhan untuk mengiplementasikan kebijakan itu melalui gerakan bersama, maka tak pelak lagi, Bali bukan tidak mungkin akan menjadi wilayah yang bopeng dan kumuh. Kalau sudah demikian, apa yang dapat kita banggakan lagi tentang Bali di masa datang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerakan Bali Clean&lt;br /&gt;Seperti dipaparkan di atas, Bali sudah kotor di sana-sininya. Perhatikanlah di beberapa sudut  kota-kota di Bali. Masuklah ke gang-gang atau lorong-lorong kecil. Atau, lihatlah di beberapa titik di pinggiran kota, seperti Denpasar. Di situ tak sulit bagi pembaca untuk menemukan pemukiman-pemukiman kumuh yang kebanyakan dihuni oleh para pendatang. Bedeng-bedeng berderet-deret. Sampah berserakan. Bau menyengat menusuk hidung. Sanitasi benar-benar tak diperhatikan. &lt;br /&gt;Dipahami bahwa permasalahan kebersihan lingkungan ini demikian kompleks. Kepadatan penduduk dengan kehadiran penduduk pendatang  di samping memacu laju pertumbuhan perekonomian Bali, juga menyisakan problem kependudukan dan persoalan sanitasi dan tata ruang. Karena kebanyakan para pendatang tak cukup bekal untuk membeli rumah yang layak huni tetapi  ingin menetap di Bali untuk nyambut gawe, akhirnya sebagaian dari mereka memilih tinggal di ‘rumah’ yang dibuat sekadarnya dengan menyewa tanah yang dimiliki penduduk asli. Menyedihkan sekali melihat Bali seperti ini. Di permukaan tampak asri dan apik, di belakang ternyata sudah mulai terdapat bagian-bagian yang kumuh dan kotor. Di sinilah gerakan Bali Clean menjadi sangat relevan dilaksanakan. &lt;br /&gt;Gerakan Bali Green&lt;br /&gt;Seperti halnya kebersihan, aspek kehijauan juga perlu mendapatkan perhatian. Bali yang hijau tentu bukan karena di-cat hijau, melainkan lantaran Bali yang memelihara alamnya yang masih pure and natural sehingga tampak hijau. Penghijauan lingkungan sangat diperlukan, di samping karena alasan menjaga keindahan pemandangan alam yang dapat dinikmati oleh manusia Bali atau wisatawan, juga agar Bali menjadi lebih sehat dalam kualitas hidup manusia dan alamnya. Penanaman satu orang satu pohon kiranya ide yang sangat bagus. Kalau ini dilakukan secara berkesinambungan, niscaya Bali akan benar-benar menjadi Pulau Seribu Pura nan hijau. Udaranya bersih dan menyegarkan bagi semua orang yang menghirupnya. &lt;br /&gt;Salah satu upaya menuju Bali Green adalah dengan memperhatikan pertaniannya.  Sektor pertanian yang terjaga adalah salah satu cara untuk memelihara Bali agar senantiasa hijau. Pertanian sudah terbukti mampu menghidupkan para petani  Bali. Dari pertanian dalam arti luas, dihasilk
